Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Jateng
Pilihan judul yang ‘nakal’ ini sukses memaksa saya untuk membacanya sampai kalimat terakhir. “Memang pilihan judul yang tricky sekaligus nakal,” gumam saya.
Semua tahu bagaimana ruang redaksi Kompas adalah hitam putih. Tidak ada tawar menawar tentang sebuah konsepsi berjurnalistik.
Dan, setelah saya tuntas membaca, ‘Ketika Ruang Redaksi Dijungkirbalikkan’ rupanya berisi tentang berbagai event nonredaksional yang digelar Kompas di ruang redaksi.
Dijungkirbalikkan yang dimaksud dalam tulisan tersebut lebih kepada bagaimana kawan-kawan Kompas merasa membuka diri dengan hal-hal yang lebih segar hadir langsung di ruang redaksi, mulai dari konser musik, barista, dan acara lainnya.
Dijungkirbalikkan di tulisan tersebut dimaknai sebagai ruang dialektika baru dengan gagasan-gagasan tanpa batas.
Terlepas dari saya yang tertipu dengan hipotesa awal, boleh dong saya berprasangka bahwa judul provokatif tersebut tak lepas dari letupan alam bawah sadar dari penulisnya. Apalagi, yang digambarkan dalam tulisan tersebut adalah potongan-potongan peristiwa lampau, yang sama sekali tidak ada yang baru.
Saya menduga, penulis sengaja merangkum sejumlah peristiwa lampau untuk menggambarkan situsi terkini dengan bahasa semiotika yang tajam. Peristiwa-peristiwa yang dirangkum barangkali tak penting dan sekadar menjadi pengantar bagaimna keresahan terkini mengusik ruang pikir. Apalagi, tulisan ini muncul di awal Februari, yang sebentar lagi diperingati Hari Pers Nasional.
Saya tentu tak punya kapasitas untuk memaksakan bahwa pemahaman saya benar. Namun dari semiotika yang disampaikan dalam tulisan tersebut, saya mencoba untuk menariknya sebagai bahan evaluasi sekaligus refleksi diri terkait dengan dapur redaksi yang saya kelola.
Kawan-kawan yang masih bertahan menjalani profesi sebagai jurnalis seharusnya tak mengelak bagaimana entitas ini terus melemah. Perspektif bisnis yang menjadi api keberlangsungan ideologis telah jauh menggerus ruang ideologis itu sendiri.
Sementara dengan ‘bebal’ sebagian kawan masih mengagung-agungkan apa yang disebut dengan kebebasan pers yang, menurut saya, semu.
Saya bahkan sering berpendapat sebaliknya, dalam konteks tertentu kebebasan pers adalah pembunuh pers itu sendiri. Lagi-lagi saya tekankan, ini dalam konteks tertentu.
Tidak perlu saya jelaskan makna dari kalimat ini. Kawan-kawan yang menjalankan profesi ini di jalur ideologis tentu sudah bisa mengurainya sendiri.
Selama beberapa tahun terakhir, ruang redaksi dengan nyata dipaksa untu kehilangan ruang pikirnya. Pelan namun pasti, situasi tersebut nyata membunuh secara perlahan kekuatan pers itu sendiri.
Saat ini, ketika semua orang bisa menjadi publisher, kesadaran itu muncul namun sudah sangat-sangat terlambat.
Audiens tak lagi berpijak pada nama besar sebagai dasar menyandarkan kepercayaan mereka. Jumlah subscriber dan follower menjadi agama kebenaran versi siapa yang akan diyakini oleh publik.
Sejujurnya, sering secara radikal saya menggugat di muka umum bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang menjadi payung eksistensi pers Indonesia. Saya meyakini bahwa ruang lingkup UU tersebut tak lagi relevan dengan tantangan pers saat ini.
Namun begitu diskusi lebih jauh, saya menjadi ragu dengan sendirinya. Saya dan kita semua paham bagaimna kiekuasaan di negeri ini sedang tak baik-baik saja. Demokrasi yang berjalan juga sedang tak baik-baik saja.
Saya menjadi khawatir jika ada ruang untuk membenahi situasi ini melalui revisi UU No.40/1999, di situlah kekuasaan menggunakan perannya untuk membuat ruang intervensi terhadap pers lebih terbuka. JIka itu terjadi, pers akan kehilangan semuanya.
Pers kita sedang tidak baik-baik saja. Value integritas yang menjadi fondasi kokoh kepercayaan terhadap pers terkikis habis. Semua melihat, pola ini nyata ada di depan kita dan terus menerus menggerus akal sehat kita.
'Ketika Ruang Redaksi Dijungkirbalikkan' bagi saya adalah alarm bawah sadar yang mengingatkan kita semua tentang kondisi kita saat ini. Di sinilah saya harus katakan, bahwa apapun situasi kita saat ini, Pers Indonesia membutuhkan Kompas untuk merawat Indonesia. Belum cukup, negeri ini juga membutuhkan jurnalis-jurnalis yang tak pernah lelah menyuarakan hati nurani. (*)