Masih Ada Saluran Limbah SPPG Bocor setelah Keracunan MBG di Muaro Jambi
February 03, 2026 10:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - Berbagai temuan didapati tim Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di tiga kecamatan, yakni Kumpeh Ulu, Maro Sebo, dan Sekernan, pada Selasa (3/2/2026).

Sidak ini dilakukan, menyusul keracunan massal akibat konsumsi soto dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), tempo hari.

Sekda bilang, ini sebagai langkah pengawasan guna memastikan pelaksanaan program MBG berlangsung sesuai standar, higienis, serta aman dikonsumsi masyarakat penerima manfaat.

Dalam peninjauan itu, meski aktivitas dapur masih berjalan, Sekda menemukan sejumlah catatan penting terkait fasilitas penunjang.

Salah satu temuan utama adalah kondisi saluran pembuangan limbah yang dinilai belum layak karena tersumbat dan mengalami kebocoran.

"Temuan ini harus ditindaklanjuti segera. Pembuangan saluran bak limbah mampet dan bocor, ini harus diperbaiki kembali agar tidak mencemari lingkungan dapur," tegas Budhi Hartono.

Selain menyoroti infrastruktur, Budhi Hartono juga memberikan apresiasi kepada jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta personel Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Muaro Jambi.

Ia menilai koordinasi dalam pengawasan distribusi makanan telah berjalan cukup baik.

Menurutnya, mutu makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan yang digunakan, tetapi juga oleh kepatuhan petugas dalam menjalankan prosedur di lapangan.

"Peninjauan ini akan dilakukan secara berkala. Saya minta seluruh petugas SPPG meningkatkan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) guna menjamin kualitas makanan yang disajikan tetap terjaga," imbuhnya.

Program MBG sendiri menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Oleh sebab itu, pengawasan ketat mulai dari proses pengolahan hingga pendistribusian menjadi fokus utama.

Dua Masih Dirawat

Lima hari setelah peristiwa keracunan massal tersebut, dua pasien masih menjalani perawatan inap di RSUD Ahmad Ripin, Sengeti, hingga Selasa (3/2).

Direktur RSUD Ahmad Ripin Sengeti, Agus Subekti, membenarkan bahwa sebagian besar pasien telah diperbolehkan pulang.

"Update pukul 10.00 WIB, pasien yang masih dirawat saat ini ada dua orang," kata Agus Subekti.

Ia menjelaskan, sebelumnya sebanyak 145 pasien sempat dirawat di rumah sakit tersebut.

Dari total itu, 99 orang menjalani perawatan inap dan 44 lainnya mendapat perawatan jalan.

Selain itu, terdapat dua pasien yang dirujuk ke RSUD Raden Mattaher Jambi.

"Mudah-mudahan hari ini (kemarin, red) pulang semua," katanya.

Diketahui, ratusan korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari siswa TK, SD, MTs atau sederajat, hingga guru dan balita.

Mereka mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari program MBG yang dibagikan pada Jumat (30/1/2026).

"Mereka yang masuk ini mengalani gejala sakit perut, mual dan demam," katanya.

Evaluasi Total

Sekretaris Daerah Kabupaten Muaro Jambi, Budhi Hartono, mengungkapkan bahwa Badan Gizi Nasional (BGN) telah melayangkan peringatan keras kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengeti.

"Saat ini baru penghentian sementara. Jika terjadi kasus serupa, maka akan dihentikan selamanya," kata Budhi usai rapat bersama seluruh SPPG se-Kabupaten Muaro Jambi.

Mengenai hasil pemeriksaan laboratorium, Budhi menyebut prosesnya masih berjalan.

“Sampai sekarang hasilnya belum keluar dari BPOM,” ujarnya.

Sebagai tindak lanjut atas insiden tersebut, Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi memutuskan menghentikan sementara kegiatan operasional SPPG Sengeti.

Budhi menjelaskan, langkah ini dilakukan sambil menunggu hasil penyelidikan dan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diduga menjadi penyebab kejadian.

“Kami sudah berkoordinasi dengan koordinator SPPG. Sampai hasil investigasi keluar, SPPG Sengeti ditutup sementara,” ujar Budhi.

Ia menyampaikan, proses pemeriksaan dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.

Seluruh hasil investigasi akan disampaikan kepada BGN Pusat yang memiliki kewenangan menentukan bentuk sanksi serta kelanjutan operasional SPPG.

Budhi juga menyinggung adanya dugaan ketidaksesuaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP).

Ia menilai, kejadian tersebut seharusnya dapat dihindari jika SOP dijalankan dengan benar, mulai dari aspek kebersihan, mutu bahan pangan, hingga pemenuhan standar gizi.

“Kalau SOP dijalankan dengan baik, kejadian seperti ini tidak akan terjadi,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah daerah akan mengumpulkan seluruh kepala SPPG se-Kabupaten Muaro Jambi pada Senin (2/2/2026) kemarin, untuk memperketat pengawasan serta memastikan seluruh prosedur dijalankan dengan disiplin.

Peristiwa ini disebut sebagai kasus pertama dugaan keracunan MBG di Muaro Jambi sejak program tersebut diluncurkan. Kendati demikian, Budhi menegaskan pengawasan ke depan akan diperketat.

“Program ini tidak boleh membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Ke depan, satuan tugas akan meningkatkan pengawasan terhadap seluruh SPPG yang kini berjumlah 15 unit dan telah beroperasi di Kabupaten Muaro Jambi.

“Jangan sampai terulang lagi. Kita berharap ini kejadian pertama dan terakhir,” tegas Budhi.

 

(Tribunjambi.com/Muzakkir)

 

Baca juga: Guru Honorer dan ASN Kerinci Tersandung Korupsi setelah Bagi Jatah PJU di 12 Ruas Jalan

Baca juga: Cerita Titik Balik Eks Napi Terorisme yang Pernah Kerja di Lingkungan Densus 88

Baca juga: Pemuda Pancasila Tuntut Setop Batu Bara setelah Ketua MPC Merangin Jadi Korban

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.