TRIBUNTRENDS.COM - Dunia kepolisian Indonesia berduka. Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang lebih hangat disapa Eyang Meri, mengembuskan napas terakhirnya tepat di usia 100 tahun pada Selasa (3/2/2026).
Istri dari sang polisi legendaris, almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, berpulang setelah menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Kepergian sosok yang lahir pada 23 Juni 1925 ini bukan sekadar kehilangan bagi keluarga, melainkan duka mendalam bagi seluruh insan Bhayangkara yang menjadikannya simbol kesederhanaan dan keteguhan prinsip.
Jika Jenderal Hoegeng dikenal sebagai polisi terjujur, maka Eyang Meri adalah pilar utama yang menjaga kejujuran tersebut tetap tegak.
Salah satu kisah yang paling melegenda adalah ketika ia dilarang sang suami untuk membuka toko bunga.
Kala itu, Hoegeng yang baru menjabat Kepala Jawatan Imigrasi meminta istrinya menutup usaha yang baru dirintis di garasi rumah demi menghindari konflik
Kepada Najwa Shihab pada 2021 silam, Eyang Meri mengenang momen tersebut:
"Saat membuka toko bunga di garasi kami untuk menambah pemasukan, waktu dia menjabat kepala imigrasi minta menutup toko itu. Sudah 60 tahun saya bersama Mas Hoegeng, saya tahu sifatnya, mau ke mana arahnya," tutur Meri.
Rupanya, Hoegeng tak ingin para kolega imigrasi membeli bunga di sana hanya demi mengambil hati sang jenderal.
Bagi Meri, kepatuhan terhadap suami adalah bentuk dukungan mutlak menjaga martabat keluarga dari upaya suap terselubung.
Baca juga: Mengenang Sosok Meriyati Hoegeng dan Warisan Kesederhanaan di Balik Nama Besar Jenderal Hoegeng
Eyang Meri juga menjadi saksi betapa suaminya mengharamkan pamrih atas tugas negara.
Suatu ketika, Meri menerima kiriman 10 gram emas dari seseorang bernama Ruslan, sebagai tanda terima kasih karena mobilnya yang hilang berhasil ditemukan oleh Hoegeng.
Reaksi Hoegeng sangat tegas. Ia meminta sang istri mengembalikan emas tersebut dengan santun.
Meri menirukan ucapan suaminya yang masih terngiang jelas:
"Serahkan kepada saya. Dengan sopan santun, saya akan mengatakan kepada ibu itu bahwa tugas polisi itu hanya menolong dan tidak boleh menerima apa-apa. Kalau mau begitu (menerima hadiah), jangan jadi polisi," kenang Meri menirukan pesan suaminya.
Baca juga: Eyang Meriyati Hoegeng Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun, Duka Mendalam Keluarga Besar Polri
Ujian integritas keluarga Hoegeng mencapai puncaknya saat ia dipensiunkan dini di usia 49 tahun oleh rezim Soeharto.
Di tengah kondisi ekonomi yang pas-pasan, Hoegeng pulang dan bersimpuh di hadapan ibunya.
Sebuah percakapan singkat namun bergetar hebat dalam memori Eyang Meri pun terjadi:
"Dia sungkem katanya, 'saya tidak punya pekerjaan lagi, Bu'. Ibunya mengatakan, 'kalau kamu jujur melangkah, kami masih bisa makan nasi sama garam.' Itu yang bikin kita kuat semua," ungkap Meri.
Baca juga: Meri Meninggal, Megawati Rindu Sosok Polisi Jujur: Kapan ya Indonesia Punya Kapolri Seperti Hoegeng?
Putra mendiang, Aditya Soetanto Hoegeng, menceritakan bahwa kesehatan ibunya mulai menurun sejak Oktober
Meski sempat pulih, kondisi fisik yang mencapai satu abad membuat Eyang Meri akhirnya tenang dalam kedamaian.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo turut memberikan penghormatan tertinggi bagi almarhumah.
Menurutnya, Eyang Meri bukan sekadar istri pejabat, melainkan inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri.
"Beliau bukan sekadar saksi sejarah, tetapi juga pelita keteladanan bagi kami. Semasa hidupnya, beliau menjadi inspirasi nyata bagi seluruh generasi penerus Polri dan Bhayangkari untuk terus menjaga marwah institusi," ujar Kapolri.
Jenazah Eyang Meri telah tiba di rumah duka, Perumahan Pesona Khayangan Estate, Depok, dan direncanakan akan dimakamkan di TPU Tonjong, Kabupaten Bogor pada Rabu (4/2/2026).
Selamat jalan Eyang Meri, sosok yang membuktikan bahwa di belakang lelaki hebat, ada wanita yang jauh lebih kuat dalam menjaga prinsip.
(TribunTrends.com/TribunJakarta.com)