Awalnya Iseng, Kisah Ridwan Syukur Karya Tepak Tari Lampung Dibawa ke Acara Internasional
February 04, 2026 10:55 AM

- Sejak tahun 2006, Iwan (55), seorang perajin asal Lampung, terus konsisten menggeluti pembuatan tepak tari dan berbagai kerajinan khas Lampung lainnya.

Berawal dari mencoba-coba, kini hasil tangannya menjadi incaran banyak sanggar tari, sekolah, hingga komunitas seni di Lampung.

Ketertarikan Iwan pada kerajinan tepak tari bermula dari rasa iseng.

Namun, kedekatannya dengan budaya Lampung membuat ia semakin mantap menekuninya.

Iwan belajar membuat tepak tari dan suvenir ini sepenuhnya secara otodidak.

Ia mengatakan bahwa dirinya berkarya sendiri, mencoba sendiri sampai sekarang.

Bukan hanya tepak, ia juga membuat tempat tisu, gantungan kunci, tempelan kulkas, miniatur patung khas Lampung, dan kipas untuk perlengkapan tari.

Dalam proses pembuatannya, ia bahkan bereksperimen mengubah ukuran tepak tari menjadi lebih kecil agar bisa dipakai oleh pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa.

Memasuki 19 tahun perjalanan, Iwan mengaku semua ia jalani “seperti air mengalir”.

Setiap tahun, ia mencoba berinovasi agar karya-karyanya memiliki nilai khas. “Akhirnya dengan coba-coba itu ada nilai tersendiri,” ucapnya.

Dalam perjalanan itu, suka duka tentu ia alami.

Ia pernah kewalahan mengejar pesanan yang datang dalam jumlah besar.

Sebab, semuanya ia lakukan sendiri dan tidak ada bantuan dari orang lain.

Sebab waktu yang diberikan terlalu singkat dan tidak tertangani.

Namun, ia ikhlas karena mungkin bukan rezekinya.

Ia mengaku tidak mau memaksakan diri, sebab baginya rezeki seseorang sudah diatur dan tidak akan tertukar.

Meski pesanan kian banyak, Iwan tetap memilih bekerja sendiri tanpa tim bantuan.

Ia mengaku pernah mengirim karyanya untuk acara internasional di Taman Mini.

Saat itu, ia membuat sekitar 20 tepak yang diberikan kepada tamu-tamu besar.

Meski waktu pengerjaan mepet, semua selesai tepat waktu.

Untuk satu tepak tari lengkap dengan tutup dan ornamennya, Iwan membutuhkan waktu satu hingga dua hari pengerjaan.

Ia selalu menyediakan stok sekitar 20 tepak tari untuk berjaga-jaga jika ada permintaan mendadak, baik dari sanggar maupun pihak lainnya.

“Kalau anak-anak sanggar minat, saya sudah siap, tinggal kirim,” jelasnya.

Selama bertahun-tahun, pemasaran tepak tari Iwan mengandalkan rekomendasi dari mulut ke mulut, terutama dari sanggar-sanggar tari di Lampung.

Dahulu, Iwan pernah mencoba menitipkan hasil karya-karyanya di beberapa toko oleh-oleh di Lampung.

Namun kini ia lebih fokus pada pelanggan tetap dari komunitas seni serta beberapa pesanan lewat media sosial pribadi miliknya.

Menggunakan Kayu Cempaka untuk Kualitas Terbaik

Dalam hal material, Iwan memilih kayu cempaka sebagai bahan baku utama dibandingkan dengan jenis kayu lainnya.

Sebab, jika menggunakan kayu lain, ia khawatir akan muncul bubuk kayu, pelapukan, dan kualitas yang tidak terjamin.

Menurutnya, kayu cempaka dinilai lebih awet dan cocok untuk kerajinan dekoratif seperti tepak tari.

Harga tepak tari buatan Iwan dipatok di angka:
• Rp300 ribu untuk tepak polos
• Rp325 ribu–Rp350 ribu jika diberi nama atau label sanggar/sekolah

Ia mengatakan bahwa penjualannya tidak menentu.

Dalam sebulan, ia bisa menjual tiga hingga puluhan tepak. Omzet bulanannya pun variatif.

Selain tepak tari, Iwan juga memproduksi berbagai kerajinan khas Lampung, seperti:
• Gantungan kunci
• Tempelan kulkas
• Patung
• Lampu dekoratif

Untuk gantungan kunci, harga agen berkisar Rp10 ribu, sementara tempelan kulkas Rp14 ribu.

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Iwan tetap teguh melestarikan kerajinan khas Lampung lewat tangan-tangannya.

Meski bekerja seorang diri, ia tak pernah lelah berkreasi dan berencana tetap menekuni profesi ini.

Program: Local Experience
Editor: Faiz Fadhilah

#localexperience #kisahinspiratif #lampung #umkm #indonesia

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.