Duduk Perkara Kasus Epstein dan Nama-nama besar dalam Berkas Epstein
kumparanNEWS February 03, 2026 09:57 AM
Jeffrey Epstein dituduh mengeksploitasi anak muda -- bahkan anak di bawah umur, menggunakan rumah-rumah mewah, dan pesawat pribadi yang dikenal sebagai "Lolita Express" untuk menggelar pesta seks.
Salah satu korban Epstein yang paling vokal adalah Virginia Giuffre. Dia mengaku mengalami grooming dan dilecehkan oleh Epstein saat usia remaja.
Dalam pengakuannya, dia mengatakan bertemu dengan Maxwell ketika bekerja sebagai asisten ruang loker di resor Mar-a-Lago milik Trump di Florida. Maxwell kemudian menawarkannya pekerjaan sebagai terapis untuk Epstein. Giuffre menduga dijual ke Epstein dan kliennya.
"Saya dioper layaknya piring buah," kata Giuffre.
Sementara Epstein meninggal di sel penjara pada 10 Agustus 2019 saat akan menjalani persidangan atas tuduhan perdagangan seks. Menurut pemeriksaan resmi, penyebab kematiannya adalah bunuh diri.
Kasus ini menyeret sejumlah nama besar. Bahkan kepala negara. Salah satunya Donald Trump.
AS Rilis Jutaan Lembar Dokumen Epstein, Nama Trump hingga Elon Musk Muncul
Kementerian Kehakiman Amerika Serikat (AS) pada Jumat (30/1) waktu setempat merilis jutaan lembar dokumen terkait terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Sejumlah nama populer seperti Donald Trump hingga Elon Musk muncul dalam dokumen tersebut.
Total dokumen yang dirilis mencakup lebih dari 3 juta halaman, 2.000 video, dan 180.000 gambar.
Dokumen itu memperlihatkan betapa luasnya jaringan Epstein, yang meninggal dunia karena bunuh diri di sel pada 2019. Tokoh politik, pebisnis, hingga figur hiburan disebut berteman dekat dengan Epstein.
Epstein adalah seorang pemodal (financier) asal Amerika Serikat keturunan Yahudi yang dikenal luas sebagai pelaku pedofilia.
Dalam dokumen tersebut, Elon Musk disebut pernah menanyakan soal sebuah pesta kepada Epstein. Namun, Musk dalam sebuah pernyataan membantah pernah hadir dalam pesta yang digelar Epstein.
Nama lain yang terungkap adalah Kevin Warsh. Pria yang dinominasikan Trump sebagai pimpinan Federal Reserve (The Fed) itu disebut pernah diundang Epstein ke sebuah pesta Natal.
Kevin Warsh. Foto: Ann Saphir/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Kevin Warsh. Foto: Ann Saphir/REUTERS
Tidak jelas apakah Warsh menghadiri pesta tersebut atau tidak.
Nama lainnya yang muncul ialah mantan Presiden AS Bill Clinton dan mantan Menteri Keuangan Larry Summers. Publikasi terbaru ini kembali menyoroti kedekatan mereka dengan Epstein.
Baik Clinton maupun Summers telah membantah melakukan pelanggaran terkait Epstein. Keduanya juga menyatakan penyesalan atas kedekatan tersebut.
Nama terkenal lainnya yang muncul di dokumen Epstein adalah pendiri Microsoft, Bill Gates. Mengutip Anadolu, dokumen Epstein mengindikasikan bahwa Gates tertular penyakit menular seksual (PMS) dari 'gadis-gadis Rusia' saat berkunjung ke pulau pribadinya, Little Saint James.
Berkas-berkas itu menyebutkan bahwa miliarder teknologi tersebut diduga mencari antibiotik tanpa sepengetahuan istrinya setelah insiden tersebut, menurut draf email yang ditulis oleh Epstein.
Jubir Gates menyangkal isi dokumen itu dengan mengatakan "sepenuhnya absurd dan sangat tidak benar."
Dalam dokumen terbaru itu, nama Pangeran Andrew kembali muncul. Dokumen tersebut mengungkap lebih banyak detail mengenai kehadirannya di "pesta-pesta" Epstein.
