Olahraga teratur terbukti bisa berkontribusi pada kesehatan secara keseluruhan dan mengurangi risiko kematian dini, yang didefinisikan sebelum usia 75 tahun. Baru-baru ini para peneliti di Harvard TH Chan School of Public Health menemukan hubungan menarik antara strategi olahraga tertentu dan umur panjang.
Dikutip dari laman NY Post, para peneliti mempelajari bagaimana keragaman olahraga memengaruhi angka kematian. Mereka menganalisis data lebih dari 111.000 orang dewasa selama tiga dekade.
Menurut penelitian, para peserta melaporkan berapa banyak waktu per minggu yang dihabiskan untuk melakukan berbagai jenis olahraga, seperti berjalan kaki, jogging, bersepeda, mendayung, olahraga raket, angkat beban, latihan ketahanan, yoga, dan intensitas rendah lainnya, serta pekerjaan luar ruangan dengan intensitas sedang hingga berat.
Setelah memperhitungkan variabel kesehatan dan gaya hidup, para penulis menemukan bahwa mereka yang melakukan berbagai macam olahraga memiliki risiko kematian dini 19 persen lebih rendah daripada mereka yang melakukan berbagai macam olahraga paling sedikit.
Hubungan ini konsisten di berbagai tingkat intensitas. Hal tersebut menunjukkan keragaman olahraga berkontribusi pada umur panjang, terlepas dari berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk berolahraga.
Tim ini mengakui beberapa keterbatasan dalam studi. Salah satunya yaitu data olahraga dilaporkan sendiri oleh peserta.
Meski begitu, mereka berharap, penelitian mereka akan memberikan panduan yang bermanfaat bagi mereka yang ingin hidup panjang dan seajahtera.
"Orang secara alami memilih aktivitas yang berbeda dari waktu ke waktu berdasarkan preferensi dan kondisi kesehatan mereka. Saat memutuskan cara berolahraga, ingatlah mungkin ada manfaat kesehatan tambahan dengan melakukan berbagai jenis aktivitas fisik, daripada hanya mengandalkan satu jenis saja," kata salah satu peneliti, Yang Hu.
Sebuah studi yang diterbitkan di British Journal of Sport Medicine pada tahun lalu menemukan, hanya 75 menit latihan fisik intensitas sedang per minggu dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 17 persen, penurunan risiko kanker sebesar 7 persen, dan penguangan risiko kematian dini sebesar 23 persen.
Beberapa contoh aktivitas fisik intensitas sedang meliputi berkebun, yoga, memotong rumput, aerobik air, dan jalan cepat. Jalan cepat dalam hal ini berarti bergerak dengan kecepatan minimal 4 km.







