TRIBUNTRENDS.COM - Kota Solo tak pernah kehabisan cara untuk memikat hati para pelancong, terutama saat energi Ramadhan mulai terasa.
Di balik hiruk-pikuk Terminal Tirtonadi, tersembunyi sebuah permata arsitektur yang kini tengah menjadi buah bibir, Masjid Saminah Sihyadi.
Dikenal luas dengan sebutan Masjid Buah Salak karena bentuknya yang unik, tempat ini bukan sekadar rumah ibadah, melainkan sebuah harmoni antara desain modern dan pesan filosofis tentang bakti seorang anak.
Bagi Anda yang sedang berada di Solo, menghabiskan waktu menunggu berbuka (ngabuburit) di sini adalah pilihan yang sempurna.
Berikut adalah panduan perjalanan (itinerary) lengkap bagi Anda yang ingin merasakan kedamaian di Masjid Saminah Sihyadi dengan biaya yang sangat terjangkau.
Baca juga: Menyisir Kehangatan Solo: 5 Destinasi Kuliner Malam Paling Ikonik di Sekitar Alun-Alun Utara
Begitu tiba di Jalan Tirtonadi Nomor 9, Gilingan, Anda akan langsung disambut oleh pemandangan yang tidak biasa.
Bangunan masjid ini tidak memiliki kubah konvensional, melainkan fasad yang bersisik menyerupai kulit buah salak.
Bentuk sirip-sirip pada bagian depan masjid ini ternyata punya fungsi ganda.
Selain estetika yang memanjakan mata, desain ini memungkinkan sirkulasi udara alami tetap lancar dan menghalau tempias hujan, sehingga area dalam tetap terasa sejuk meski tanpa pendingin ruangan (AC).
Tiket Masuk: Gratis
Estimasi Transportasi (Ojek/Angkot): Rp10.000 – Rp20.000
Langkah kaki Anda akan dibawa menuju area luar yang dikelilingi kolam buatan.
Ikan-ikan kecil yang berenang di sana menambah nuansa teduh yang menenangkan.
Uniknya, tersedia pijakan persegi yang membuat pengunjung seolah-olah sedang berjalan di atas air dengan aman.
Kehadiran pohon pule yang rindang di sudut kolam menjadikannya spot foto yang sangat aesthetic sekaligus tempat duduk santai yang nyaman.
Baca juga: Toleransi Wisata Imlek 2026 di Solo, 5000 Lampion Hiasi Pasar Gede, Ada Hiasan Masjid Sambut Ramadan
Masuk ke bagian dalam, atmosfer masjid terasa begitu hangat.
Desain semi-outdoor memastikan cahaya matahari masuk dengan lembut. Di sini, pengunjung dapat menemukan:
Kaligrafi Surah An-Nisa yang menekankan pentingnya berbakti kepada orang tua.
Fasilitas Al-Qur’an dan buku keislaman yang tertata rapi.
Perlengkapan salat (sajadah dan sarung) yang disediakan secara cuma-cuma.
Menariknya, masjid ini juga sangat inklusif karena dirancang ramah bagi rekan-rekan difabel dengan akses ramp yang memadai.
Sembari menunggu waktu Maghrib, luangkan waktu untuk melihat ke langit-langit ruang utama.
Anda akan terpukau dengan susunan 436 titik lampu yang membentuk lafaz Allah sebuah angka yang merujuk pada ayat Al-Qur’an yang menginspirasi pembangunan masjid ini.
Secara filosofis, penggunaan material kayu di ruang utama merepresentasikan kehangatan sosok ayah, sementara lekukan bangunan di depan melambangkan kelembutan hati seorang ibu.
Ini adalah simbol nyata dari bakti seorang anak kepada orang tuanya.
Menjelang berbuka, teras masjid menjadi tempat berkumpul yang hangat.
Pengelola menyediakan air minum gratis bagi jamaah yang ingin membatalkan puasa.
Suasana tenang dan penuh kekeluargaan di sini akan membuat pengalaman ngabuburit Anda di Solo terasa berbeda dari biasanya.
Baca juga: Jelajah Solo Safari, Sensasi Makan Bareng Singa hingga Panduan Lengkap Liburan Keluarga di Februari
Disclaimer: Harga di atas dapat berubah sewaktu-waktu tergantung jarak tempuh dan kebutuhan pribadi.