TRIBUNGORONTALO.COM, London – Drama menakjubkan tersaji di Stadion Emirates saat Arsenal memastikan diri melangkah ke partai puncak Carabao Cup, Rabu (4/2/2026) dini hari Wita.
Sebiji gol dari mantan pemain Chelsea, Kai Havertz, di masa injury time menjadi pembeda yang krusial malam itu.
Gol tunggal Havertz memastikan kemenangan 1-0 untuk Arsenal pada leg kedua semifinal ini.
Hasil ini membawa Arsenal unggul secara agregat dengan skor meyakinkan 4-2 atas rival sekota mereka.
Kemenangan ini sekaligus mengakhiri penantian panjang Arsenal untuk kembali menginjakkan kaki di Stadion Wembley.
Terakhir kali The Gunners (julukan Arsenal) mencapai final kompetisi ini adalah pada delapan tahun yang lalu, tepatnya tahun 2018.
Pasukan Mikel Arteta sebenarnya sudah memiliki modal yang cukup kuat sebelum laga di Emirates dimulai.
Pada leg pertama, performa impresif ditunjukkan oleh punggawa Arsenal di markas lawan.
Gol-gol dari Viktor Gyokeres, Ben White, dan Martin Zubimendi memberikan keunggulan agregat sementara.
Chelsea datang ke London Utara dengan beban harus mengejar ketertinggalan tersebut.
Namun, Stadion Emirates yang basah karena guyuran hujan menjadi saksi betapa sulitnya menembus pertahanan tuan rumah.
Laga dimulai dengan intensitas yang cukup tinggi meski peluang bersih sulit didapat di awal laga.
Arsenal memasuki pertandingan dengan misi mengulang memori manis tahun 2018 saat mereka menyingkirkan Chelsea di fase yang sama.
Dalam 15 menit pertama, kedua tim tampak masih sangat berhati-hati dalam menyusun serangan.
Chelsea, yang memiliki sejarah bangkit dari kekalahan leg pertama di semifinal, mencoba mengambil inisiatif.
Liam Delap menjadi pemain pertama yang menebar ancaman lewat tendangan yang sayangnya belum menemui sasaran.
Kondisi lapangan yang licin membuat aliran bola seringkali terhambat atau meluncur terlalu deras.
Arsenal membalas lewat skema tendangan sudut yang cukup berbahaya bagi pertahanan The Blues.
Eberechi Eze tampil cukup lincah di sisi lapangan dan berhasil mengirimkan umpan kepada Piero Hincapie.
Hincapie melepaskan tendangan keras kaki kiri yang memaksa Robert Sanchez melakukan penyelamatan gemilang.
Bola muntah sempat jatuh ke arah Gabriel Magalhaes, namun kontrol yang kurang sempurna membuat peluang itu sirna.
Arsenal juga berulang kali mencoba membedah lini belakang lawan dengan umpan-umpan panjang yang akurat.
Gabriel Martinelli sempat berhasil melewati kawalan Malo Gusto setelah menerima umpan lambung.
Sayangnya, sebelum sempat melepaskan tembakan maut, bek Prancis tersebut berhasil melakukan tekel bersih.
Memasuki pertengahan babak pertama, tim tamu mulai menemukan ritme permainan mereka.
Moises Caicedo bekerja keras di lini tengah untuk memutus aliran bola Arsenal dan memulai serangan balik.
Marc Cucurella memberikan umpan matang kepada Enzo Fernandez yang berdiri di posisi strategis.
Pemain internasional Argentina itu mencoba melepaskan tembakan melengkung ke sudut atas gawang Arsenal.
Namun, Kepa Arrizabalaga yang mengawal gawang Arsenal tampil sigap dan menepis bola tersebut keluar.
Skor kacamata 0-0 pun bertahan hingga wasit meniup peluit tanda turun minum.
Babak kedua dimulai dengan intensitas yang tidak jauh berbeda, di mana kedua tim sama-sama mencari celah.
Hanya ada dua tembakan tepat sasaran sepanjang babak pertama, sebuah statistik yang menunjukkan betapa rapatnya pertahanan kedua tim.
Peluang emas pertama di paruh kedua datang dari kemelut di depan gawang menyusul tendangan penjuru.
Liam Delap kembali mendapatkan kesempatan, namun tendangannya masih melenceng tipis dari tiang gawang.
