Jessica Mimpi Bisa Terbang ke Jepang, Kejar Prestasi di Kompetisi Penghobi Mainan Mobil 4WD Tamiya
February 04, 2026 06:09 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jessica ingin lebih menseriusi ikut perlombaan Mini 4WD.

Ditemui di Terminal Tamiya Semarang, Java Supermall, ia tampak membawa tas berisi mobil-mobil yang dia rakit sendiri.

Namun demikian, Jessica mengaku belum berani berlomba, hanya mencoba mobil di trek itu saat tidak digunakan ketika perlombaan berlangsung.

Sebagai gen z, dia menyadari sebagian besar penghobi di sekelilingnya adalah orang dewasa dengan jam terbang tinggi.

“Aku sebenarnya belum berani ikut,” ujar Jessica. 

Dia mengaku masih sebatas mencoba-coba dan belajar memahami karakter mobil.

Rasa minder sempat muncul ketika harus berhadapan dengan para penghobi yang rata-rata sudah lama menekuni Mini 4WD.

Kecintaan Jessica pada Tamiya bukan muncul tiba-tiba. Hobi itu dia kenal dari ayahnya yang sejak dulu gemar bermain Mini 4WD. 

“Dulu diajak ayah, sekarang ke sini sendiri,” katanya. 

Dia datang untuk melihat, belajar, sekaligus mengoleksi.

Jessica mengaku ingin menunggu hingga benar-benar percaya diri sebelum turun ke lintasan lomba. 

Bagi dia, mengikuti turnamen bukan sekadar soal menang, melainkan kesiapan mental dan teknis.

“Kalau sudah percaya diri, baru ikut turnamen,” kata dia.

Meski masih sebatas pengunjung, harapan Jessica tak main-main. Warga Jangli, Semarang, itu menyimpan mimpi ingin menekuni Mini 4WD bukan hanya sebagai hobi, tetapi juga sebagai jalur prestasi.

“Mimpinya bisa ke Jepang, menang turnamen sampai sana,” pungkas dia. 

Sore itu, Minggu (1/2), lantai tiga Java Supermall terasa seperti lebih dari pusat perbelanjaan.

Di dekat bioskop Cinepolis, udara seolah bergetar oleh campuran aroma pelumas, dengung mesin bernada tinggi, dan adrenalin puluhan orang yang menunduk serius di balik meja-meja kecil.

Terminal Tamiya Semarang, nama tempat itu, menjadi panggung bagi ajang balap Mini 4WD STO (Standard Tamiya Original) Rookie.

Begitu mendekat, telinga langsung disambut suara khas yang bersahutan.

Itu merupakan suara dinamo yang sedang di-break-in atau roda yang diputar di udara untuk memastikan putaran sempurna.

Suara itu menelan musik mall, menciptakan dunia kecil yang hanya dimengerti para racer.

Ada sekitar 50 peserta terdaftar mengikuti lomba tersebut. Usianya lintas generasi, mulai dari anak-anak, remaja gen z, hingga orang dewasa.

Bahkan, terdapat peserta berusia 45 tahun, pasangan suami-istri yang ikut bersaing di lintasan yang sama.

Di Terminal Tamiya, balapan tak dimulai di trek berwarna merah dan biru itu, namun di meja racik. Meja-meja itu penuh oleh carry pit, obeng presisi, solder, cairan pembersih ban, hingga alat ukur digital. 

Tidak ada jarak antara senior dan pemula, semuanya belajar bersama. Di bawah lampu meja, para peserta menunduk dalam-dalam.

Mata terpaku pada baut kecil berukuran dua milimeter. Di tempat itu, ketelitian dan kesabaran menjadi hal paling penting.

Sebagai informasi, Tamiya adalah merek asal Jepang yang dikenal lewat model kit dan mainan rakit.

Satu di antara produknya yang paling ikonik yakni Mini 4WD, mobil kecil bertenaga dinamo yang melaju otomatis di lintasan khusus tanpa remote control. Popularitas Mini 4WD melejit pada era 1990-an, terutama di Indonesia.

Satu di antaranya berkat anime legendaris Bakusou Kyoudai Let’s & Go!! yang juga tayang di televisi Indonesia.

Lewat tayangan itu, Mini 4WD tak lagi sekadar mainan, melainkan simbol persahabatan, kompetisi, dan mimpi anak-anak untuk menjadi juara.

BERSIAP START - Arina Utaming Tyas bersama peserta lain bersiap melepas mobil mereka di garis start lomba Mini 4WD kategori STO di Terminal Tamiya Semarang, Java Mall, Minggu (1/6/2026). Ajang itu mempertemukan penghobi lintas generasi dalam suasana kompetitif namun akrab, di mana pengalaman dan ketelitian menjadi kunci kemenangan.
BERSIAP START - Arina Utaming Tyas bersama peserta lain bersiap melepas mobil mereka di garis start lomba Mini 4WD kategori STO di Terminal Tamiya Semarang, Java Mall, Minggu (1/6/2026). Ajang itu mempertemukan penghobi lintas generasi dalam suasana kompetitif namun akrab, di mana pengalaman dan ketelitian menjadi kunci kemenangan. (TRIBUN JATENG/Reza Gustav Pradana)

Penghobi dewasa mengenal Tamiya kali pertama dari layar televisi, sebelum akhirnya merakit mobil pertamanya sendiri.

