Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli
TRIBUNPALU.COM, PALU – Sedikitnya 17 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan terjadi di Kabupaten Parigi Moutong sejak awal Januari hingga 1 Februari 2026.
Kebakaran tersebut menyebar di tujuh kecamatan, yakni Tinombo, Parigi Barat, Parigi Tengah, Parigi Utara, Parigi Selatan, Sidoan, dan Pangi, dengan total luasan terdampak diperkirakan mencapai puluhan hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Asbudianto, mengatakan sebagian besar titik kebakaran masih berskala kecil dan belum melampaui batas kewenangan penanganan pemerintah provinsi.
Baca juga: DWP Sigi Perkuat Sinergi dengan Kominfo, Dorong Publikasi Kegiatan yang Lebih Informatif
“Karhutla di Parigi Moutong ada terjadi di beberapa titik, hanya spot-nya tidak terlalu luas dan masih di bawah kewenangan BPBD Parigi Moutong,” ujar Asbudianto, saat ditemui di Kantor BPBD Sulteng, Kelurahan Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Selasa (3/2/2026).
Meski demikian, BPBD Sulteng tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Atas arahan Gubernur Sulawesi Tengah, satu unit mobil tangki air telah dikirim dan disiagakan di Parigi Moutong untuk membantu proses pemadaman bersama BPBD kabupaten.
“Kewenangan kami itu ketika sudah mencapai lima hektare. Tapi kami sudah siap siaga dengan mengirim satu unit mobil tangki air untuk membantu mobil pemadam di sana,” jelasnya.
Berdasarkan laporan lapangan, sejumlah titik kebakaran bahkan terjadi berulang di beberapa desa, seperti Baliara di Kecamatan Parigi Barat, serta Bambalemo, Bondoyong, Jononunu, Binangga, Dolago Padang, hingga Jonokalora. Kejadian terbaru juga tercatat di wilayah Avolua.
Salah satu peristiwa yang cukup menonjol terjadi di Desa Ambason Mekar, Kecamatan Tinombo, pada 18 Januari 2026, ketika api yang berasal dari kawasan pegunungan sempat mendekati permukiman warga.
Baca juga: Penyebab Boiyen Gugat Cerai Rully Anggi Akbar, Kuasa Hukum Singgung Kasus Dugaan Penipuan
Asbudianto menjelaskan, penyebab kebakaran berasal dari dua faktor utama. Sebagian dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan oleh warga, sementara sebagian lainnya terjadi secara alami di kawasan padang ilalang yang mudah terbakar saat musim kering.
“Ada beberapa titik memang diawali dengan orang membakar lahan, tapi ada juga yang secara alamiah terbakar karena lahannya padang ilalang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, cuaca panas dan kering yang telah berlangsung lebih dari satu bulan tanpa hujan membuat risiko karhutla semakin tinggi.
Kondisi tersebut juga berdampak pada kekeringan lahan pertanian serta kekurangan air bersih di sejumlah wilayah, seperti Parigi Utara dan Lambunu.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pun telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Hingga saat ini, BPBD Sulteng bersama BPBD Parigi Moutong terus melakukan asesmen lapangan.
Status darurat karhutla belum ditetapkan karena luasan kebakaran per titik masih relatif kecil, meski jumlah kejadian cukup banyak.
Baca juga: Kondisi Rumah Tangga Nia Ramadhani Akhirnya Terjawab, Isu Gugat Cerai Ardi Bakrie Dipastikan Hoaks
Hingga Selasa (3/2/2026) dini hari, api dilaporkan masih belum sepenuhnya padam dan terus membakar kawasan perbukitan di sekitar desa.
Pantauan di lapangan menunjukkan, titik-titik api berada tidak jauh dari kebun warga yang berada di lereng dan kaki gunung.
Pemerintah setempat menyebutkan, selain kawasan hutan, sejumlah areal perkebunan masyarakat ikut terdampak kebakaran tersebut.
Tanaman produktif yang dilaporkan terdampak cukup beragam dan menjadi sumber penghidupan utama warga setempat.
Beberapa di antaranya adalah kakao, durian, cengkeh, mangga, serta kelapa yang banyak ditanam di sekitar lokasi kebakaran.
Baca juga: Irwan Lapatta Sebut Turnamen Pencak Silat Militer Piala Pangdam XIII sebagai Ajang Pembinaan
Namun demikian, hingga saat ini pemerintah belum dapat memastikan jumlah pasti kebun warga yang terbakar.
Luasan lahan terdampak serta jumlah tanaman produktif yang rusak masih dalam proses pendataan di lapangan.(*)