Banjir Jakarta Makan Korban Jiwa, BPBD Sebut Edukasi Mitigasi Harus Digencarkan
February 04, 2026 09:07 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Banjir yang merendam Jakarta awal tahun 2026 ini menyisakan duka mendalam. Bukan sekadar kerugian materi, nyawa warga menjadi taruhan akibat kurangnya pemahaman mengenai keselamatan saat bencana melanda.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menegaskan bahwa keberhasilan penanganan bencana tidak hanya diukur dari cepatnya air surut, melainkan dari nihilnya korban jiwa.

Sebanyak tiga orang meninggal akibat tersengat listrik saat rumah mereka terendam banjir di kawasan Cilincing, Jakarta Utara pada Senin (12/1/2026).

Di Kelurahan Kalibaru, korban bernama Maya Saputri (43), seorang ibu rumah tangga. Ia tersetrum saat merapikan rumahnya yang terendam banjir di RT 11 RW 08.

Sementara itu, dua korban lainnya merupakan pasangan suami istri, Hadi Warno (54) dan Naning Juniarty (49), warga Blok R Gang II Nomor 12 RT 004 RW 008 Kelurahan Semper Barat.

Keduanya ditemukan mengambang di dalam rumah oleh anaknya sepulang sekolah sekitar pukul 10.30 WIB.

Ketua Subkelompok Urusan Pengendali'an dan Operasi BPBD DKI Jakarta, Muhamad Thoufiq Hidayatulah, menyoroti insiden warga yang tewas tersengat listrik saat banjir.

Hal ini dinilai sebagai bukti bahwa edukasi mitigasi non-struktural harus semakin masif dilakukan.

"Kami tidak mau kejadian seperti kemarin, ada warga tetap kesetrum karena bertahan di rumah sementara listrik masih menyala. Pengetahuan masyarakat harus terus dikejar agar tidak ada korban jiwa lagi," ujar Thoufiq dalam podcast Ruang Jakarta, Selasa (3/2/2026).

 Lawan Geografis dan Kelalaian

Thoufiq menjelaskan, Jakarta menghadapi tantangan geografis yang berat dengan 40 persen wilayah berada di bawah permukaan laut. Ditambah kiriman air dari 13 sungai besar, sistem drainase kota sering kali kewalahan saat curah hujan menembus angka 200 mm per hari.

Namun, di luar faktor alam, keteledoran warga menjadi ancaman serius lainnya. Selain risiko tersengat listrik saat banjir, keteledoran dalam penggunaan listrik juga memicu tingginya angka kebakaran di ibu kota.

BPBD mencatat sepanjang tahun 2025, terjadi sekitar 700 hingga 1.000 kejadian kebakaran di Jakarta. Artinya, dalam satu hari bisa terjadi dua hingga tiga kali kebakaran.

"Sekitar 70 persen penyebabnya adalah korsleting listrik. Banyak warga yang kurang memperhatikan kapasitas kabel atau beban colokan di rumah yang berlebihan. Ini yang kami sebut risiko yang harus dikurangi melalui edukasi," jelasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.