TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Empat hari pedagang es cendol itu tak terlihat. Padahal, pria yang dikenal humoris itu sehari-hari biasa duduk di depan rumah kontrakan yang ia tempati.
Rustam (48) tinggal seorang diri di rumah itu. Pria paruh baya itu ditemukan meninggal dunia di dalam sumur, Senin (2/2/2026).
Peristiwa itu terjadi di Desa Kasang Kumpeh, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.
Kepala Desa Kasang Kumpeh, Anna Widiya Putri, mengatakan pihaknya mendapat laporan dari tetangga korban. Saat itu korban tidak terlihat oleh tetangganya di rumah.
Setelah mencoba memanggil dan tak ada jawaban, warga setempat membuka pintu.
“Warga mencoba membuka pintu, ternyata pintu itu tidak terkunci. Jadi didoronglah. Setelah didorong, warga mencium bau yang tidak enak dari dalam rumah,” katanya.
Tetangga korban lantas masuk dan mengecek setiap ruangan di rumah korban, namun tidak ada orang di rumah itu.
Namun, ketika mereka melihat ke dapur, korban ditemukan sudah berada di dalam sumur dan tidak bernyawa lagi.
“Selanjutnya warga segera menelepon, menghubungi Pak RT, terus menelepon saya juga,” tuturnya.
Anna menjelaskan, dirinya segera datang ke lokasi tersebut. Saat di lokasi, dia segera menghubungi pihak Babinkamtibmas, Babinsa, dan pihak kecamatan, agar korban bisa dievakuasi.
“Jadi kami hubungilah pihak dari kecamatan untuk ke Damkar, Damkar ke BPBD Kabupaten Muaro Jambi, dari Kabupaten Muaro Jambi BPBD-nya ke Basarnas untuk berkoordinasi,” kata Anna.
“Jadi, dibantulah oleh Tim SAR untuk mengevakuasi korban, sekitar pukul 12 siang dievakuasi. Tidak lama pengevakuasiannya,” lanjutnya.
Kondisi Sumur Warga
Anna mengatakan, keadaan sumur air di desanya tidak ada yang terbuka, walaupun sumur rendah.
“Untuk keadaan sumur, tidak ada yang terbuka walaupun rendah itu tetap ditutup,” katanya.
Dia menuturkan, sumur air di desanya rata-rata berada di luar rumah. Namun, sumur itu bisa berada di dalam rumah karena warganya membangun atau merenovasi rumah itu.
“Biasanya itu kan di bagian belakang. Nah, dikembangkan rumah itu jadi masuk ke dalam rumah,” tuturnya.
Terkait insiden itu, Anna menjelaskan pihaknya selalu mengimbau masyarakat untuk menjaga keselamatan di lingkungannya.
Sosok Korban
Anna menyampaikan bahwa Rustam selama ini tinggal seorang diri dan mengontrak di rumah tersebut.
Meski hidup sendiri, korban dikenal aktif di media sosial, kerap melakukan siaran langsung di TikTok, serta memiliki pribadi yang humoris.
Namun demikian, korban memiliki riwayat penyakit dan sebelumnya pernah menjalani operasi.
“Ada benjolan di bagian lehernya, kami pihak pemerintah desa sudah berupaya untuk membawanya, sudah operasi, sehat, sudah bisa beraktivitas,” katanya.
Anna menjelaskan, Rustam sehari-hari berprofesi sebagai penjual es cendol di kawasan Jalan Baru, Payo Selincah, Kota Jambi.
“Dia (korban) rutin untuk berjualan. Setelah sakit dia menghentikan aktivitasnya sampai dia pulih. Dari operasi sampai dia meninggal belum ada pulih untuk berjualan kembali,” jelasnya, Selasa (3/2/2026).
Ia menuturkan, korban dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah bergaul dengan warga sekitar.
“Alhamdulillah, komunikasinya, silaturahminya baik juga, tidak ada masalah di wilayah sekitar,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan oleh salah seorang warga yang juga merupakan tetangga korban.
Menurut warga tersebut, korban memang dikenal sebagai penjual es cendol yang biasa mangkal di kawasan Jalan Baru, tepatnya di sekitar kelenteng dan gereja Katolik.
Saat berjualan, korban kerap berjoget mengikuti alunan musik DJ dan berinteraksi dengan anak-anak, sehingga akrab dipanggil “Mamang DJ”.
“Kalau ada anak kecil joget-joget. kalau jual es tidak mahal, Rp5 ribu sudah dapat es gelas besar,” ucapnya.
Ia menyebut, korban juga dikenal dermawan karena sering bersedekah dalam kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar.
“Dengan tetangga baik, ada hajatan membantu dan menggali kuburan duluan saat ada tetangga yang meninggal,” ujarnya.
Lebih lanjut, warga tersebut mengatakan bahwa korban sebelumnya pernah bekerja sebagai buruh bangunan dan merupakan salah satu warga yang paling lama menetap di kawasan tersebut.
“Sempat kerja bangunan, orang paling lama di kawasan itu, sudah tinggal disitu sekira 20 tahunan,” katanya.
“Soalnya saya di sini sejak 2005, almarhum sudah tinggal di kawasan ini,” lanjutnya.
Terkait peristiwa tersebut, perangkat desa bersama warga setempat mengaku masih tidak percaya atas kejadian yang menimpa korban.
Karena itu, mereka berharap agar almarhum dapat beristirahat dengan tenang.
(Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Masih Ada Saluran Limbah SPPG Bocor setelah Keracunan MBG di Muaro Jambi
Baca juga: Guru Honorer dan ASN Kerinci Tersandung Korupsi setelah Bagi Jatah PJU di 12 Ruas Jalan