Nila Yani Dorong Implementasi AI untuk Kesejahteraan Nelayan di Gresik
February 03, 2026 09:04 PM

 

SURYA.CO.ID, GRESIK - Anggota DPR RI Komisi VII dari Fraksi PDI Perjuangan, Nila Yani Hardiyanti, memberikan penekanan serius terkait arah pengembangan teknologi masa depan di Indonesia.

Berdasarkan data yang diterima SURYA.co.id, pernyataan ini muncul saat Nila Yani mengikuti Kunjungan Kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ke IPB University di Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Agenda tersebut, fokus pada pembahasan implementasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Dalam sepuluh quick wins pemerintah saat ini, Nila Yani menyoroti bahwa transformasi teknologi tidak boleh menciptakan kesenjangan baru. Terutama bagi ribuan nelayan kecil di wilayah Jawa Timur (Jatim), khususnya pesisir Gresik, yang selama ini hidup dalam ketidakpastian akibat cuaca ekstrem, tingginya biaya operasional melaut, serta fluktuasi hasil tangkapan.

"Bagi kami di PDI Perjuangan, teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi adalah alat perjuangan. Artificial Intelligence harus hadir sebagai alat pembebasan rakyat, bukan justru menciptakan kesenjangan baru yang menjauhkan nelayan kecil dari kesejahteraan," tegas Nila Yani, Selasa (3/2/2026).

Fokus Utama Sektor Perikanan

Politisi muda ini menekankan, bahwa wilayah daerah pemilihannya memiliki kawasan pesisir yang sangat luas. Di sana, terdapat ribuan nelayan kecil yang menggantungkan hidup sepenuhnya pada sektor perikanan.

Oleh karena itu, pembahasan AI menurutnya harus menyentuh langsung kebutuhan dasar sektor tersebut.

"Di daerah pemilihan saya terdapat kawasan pesisir yang luas, dengan ribuan nelayan kecil yang setiap hari hidup dari laut dan berhadapan dengan ketidakpastian cuaca, tingginya biaya operasional, serta fluktuasi hasil tangkapan. Karena itu, ketika kita berbicara Artificial Intelligence, fokus saya jelas: sektor perikanan dan dampaknya bagi nelayan kecil. Pertanyaannya sederhana, teknologi AI perikanan baik e-logbook, fish technology maupun inovasi lainnya," bebernya.

Nila Yani berpendapat, bahwa kecanggihan algoritma dan sistem tidak akan berarti jika tidak mampu menjawab persoalan riil nelayan di lapangan.

Ukuran keberhasilan teknologi, adalah sejauh mana AI dapat membuat nelayan lebih aman melaut, lebih efisien bekerja, serta memiliki kedaulatan atas kehidupannya sendiri.

KUNJUNGAN KERJA - Suasana Kunjungan Kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ke IPB University di Provinsi Jawa Barat, Selasa (3/2/2026). Agenda tersebut fokus pada pembahasan implementasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
KUNJUNGAN KERJA - Suasana Kunjungan Kerja Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI ke IPB University di Provinsi Jawa Barat, Selasa (3/2/2026). Agenda tersebut fokus pada pembahasan implementasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendukung ketahanan pangan nasional. (istimewa)

Belajar dari Praktik Global

Nila Yani juga mencontohkan praktik di Jepang, di mana AI dimanfaatkan untuk memprediksi pergerakan ikan melalui data suhu laut, arus dan histori tangkapan. Data tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi sederhana, yang bisa dipahami langsung oleh para nelayan.

"Teknologi yang sejati adalah teknologi yang membebaskan. Seperti ajaran Bung Karno, kemajuan harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. AI perikanan harus membantu nelayan mengurangi risiko, menekan biaya bahan bakar, dan memastikan mereka pulang melaut dengan hasil yang lebih pasti," paparnya.

Dalam konteks Indonesia, Nila Yani menegaskan arah perjuangan kebijakan DPR RI Komisi VII bersama Fraksi PDI Perjuangan, adalah memastikan negara memprioritaskan fitur AI yang berdampak langsung bagi nelayan kecil, antara lain:

  • Sistem prediksi cuaca dan potensi tangkapan yang mudah dipahami oleh nelayan tradisional.
  • Pencatatan hasil tangkapan yang sederhana melalui sistem digital yang tidak memberatkan administrasi.
  • Transparansi informasi harga pasar secara real-time agar posisi tawar nelayan semakin kuat di hadapan tengkulak.
  • Optimalisasi bahan bakar melalui navigasi berbasis data untuk menekan biaya operasional melaut hingga beberapa persen.

Peran Akademisi dan Harapan Masa Depan

Lebih lanjut, Nila Yani mendorong peran aktif dunia akademik, khususnya IPB University, sebagai mitra strategis negara.

Akademisi diharapkan mampu memilah, dan mengembangkan teknologi AI yang memang layak didorong melalui kebijakan serta dukungan anggaran negara.

"Keberhasilan AI dalam sektor perikanan bukan diukur dari seberapa canggih teknologinya, tetapi dari satu ukuran sederhana: apakah nelayan kecil hidupnya lebih aman, bebannya lebih ringan dan masa depannya lebih pasti. Inilah makna berdirinya negara hadir dan berjuang bersama rakyat," pungkas Nila Yani.

Melalui momentum kunjungan kerja ini, ia berharap transformasi AI di sektor perikanan dapat menjadi bagian dari jalan panjang perjuangan menuju ketahanan pangan nasional yang berdaulat, sekaligus mendorong keberlanjutan pangan lokal berbasis kekuatan rakyat pesisir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.