SRIPOKU.COM - Meriyati Roeslani Hoegeng meninggal dunia pada Selasa (3/2/2026).
Istri salah satu jenderal polisi yang paling disegani di Indonesia itu sempat menjalani perawatan medis di RS Polri Kramat Jati Jakarta Timur beberapa saat sebelum dinyatakan meninggal dunia.
Eyang Meri, sapaan akrabnya, meninggal dunia saat usianya sudah seratus tahun.
Layaknya lansia pada umumnya, Eyang Meri berjuang melawan berbagai penyakit.
Baca juga: Pendamping Hidup Kapolri Legendaris, Meriyati Istri Jenderal Hoegeng Meninggal di Usia 100 Tahun
Ia bahkan sudah enam tahun lamanya tidak bisa berjalan karena cedera paha yang diderita.
Putra almarhumah, Aditya Soetanto Hoegeng, mengatakan cedera tersebut dialami almarhumah sejak tahun 2020 silam.
"Bisa dibayangkan bagaimana lelahnya beliau dengan usia yang makin sepuh," ungkap Adit dengan nada haru.
Meski harus berjuang selama enam tahun di atas tempat tidur, Adit menegaskan ibundanya sebenarnya memiliki ketahanan tubuh yang sangat baik untuk orang seusianya.
Ia memastikan tidak ada serangan penyakit saraf yang dialami sang bunda.
"Kalau sakit yang khusus tidak ada. Tidak stroke, tidak apa ya. Ibu kesehatannya luar biasa. Luar biasa," ujarnya.
Cedera paha yang diderita Eyang Meri memicu berbagai penyakit yang diderita.
Menurut Adit, ibundanya sempat dua kali dilarikan ke rumah sakit dalam waktu yang berdekatan.
Satu minggu pertama di pertengahan Oktober, sempat boleh pulang.
Tapi dua hari di rumah, Eyang Meri sudah tidak mau makan.
"Jadi akhirnya kita bawa lagi Ibu ke rumah sakit untuk yang kedua kalinya dari tanggal 26 (Januari) sampai hari ini kondisinya terus menurun," ujar Adit di rumah duka, Depok, Selasa sore.
Adit menjelaskan, penurunan kesehatan ibundanya bukan disebabkan penyakit berat yang mendadak.
Melainkan komplikasi faktor usia yang diperparah dengan cedera paha yang dialaminya.
Baca juga: FAKTA Kapolri Jenderal Listyo Cium Tangan Megawati pada Acara Memperingati HUT ke-100 Meri Hoegeng
Eyang Meri lahir 23 Juni 1925 dan menikah dengan Jenderal Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta.
Adapun Jenderal Hoegeng Iman Santoso adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5, yang menjabat pada periode 1968 hingga 1971. Ia dikenal sebagai sosok polisi yang jujur, berintegritas tinggi, dan anti-korupsi dalam sejarah kepolisian Indonesia.
Dari pernikahan keduanya, dikaruniai tiga orang anak yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti dan Aditya Soegeng Roeslani.
Sosok Eyang Meri dikenal sebagai wanita yang memiliki suri tauladan bagi para insan Bhayangkara di Indonesia.
Bahkan, banyak tokoh yang selalu menghormati dirinya menjelang hari Bhayangkara setiap 1 Juli.