Noni Madueke, yang menghadapi mantan klubnya, mencoba melakukan penetrasi individu dari sisi kanan.
Ia berhasil melewati Cucurella dan Jorrel Hato, tetapi umpan silangnya berhasil dipotong oleh bek lawan.
Melihat timnya kesulitan mencetak gol, manajer Chelsea memasukkan amunisi segar seperti Cole Palmer dan Estevao.
Kehadiran Palmer langsung memberikan warna baru dalam serangan-serangan Chelsea di sepertiga akhir lapangan.
Cucurella juga hampir memecah kebuntuan lewat tendangan spekulasi setelah bola sapuan jatuh ke kakinya.
Namun, tendangan pemain asal Spanyol itu masih menyamping, menambah rasa frustrasi di kubu tim tamu.
Arsenal merespons dengan memasukkan Alejandro Garnacho untuk menyegarkan lini serang mereka.
Kai Havertz tetap dipertahankan di lapangan, sebuah keputusan yang nantinya terbukti sangat krusial.
Memasuki 10 menit terakhir pertandingan, tensi di dalam stadion semakin memuncak seiring hujan yang kian deras.
Chelsea mendapatkan peluang lewat tendangan bebas Cole Palmer, namun hanya membentur tembok kokoh Arsenal.
Wesley Fofana juga mencoba peruntungannya lewat situasi bola mati, tetapi sundulannya belum akurat.
Arsenal sempat mengklaim penalti saat Gabriel Martinelli terjatuh setelah berduel dengan Trevoh Chalobah.
Namun, wasit Peter Bankes menilai tidak ada pelanggaran yang terjadi dan laga terus berlanjut.
Ofisial pertandingan memberikan tambahan waktu sebanyak enam menit, waktu yang terasa sangat lama bagi pendukung tuan rumah.
Saat Chelsea mengerahkan seluruh pemainnya untuk menyerang, sebuah celah terbuka di lini pertahanan mereka.
Enzo Fernandez sempat melepaskan tembakan jarak jauh di menit terakhir tambahan waktu, namun melambung tinggi.
Di detik-detik terakhir, Arsenal berhasil merebut bola di area pertahanan sendiri dan melakukan serangan balik kilat.
Leandro Trossard mengirimkan bola kepada Declan Rice yang kemudian melihat pergerakan Kai Havertz.
Dengan ketenangan luar biasa, Havertz menerima umpan Rice dan berhadapan satu lawan satu dengan Robert Sanchez.
Pemain asal Jerman itu dengan dingin menyarangkan bola ke pojok gawang untuk mencetak gol semata wayang di laga tersebut.
Gol tersebut langsung disambut gemuruh luar biasa dari seluruh penjuru Stadion Emirates.
Tak lama kemudian, peluit panjang dibunyikan, memastikan Arsenal menang 1-0 dan melaju ke final dengan agregat 4-2.
Bagi Havertz, mencetak gol kemenangan melawan mantan klubnya memberikan kepuasan tersendiri sekaligus tiket ke final.
Keberhasilan ini menjadi pembuktian bagi skuad asuhan Mikel Arteta dalam ambisi mereka meraih trofi musim ini.
Arsenal kini bersiap untuk partai puncak yang akan digelar di stadion kebanggaan Inggris, Wembley.
Final ini akan menjadi kesempatan emas bagi The Gunners untuk menambah koleksi trofi di lemari juara mereka.
Setelah euforia di Carabao Cup, Arsenal tidak boleh berlama-lama merayakannya karena kompetisi Liga Primer telah menanti.
Mereka dijadwalkan kembali beraksi di Stadion Emirates menghadapi Sunderland pada Sabtu, 7 Februari mendatang.
Laga tersebut sangat penting untuk menjaga momentum positif dan posisi mereka di papan atas klasemen.
Selanjutnya, Arsenal akan melakoni laga tandang ke markas Brentford di Gtech Community Stadium pada Kamis, 12 Februari waktu setempat.
Dua pertandingan ini akan menjadi ujian konsistensi bagi Arsenal sebelum mereka benar-benar fokus pada partai final di Wembley.
Baca juga: Liverpool Siapkan 100 Juta Euro untuk Gaet Gelandang Real Madrid




















(Sumber: www.arsenal.com)