Injil Katolik Misa Kamis 5 Februari 2026 Lengkap Mazmur Tanggapan
February 04, 2026 11:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak Injil Katolik misa Kamis 5 Februari 2026.

Injil katolik misa hari Kamis lengkap renungan harian katolik. 

Kamis 5 Februari 2026 merupakan hari Kamis, perayaan wajib Santa Agatha, Perawan dan Martir, Yakub, Bapa Bangsa, dengan warna liturgi merah.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Kamis 5 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Kamis 5 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

Bacaan Pertama 1 Raja-Raja 2:1-4.10-12

"Aku akan mengakhiri perjalananku yang fana ini. Kuatkanlah hatimu, dan berlakulah kesatria."

Saat kematian Daud sudah mendekat. Pada suatu hari ia berpesan kepada Salomo, anaknya: “Aku ini akan mengakhiri perjalananku yang fana. Maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah ksatria.

Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa. 

Semoga dengan demikian engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju, dan semoga Tuhan menepati janji yang diucapkan-Nya tentang aku, yakni:

Jika anak-anakmu laki-laki tetap hidup di hadapan-Ku dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel .” 

Kemudian Daud mendapat istirahat bersama-sama nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di kota Daud. Jadi Daud memerintah orang Israel selama empat puluh tahun;

di Hebron ia memerintah tujuh tahun dan di Yerusalem tiga puluh tiga tahun. Kemudian Salomo duduk di atas takhta Daud, ayahnya dan menjadi kokohlah kerajaannya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Kidung Tanggapan 1Tawarikh 29:10.11ab.11d-12a.12bcd

Ref. Ya Tuhan, Engkau menguasai segala-galanya.

Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allahnya bapa kami Israel , dari sediakala sampai selama-lamanya.

Ya Tuhan, milik-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya segala-galanya yang ada di langit dan di bumi.

Ya Tuhan, milik-Mulah kerajaan. Engkaulah yang tertinggi melebihi segala-galanya. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu.

Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya. Dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan, dalam tangan-Mulah kuasa untuk memperluas dan memperkokoh kerajaan.

Bait Pengantar Injil Alleluya
Ref. Alleluya

Ayat. Kerajaan Allah sudah dekat. Percayalah kepada Injil.

Bacaan Injil Markus 6:7-13

"Yesus mengutus murid-murid-Nya."

Sekali peristiwa, Yesus memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka,

kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju. 

Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka." 

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

“Pergi dengan Hati Kosong, Pulang dengan Hidup yang Diperbarui” Injil: Markus 6:7–13

Iman yang Tidak Disimpan, Tetapi Diutus

Banyak orang berpikir iman adalah sesuatu yang disimpan: di hati, di gereja, di doa pribadi. Tetapi Injil hari ini justru menunjukkan arah sebaliknya. Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka.

“Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua.” (Mrk 6:7)
Inilah pergeseran penting dalam kehidupan rohani: dari “mengikuti” menjadi “diutus”.

Dalam renungan Katolik harian Markus 6:7–13, kita melihat bahwa iman Kristen sejak awal bukan iman yang statis. Iman selalu bergerak. Selalu keluar. Selalu membawa kabar baik ke ruang-ruang kehidupan nyata.

Bagi remaja, Gen Z, dan orang tua milenial, Injil ini adalah undangan untuk bertanya:

Apakah imanku hanya berhenti di bangku gereja, atau sudah berjalan dalam hidup sehari-hari?

Yesus Mengutus: Murid yang Dipercaya Meski Masih Rapuh

Menarik bahwa Yesus mengutus para murid bukan setelah mereka sempurna, tetapi justru ketika mereka masih sering salah paham, masih takut, masih ragu.

Namun Yesus tetap mempercayakan misi kepada mereka.

Ini adalah kabar baik bagi kita. Tuhan tidak menunggu kita “siap sepenuhnya”. Ia memanggil dan membentuk kita justru di dalam perutusan.

Yesus memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat. Artinya, Ia tidak hanya mengutus, tetapi juga memperlengkapi.

Dalam renungan Injil hari ini, kita belajar bahwa perutusan Kristen selalu berjalan bersama rahmat. Tuhan tidak hanya berkata “Pergilah”, tetapi juga “Aku menyertai engkau.”

Pergi dengan Sederhana: Spiritualitas Tanpa Beban

Yesus memberi perintah yang sangat tidak biasa:

“Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, kecuali tongkat; jangan membawa roti, bekal, atau uang dalam ikat pinggang.” (Mrk 6:8)
Ia menyuruh mereka pergi dengan sangat sederhana.

Mengapa?

Karena perutusan murid bukan dibangun di atas rasa aman dari benda, melainkan kepercayaan kepada Allah.

Ini sangat relevan bagi kita hari ini.

Kita hidup di zaman “bekal berlebih”: informasi berlebih, rencana berlebih, kontrol berlebih. Kita sering menunda melangkah karena merasa belum cukup siap, belum cukup mampu, belum cukup aman.