Nama Trump
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan di The Kennedy Center pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Foto: Samuel Corum/Getty Images/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan di The Kennedy Center pada 29 Januari 2026 di Washington, DC. Foto: Samuel Corum/Getty Images/AFP
Ratusan dokumen yang dirilis turut menyebut nama Trump. Meski demikian, sebagian besar di antaranya hanya berupa kumpulan laporan media.
Salah satu dokumen berisi email internal penyelidik federal terkait tuduhan yang melibatkan Trump dan Epstein. Namun, email tersebut tidak menyebut adanya klaim kejahatan yang terbukti, dan beberapa tuduhan dinilai tidak kredibel.
Trump kembali menegaskan bahwa ia tidak mengetahui kejahatan Epstein, demikian dikutip dari AFP.
Pengusaha Elon Musk berbincang dengan Donald Trump saat pemberian plakat kunci gedung putih di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (30/5/2025). Foto: Nathan Howard/Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Pengusaha Elon Musk berbincang dengan Donald Trump saat pemberian plakat kunci gedung putih di Ruang Oval Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (30/5/2025). Foto: Nathan Howard/Reuters
Pengungkapan dokumen Epstein merupakan salah satu janji kampanye Trump, meski ia sempat menunda perilisannya. Kementerian Kehakiman menegaskan sebagian besar dokumen memuat klaim yang tidak benar dan sensasional terhadap Trump.
Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menekankan bahwa rilis kali ini merupakan tahap akhir publikasi dokumen Epstein oleh pemerintahan Trump.
Skandal Epstein Seret Putri Mahkota Norwegia Jelang Sidang Anaknya
Putri Mahkota Norwegia Putri Mette-Marit. Foto: Odd Andersen/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Putri Mahkota Norwegia Putri Mette-Marit. Foto: Odd Andersen/AFP
Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit mengakui hubungannya dengan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein sebagai "hal memalukan" setelah dokumen terbaru kasus Epstein dirilis otoritas Amerika Serikat (AS) pada Jumat (30/1).
Nama Mette-Marit muncul lebih dari 1.000 kali dalam jutaan berkas tersebut, tepat menjelang sidang kasus pemerkosaan yang menjerat putranya di Oslo.
Dokumen Departemen Kehakiman AS mengungkap korespondensi antara Mette-Marit dan Epstein pada 2011–2014. Sejumlah email yang dipublikasikan media Norwegia memperlihatkan komunikasi bernada personal.
Dalam salah satu pesan yang dibagikan AFP, Mette-Marit bertanya apakah "tidak pantas bagi seorang ibu menyarankan dua perempuan telanjang membawa papan selancar sebagai wallpaper" untuk anak laki-lakinya yang saat itu berusia 15 tahun.
Dalam email lain, ia menyebut Epstein sebagai sosok yang "sangat menawan".
Saat Epstein menulis pada 2012 bahwa dirinya berada di Paris untuk "mencari istri", Mette-Marit menyebut bahwa perempuan dari negaranya atau wilayahnya (Skandinavia) lebih lebih berkualitas untuk dinikahi dibandingkan perempuan di Paris.
Mette-Marit menulis bahwa kota itu (Paris) "bagus untuk perselingkuhan" dan menambahkan bahwa "orang Skandinavia adalah material istri yang lebih baik".
Dokumen juga menunjukkan Mette-Marit sempat menginap selama empat hari di rumah Epstein di Florida pada 2013 meski Epstein telah mengaku bersalah pada 2008 dalam kasus meminta jasa prostitusi anak di bawah umur.
Pada Sabtu (31/1), Mette-Marit menyampaikan permintaan maaf terbuka.
“Saya menunjukkan penilaian yang buruk dan sangat menyesal pernah memiliki kontak apa pun dengan Epstein. Ini sungguh memalukan,” ujarnya dalam pernyataan resmi istana seperti dikutip dari AFP.
Ia mengakui tidak cukup cermat menelusuri latar belakang Epstein. Namun, sebuah email pada 2011 menunjukkan Mette-Marit sempat menulis bahwa ia telah “meng-google” Epstein dan hasilnya “tidak terlihat terlalu bagus”, meski ia tidak menjelaskan lebih lanjut maksudnya.
Menurut pihak istana, Mette-Marit memutus kontak dengan Epstein pada 2014 karena merasa sang pemodal berusaha memanfaatkan hubungannya dengan putri mahkota untuk mempengaruhi pihak lain.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.