Disebut 4WD (four wheel drive) karena keempat rodanya digerakkan oleh satu dinamo.

Begitu mobil dilepas di garis start, mainan itu akan melaju sendiri mengikuti jalur trek, menanjak, melompat, menikung, tanpa bisa dikendalikan. 

Tantangannya bukan mengemudi, melainkan menyetel dan merakit agar mobil tetap cepat, stabil, dan tidak terlempar keluar lintasan.

Setiap komponen mobil balap mainan itu punya peran penting.

Dinamo menentukan tenaga, roller menjaga mobil tetap di jalur, rem mengontrol lompatan, sementara keseimbangan bobot menentukan kestabilan saat menikung.

Perubahan sekecil satu baut atau sudut roller bisa menjadi pembeda antara finis mulus atau gagal total.

Itulah sebabnya Mini 4WD berkembang menjadi hobi lintas generasi.

Di Jepang, hobi itu bahkan menjadi bagian dari budaya pop dan olahraga rekreasi.

Selama perlombaan di lantai 3 Java Supermall sore itu, ketegangan memuncak di trek balap, diiringi suara pembawa acara yang memandu perlombaan dimulai dengan pengeras suara.

Tiga mobil diletakkan di starting gate dan semua peserta tampak serius melihat ke depan.

Dalam hitungan detik, kebahagiaan dan kekecewaan bisa berganti.

Mobil-mobil kecil meluncur mulus melewati table top dan slope. 

Di sudut trek, layar monitor menampilkan hasil kemenangan. Angka-angka itu menentukan siapa yang melaju dan siapa yang harus mencoba lagi.

Atik, pengelola dan penjaga Terminal Tamiya Semarang, menjelaskan, lomba itu dirancang sebagai pintu masuk.

“Tujuan kami merekrut orang-orang baru. Setiap bulan, Terminal Tamiya rutin menggelar dua lomba. Dua pekan STO Rookie, dua pekan lagi STB Plug n Play,” kata Atik.

Menurut dia, STO Rookie kini justru menjadi kelas paling seru.

Beberapa part masih boleh menggunakan replika, berbeda dengan STO 50 atau STO 100 yang menggunakan sasis dinamo tengah. 

Dari sana, peserta mulai belajar sebelum naik kelas.

Peserta mengumpulkan poin dari kemenangan maupun frekuensi mengikuti lomba. 

Peserta dengan poin tinggi nantinya dikirim bertanding ke Jakarta, lalu ke berbagai kota lain, hingga berpeluang melangkah ke Jepang, negara tempat asal Tamiya.

Dalam satu kali tanding, peserta mendapat lima kesempatan, dengan tiga kali putaran yang dihitung. Setiap heat diisi tiga mobil di tiga jalur trek.

Konsultasi Gratis

Terminal Tamiya bukan hanya tempat lomba dan membeli mobil serta suku cadangnya. Sejak pukul 15.00 WIB, pengunjung bisa menikmati konsultasi gratis. 

“Banyak yang datang membawa mobil kurang stabil atau bersuara kasar. Kami arahkan pelan-pelan.  Kalau mau, ada teknisi jasa,” kata Atik.

Untuk jasa, biaya pembuatan mobil STO Rookie sekitar Rp150 ribu, sementara jasa rakit STB Plug n Play standar sekitar Rp20 ribu. Terminal Tamiya juga menjual unit Mini 4WD 4WD, suku cadang, toolkit, tas, bahkan trek.

Menurut Atik, tidak semua pengunjung datang sebagai penghobi. Banyak yang awalnya sekadar jalan-jalan, tertarik, lalu membeli dan akhirnya mendaftar lomba. Bahkan, terdapat empat pasangan suami istri yang rutin ikut lomba di sana.

Keberadaan Terminal Tamiya Semarang ini sudah beroperasi sejak 2017 dan buka mengikuti jam operasional mal, sekitar pukul 10.00 hingga 21.00 WIB. Pengunjung bisa mencoba trek seharian dengan biaya sekitar Rp10 ribu. 

Untuk pemula, kelas STB sangat disarankan karena lebih murah dan adil. Modal awal sekitar Rp500 ribu sudah cukup untuk memulai, termasuk mobil, roller, brake set, baterai, charger, dan toolkit dasar.

Di Terminal Tamiya, Mini 4WD bukan sekadar mainan, namun juga ruang belajar, ruang komunitas, dan ruang bagi mimpi-mimpi kecil untuk melaju lebih jauh. (Reza Gustav)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.