TRIBUNNEWS.COM - Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc. Ph.D memaparkan pengamatannya mengenai fenomena lubang raksasa yang ada di Jalan Buter, Desa Pondok Balik, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh.
Menurut Dwikorita, lubang raksasa ini berbeda dengan sinkhole, yang dalam bahasa Indonesia disebut lubang amblas dan terbentuk akibat runtuhnya atau terkikisnya lapisan batuan di bawah yang digunakan untuk menyangga material di permukaan, sebagaimana dijelaskan di laman British Geological Survey.
Kata Dwikorita, fenomena lubang raksasa di Aceh Tengah lebih memanjang dan tidak sedalam Sinkhole yang kedalamannya bisa mencapai 100 meter atau lebih.
Di Pulau Sumatra, fenomena Sinkhole sendiri juga muncul pada awal 2026 lalu di tengah hamparan sawah sekitar lereng Gunung Sago, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
Dwikorita yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2017-2025 ini menilai, lubang raksasa di Aceh berbeda dari sinkhole di Sumatra Barat.
"Kalau saya melihat dari video dan foto-foto gambar itu, ini nampaknya agak berbeda dengan Sinkhole yang pernah ditemukan di Sumatera Barat dan di beberapa wilayah lainnya," tutur Dwikorita, dalam program Sapa Indonesia Pagi di KompasTV, Selasa (3/2/2026).
"Ini kan memanjang, jadi memang dalam, tapi dalamnya hanya sekitar 20, atau 30 meter, tidak sedalam Sinkhole yang merupakan corong mulut masuknya sungai bawah tanah."
Dwikorita menjelaskan, lubang raksasa di Aceh Tengah mirip seperti mahkota longsoran, di mana terjadi erosi yang memanjang dan mengarah ke jalan.
Kata dia, longsor terjadi karena kohesi (keterikatan antarunsur) dalam material tebing sangat lemah. Sehingga, dikhawatirkan lubang raksasa itu nanti semakin meluas dan memotong jalan yang ada di dekatnya.
"Ini seperti mahkota longsoran. Longsoran pada tanah pasir, saya lihat itu tanahnya seperti pasir dan/atau batu pasir yang lapuk. Ini kan memanjang, kayak lembah, alur sungai." ujar Dwikorita.
"Jadi, ini ada semacam erosi, menggogos ke arah mahkota, ke arah hulu. Nampaknya, jalan itu sebentar lagi bisa terpotong."
Baca juga: Pemilik Sawah di Sumbar Khawatir Makin Naiknya Debit Air di Lubang Sinkhole Bikin Sawah Tergenang
"Itu runtuh terus karena kohesi material tebingnya sangat lemah, seperti pelapukan batu pasir, atau bahkan sudah menjadi tanah pasir."
"Kalau Sinkhole itu ke arah vertikal, ke arah dalam, masuk ke sungai bawah tanah pada kedalaman bisa mencapai 100 meter lebih. Kalau ini tidak sampai 100 meter, ini hanya puluhan meter."
"Sehingga, fenomenanya ini adalah semacam gerakan tanah, longsor tebing."
Menurut akademisi kelahiran Yogyakarta, 6 Juni 1964 ini, longsor kemungkinan dipicu oleh adanya getaran gempa atau getaran yang timbul dari kendaraan/alat berat yang melintas di jalan sekitar lubang raksasa tersebut.
"Kenapa longsor terus-menerus? Karena barangkali pernah ada getaran gempa di sekitarnya. Coba nanti dicek datanya," kata Dwikorita.
"Dugaan saya pernah ada getaran gempa. meskipun tidak dirasakan oleh manusia tapi seismograf mencatat, dan tanah ini kohesinya sangat lemah sehingga mudah runtuh."
"Dan jalan itu apakah sebelumnya ramai, sering dilewati? Jadi, ada getaran-getaran kendaraan atau mungkin ada alat berat. Meskipun tidak ada hujan, tapi getaran-getaran pada lereng itu bisa mengakibatkan longsor itu terjadi."
Ukuran lubang raksasa di Aceh Tengah ini diketahui semakin membesar hanya dalam waktu kurang dari lima tahun.
Kepala Bidang Geologi dan Air Tanah Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Aceh, Ikhlas mengatakan, berdasarkan penelusuran tahun 2021, luas lubang di area itu hanya 7.000 meter persegi.
Namun, luasnya semakin besar dan saat ini sudah mencapai 30.000 meter persegi.
“Kemudian pada tahun 2022, kami pantau sudah mencapai 28.000, sekarang sudah di atas 30.000 meter persegi,” kata Ikhlas dikutip dari Kompas.com.
Bahkan, selama sepekan terakhir, longsor telah memakan badan jalan raya dan menghilangkan sebagian areal perkebunan warga, serta mengancam sejumlah rumah penduduk.
Ikhlas juga menjelaskan, secara geologi wilayah Aceh Tengah didominasi batuan vulkanik berupa tufa dan aliran piloklastik yang dikenal sebagai formasi Geureudong.
Formasi ini berasal dari material gunung api Geureudong yang telah tidak aktif jutaan tahun lalu.
Material tersebut bersifat lepas dan mudah menyerap air, terlebih ketika hujan turun, tanah menjadi jenuh air yang berujung penambahan beban pada lereng yang sudah curam dan tererosi.
Lebih lanjut Ikhlas menambahkan, hujan lebat yang terjadi saat Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025 turut mempercepat pergerakan longsoran tanah.
Untuk mencegah meluasnya longsoran, Ikhlas menyarankan penguatan secara struktur maupun secara non-struktural seperti memperkuat tebing, program penamaman, ataupun merubah jalur drainase.
Imbas pergerakan tanah pada lubang raksasa ini, kini dibuatkan jalan alternatif di sisi kanan jalan lantaran jalan utama tak bisa dialui lagi.
Sementara itu, PLN telah melakukan pengerjaan pembongkaran tower SUTET sejak Sabtu (31/1/2026).
Tower SUTET berkapasitas 150 kilovolt tersebut dipindahkan kurang lebih 150 meter dari lokasi rawan bencana agar sistem kelistrikan serta pasokan listrik tetap aman.
Hal ini pun berdampak pada pemadaman listrik sementara demi keselamatan pekerjaan dan masyarakat.
Saat ini pemerintah daerah masih melakukan pemantauan intensif sembari menunggu langkah lanjutan dari instansi terkait.
(Tribunnews.com/Rizki A.) (Tribungayo.com/Alga Mahate Ara)(Kompas.com)