SRIPOKU.COM, PALEMBANG --Wacana Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan keinginannya agar seluruh atap bangunan di Indonesia ke depan menggunakan genteng atau gentengnisasi bukan lagi seng.
Permintaan itu direspon positif oleh Real Estate Indonesia (REI) Sumatera Selatan (Sumsel).
Apalagi, gagasan tersebut didorong oleh alasan kenyamanan hunian, keindahan lingkungan, hingga citra Indonesia di mata dunia.
"Kita menyambut baik apa yg disampaikan pak Presiden Prabowo, kita ketahui banyak sekali bangunan di Indonesia terutama di pelosok Kabupaten atau Desa, yang mana rumah mereka atap rumahnya masih terbuat dari rumbia dan tertutup apa adanya. Sehingga kita menyambut baik gagasan pak Prabowo terkait gentengnisasi itu," kata Ketua DPD REI Sumsel Zewwy Salim, Selasa (3/2/2026).
Baca juga: Instruksi Gentengnisasi Presiden Prabowo Jadi Angin Segar bagi Pengusaha Genteng di Banyuasin
Menurut Wawe sapaan akrab Zewwy Salim, setiap bahan atap bangunan memiliki keuntungan atau kelebihan masing- masing di tengah kondisi industri material yang terus berkembang.
"Kalau saya melihat di dunia industri sudah banyak sekali inovasi terkait material building atau bangunan, yang dimana genteng lama yang terbuat tanah liat sudah tergantikan oleh inovasi baru menggunakan seng metal. Yang mana genteng lama masih menggunakan bahan baku tanah liat, dengan keuntungan atau kelebihan menjadi sedikit adem dibanding seng metal, dan lebih awet bisa tahan lebih lama," ucapnya.
Sedangkan dalam penggunaan seng metal itu penangannya lebih simple yaitu sangat cepat, praktis, dan efek dari segi negatifnya banyak sekali seng metal cepat korosi atau karat apalagi di tempat yang sering turun hujan.
"Jadi menurut saya penggunaan gentengnisasi disesuaikan dengan kondisi dan situasi," jelasnya.
Apalagi untuk lingkungan jelas penggunaaan genteng untuk rumah, selama ini tidak ada efek samping yang ditimbulkan.
Mengingat genteng terbuat dari tanah liat sehingga penggunaannya lebih nyaman dan bisa didaur ulang terus dengan memiliki ketahanan cukup lama.
'Jadi penggunaan genteng untuk lingkungan no isu, sejak zaman nenek moyang dahulu juga sudah digunakan," paparnya.
Meski begitu, dengan jika nanti penerapan genteng dilakukan termasuk untuk perumahan jelas akan menjadikan nilai properti itu selain indah dipandang, juga akan mendongkrak harga yang ada.
"Pastinya itu semua betul dari genteng tanah liat itu sangat meningkatkan harga properti, sangat banyak tertarik jika dibangun sendiri masyarakat dengan genteng karena nilai value meningkat. Sedangkan penggunaan seng metal dianggap berisik jika kena hujan. Tapi kalau untuk properti penggunaannya cepat karena banyak pabrikan seng metal di Indonesia," capnya.
Ditambahkan Zewwy, terdapat tantangan kedepan untuk mengimplementasikannya, dan perlu aturan yang jelas penerapannya apa untuk rumah yang dibangun pengembang (properti) atau rumah warga tertentu.
"Untuk proses aplikasi pembangunan rumah waktunya cukup lama dibanding seng, adanya stok terbatas dari pabrikan . Jika rumah itu memiliki progres pekerjaan yang harus dikejar kita harus menunggu. Saya melihat peran pemerintah sendiri baru sekarang terpikirkan jika sudah layak ya masyarakat memiliki hunian yang layak dan terjangkau dan keindahan, serta harga jual tinggi," tandasnya.
Dilanjutkan Zewwy, bagi pihaknya sendiri selaku pengembang perumahan jika hal juga diterapkan disetiap perumahan baik komersil dan subsidi.
Hal itu perlu penyesuaian harga setiap hunian yang dijual, karena biaya yang dikeluarkan akan lebih besar setiap rumah.
"Otomatis akan berpengaruh pengeluaran dari pembangunan perumahan itu sendiri, dari segi bahan genteng akan mengeluarkan material pendukung lebih banyak dengan pondasi lebih kokoh seperti reng, baut dan kayu lebih banyak. Ini perhitungan tepat membangun rumah dengan perhitungan matang, agar rumah dibangun sesuai keinginan para konsumen ataupun pengusaha umtuk membangun perumahan yang ada," pungkasnya.