Tetapi Yesus berkata: berjalanlah dengan ringan.

Dalam spiritualitas Katolik, kesederhanaan bukan kemiskinan kosong, tetapi kebebasan batin. Hati yang tidak terlalu penuh sehingga masih ada ruang bagi Tuhan dan sesama.

Refleksi:

Apa “bekal” yang sering membuatku sulit taat: rasa aman palsu, gengsi, ketakutan, atau kontrol?

Tinggallah di Satu Rumah: Kesetiaan dalam Relasi

“Kalau kamu sudah masuk ke suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.” (Mrk 6:10)
Para murid diajak untuk tidak berpindah-pindah demi kenyamanan, tetapi belajar setia. Membangun relasi. Hadir sungguh-sungguh.

Perutusan Kristen bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menghadirkan diri.

Bagi kita, ini berarti: iman tidak hanya diungkapkan lewat kata-kata rohani, tetapi lewat kesetiaan dalam keluarga, kejujuran dalam studi dan pekerjaan, kepedulian dalam pertemanan, dan kehadiran dalam komunitas.

Dalam proyek The Katolik renungan harian, Injil ini mengingatkan bahwa pewartaan paling kuat sering kali bukan di mimbar, tetapi di meja makan, ruang kelas, kantor, dan rumah.

Penolakan Tidak Menghentikan Misi

Yesus tidak menutup mata terhadap kenyataan pahit: akan ada penolakan.

“Kalau suatu tempat tidak menerima kamu… kebaskanlah debu yang ada di kakimu.” (Mrk 6:11)
Ini bukan sikap marah, tetapi sikap bebas. Murid Kristus tidak hidup dari penerimaan manusia, tetapi dari ketaatan kepada Allah.

Banyak orang kehilangan semangat karena ditolak, tidak diapresiasi, atau disalahpahami. Injil hari ini mengajarkan: jangan biarkan penolakan menjadi identitas.

Kebaskan debu. Lanjutkan perjalanan.

Yesus sendiri baru saja ditolak di Nazaret (Mrk 6:1–6). Tetapi Ia tidak berhenti. Ia mengutus.

Refleksi:

Apakah aku berhenti berbuat baik karena tidak dihargai?

Atau aku melanjutkan karena aku tahu kepada siapa aku mengabdi?

Buah Perutusan: Pertobatan dan Penyembuhan

Markus mencatat hasil perutusan para murid:

Dalam renungan Katolik Markus 6:7-13, kita melihat bahwa perutusan selalu membawa dampak ganda: rohani dan konkret. Pertobatan dan penyembuhan. Jiwa dan kehidupan.

Kita mungkin tidak melakukan mukjizat spektakuler, tetapi setiap murid Kristus dipanggil menjadi saluran pemulihan: lewat pengampunan, pendampingan, doa, kepedulian, dan kesaksian hidup.

Relevansi untuk Hidup Kita Hari Ini

Perutusan hari ini tidak selalu berarti pergi jauh. Sering kali justru berarti setia di tempat kita berada.

Menjadi murid Kristus di sekolah
Menjadi murid Kristus di media sosial
Menjadi murid Kristus dalam keluarga
Menjadi murid Kristus di tengah luka dan konflik
Yesus mengutus murid dua-dua. Artinya: kita tidak berjalan sendiri. Gereja adalah komunitas peziarah.

Bagi remaja dan Gen Z Katolik, Injil ini adalah undangan untuk melihat iman bukan sebagai identitas pasif, tetapi sebagai cara hidup.

Bagi orang tua milenial, Injil ini menjadi ajakan untuk menjadikan rumah sebagai ladang misi.

Refleksi Pribadi

Luangkan waktu sejenak hari ini:

Di mana Tuhan sedang mengutus aku sekarang?
“Bekal” apa yang perlu kulepaskan agar lebih bebas mengikuti-Nya?
Kepada siapa aku dipanggil membawa kabar baik lewat sikap dan kehadiranku?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau tidak hanya memanggil kami untuk mengikuti-Mu, tetapi juga mengutus kami untuk mewartakan kasih-Mu.

Bebaskan kami dari rasa aman palsu, dari ketakutan untuk melangkah, dan dari keinginan untuk selalu dimengerti.

Ajarlah kami berjalan dengan sederhana, percaya kepada penyelenggaraan-Mu, dan setia dalam perutusan kecil setiap hari.

Utuslah kami, Tuhan, dan berjalanlah bersama kami. Amin.

Penutup: Murid yang Bergerak

Gereja tidak bertumbuh karena banyak yang menonton, tetapi karena banyak yang diutus.

Iman tidak menjadi hidup karena disimpan, tetapi karena dibagikan.

Semoga renungan Katolik harian Markus 6:7–13 ini menolong kita semua untuk berani melangkah sebagai murid Kristus dengan hati yang ringan, iman yang sederhana, dan kasih yang bergerak. (Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.