Krisna Selesaikan S3 Farmasi UGM Hanya 2 Tahun 4 Bulan, Raih IPK 4,00
February 03, 2026 08:01 PM

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Made Krisna Adi Jaya menjadi lulusan tercepat dari Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). 

Diwisuda pada Rabu (21/1/2026) lalu, Krisna berhasil lulus dalam waktu 2 tahun 4 bulan 8 hari, dengan IPK 4,00. Padahal masa studi rata-rata jenjang Doktor adalah 4 tahun 6 bulan. 

Lulusan tercepat

Meski meraih predikat lulusan tercepat dan IPK dengan predikat pujian, gelar tersebut bukan sekadar kebutuhan akademik atau tanggung jawab profesional.

Keputusan melanjutkan pendidikan doktoral diambilnya karena dorongan personal untuk berkontribusi lebih besar bagi pengembangan ilmu farmasi. 

"Program doktoral memberi ruang bagi saya untuk menjembatani praktik kefarmasian dengan pengembangan evidence-based practice yang lebih sistematis,” katanya melalui keterangan tertulis, Selasa (3/2/2026). 

Skrining hipoglikemia 

Dosen Farmasi di FMIPA Universitas Udayana, Bali tersebut melakukan riset disertasi terkait proses skrining hipoglikemia yang terkait dengan terapi obat.

Hipoglikemia merupakan kondisi ketika kadar gula dalam darah berada di bawah batas normal, yang sering terjadi pada penderita diabetes sebagai efek samping terapi obat. 

Berawal dari ketidakakuratan pada proses skrining pasien rawat jalan, ia merasa perlu adanya pengembangan dan implementasi instrumen skrining risiko hipoglikemia berat untuk membantu para apoteker. 

Selain membantu apoteker, temuan ini juga bertujuan untuk mencegah kejadian tersebut melalui suatu sistem penilaian yang terstruktur dan aplikatif. 

“Tujuan utama saya adalah menghadirkan solusi yang praktis, berbasis bukti, dan dapat langsung diimplementasikan untuk meningkatkan keselamatan pasien,” jelasnya.

Dengan dukungan Beasiswa Pendidikan Indonesia, Kemdikbudsaintek, dan kampus Universitas Udayana, ia berupaya membangun disiplin riset, komunikasi intensif dengan promotor dan ko-promotor, serta terus mengembangkan kemampuan metodologi penelitian dan analisis data secara mandiri. 

Konsistensi

Capaian ini tidak bisa diraih tanpa nilai integritas akademik, konsistensi, dan kebermanfaatan ilmu yang selama ini ia junjung. 

“Saya meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan secara jujur, bertanggung jawab, dan diarahkan untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat," ujarnya. 

Sebagai akademisi, ia harus menyeimbangkan peran untuk memenuhi tuntutan akademik maupun kepentingan pekerjaan. Salah satu tantangan terbesar selama menempuh studi doktoral adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik, pekerjaan profesional, dan tanggung jawab pribadi. 

“Kompleksitas riset, seperti pengembangan instrumen, validasi metodologis, hingga penerapan di lapangan menuntut konsistensi, ketelitian, dan manajemen waktu yang tinggi,” imbuhnya. (maw) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.