Tragedi Kemanusiaan di Ngada, Bocah 10 Tahun Akhiri Hidup di Pohon Cengkeh
February 04, 2026 12:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, NGADA - Pohon cengkeh di depan gubug kayu menjadi saksi tragedi memilukan yang mencoreng institusi pendidikan di tanah air.

Pohon cengkeh di depan rumah seorang nenek berusia 80 tahun di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada itu menjadi tempat terakhir seorang anak berusia 10 tahun berinisial YBS mengakhiri hidupnya.

Anak bungsu dari lima bersaudara tersebut mengakhiri hidup dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang.

Miris memang, seorang anak nekat mengakhiri hidup karena tekanan ekonomi keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan ekstrem.

YBS sempat meninggalkan sepucuk surat yang ditujukan untuk ibunya.

Dalam surat yang ditulis dalam bahasa Ngada tersebut, korban menyampaikan salam perpisahan untuk sang ibu.

KERTAS TII MAMA RETI 

MAMA GALO ZEE 

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA 

 Yang mana memiliki arti sebagai berikut: SURAT BUAT MAMA RETI MAMA SAYA PERGI DULU MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL) JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)  TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA SELAMAT TINGGAL MAMA

YBS yang saat ini duduk di kelas IV itu memang tidak tinggal bersama ibunya.

Dia selama ini dirawat oleh sang nenek.

Korban dan sang nenek tinggal di sebuah gubug bambu berukuran tak lebih dari 2x3 meter di Desa Naruwolo.

Saat kejadian, korban tidak masuk sekolah dan sang nenek sedang mandi di sebuah sungai tak jauh dari gubug yang ditinggalinya.

Saksi yang pertama kali melihat korban tewas gantung diri adalah Kornelis Dopo (59), warga yang tinggal tak jauh dari lokasi kejadian.

Dikutip dari Kompas.com, Kornelis mengaku mengatahui korban meninggal dunia dengan posisi gantung diri saat hendak menuju ke area sekitar gubug milik nenek korban sekitar pukul 11.00 Wita.

Saat itu Kornelis mengaku melihat dari kejauhan korban sudah kondisi tergantung di pohon cengkeh.

Pria 59 tahun tersebut segera berlari ke arah lokasi sekaligus berteriak meminta pertolongan warga setempat.

Warga yang mendengar teriakan Kornelis langsung berbondong-bondong datang melihat kejadian dan menghubungi pihak polisi.

Warga lainnya bernama Gregorius dan Rofina mengaku korban memang sempat terlihat murung sebelum kejadian.

Keduanya bahkan sempat berbincang dengan korban sekitar pukul 08.00 Wita.

Saat itu kedua saksi melihat korban sedang duduk di bale-bale atau sebuah tempat duduk yang terbuat dari bahan bambu, lokasinya di luar pondok itu.  

Baca juga: Mantan Lurah Tegaltirto Divonis 4 Tahun Penjara, Kasus Tanah Kas Desa Sleman

Keduanya sempat mengajak korban ngobrol. Mereka juga bertanya pada korban, di mana keberadaan sang nenek sekaligus menanyakan kenapa korban tidak sekolah.

Saat itu tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari korban.

Sementara itu ibu korban MGT (47) mengaku anak bungsunya sempat menginap di rumahnya pada malam sebelum kejadian.

Saat tidur di rumahnya, YBS memang sempat meminta pena dan buku.

Namun permintaan itu belum bisa dikabulkan karena terkendala perekonomian keluarga.

Pagi harinya, sekitar pukul 06.00 Wita, korban diantar dan dititipkan ke tukang ojek menuju pondok sang nenek.

Sebelum berpisah, wanita berusia 47 tahun tersebut sempat menyampaikan nasihat kepada korban.

Dia mengatakan supaya korban rajin sekolah.

Di sisi lain, ibu korban juga menyampaikan kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, sehingga untuk mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan pun tidak mudah.

Sementara itu sang nenek juga tidak menyangka cucunya nekat mengakhiri hidup.

Korban selama ini memang diasuh oleh neneknya sejak berusia 1 tahun 7 bulan.

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan sejak 11–12 tahun lalu dan tak pernah kembali.

Sehari-hari, selain bersekolah, korban kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi dan kayu bakar.

Untuk makan, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, pisang dan ubi menjadi menu paling sering.

Menurut keterangan nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam dan penurut.

Ia tak pernah menunjukkan perilaku aneh.

Keluhannya hanya sederhana, buku tulis dan pena untuk sekolah.

“Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” tutur sang nenek lirih, saat temu di Sa’o, Selasa (3/02/2026).

Tetangga korban bernama Lipus Djio (47) mengaku korban merupakan anak yang periang dan cerdas.

Korban ini merupakan teman dari anaknya.

"Mereka biasa main sama-sama. Anak ini periang. Dia juga anak cerdas,” ucap Lipus.

Lipus menuturkan bahwa, kondisi keluarga korban memang memiliki banyak rintangan. Itulah mengapa korban memilih tinggal bersama neneknya di pondok.

Menurut Lipus, anak berusia 10 tahun tersebut kurang mendapatkan kasih sayang orang tua.

"Yang bikin kami tidak mengerti adalah mengapa anak sekecil itu bisa bunuh diri? Begitu beratkah beban yang ia pikul?” ucap Lipus.

Sementara itu Kepala Seksi Humas Polres Ngada Inspektur Dua Benediktus E Pissort menyatakan dugaan sementara kasus ini adalah korban bunuh diri.

Meski begitu, Benediktus dalam sambungan telepon menegaskan, pihak kepolisian masih terus melakukan pendalaman untuk mengungkap penyebab kematian korban.

Sementara terkait dengan sepucuk surat yang ditemukan di sekitar lokasi, Benediktus menyebut tulisannya identik dengan tulisan korban.

"Ini berdasarkan hasil pencocokan dengan tulisan korban di beberapa buku tulis. Penyidik menemukan adanya kecocokan,” sebut Benediktus.

Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief turut buka suara atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Ngada tersebut.

Dia mendesak Kemendikdasmen untuk mengusut tuntas latar belakang kasus bunuh diri siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

 “Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar," ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa (3/2/2026) dikutip dari laman Fraksi PKB DPR RI pada hari yang sama.

Menurut Habib Syarief, kejadian tersebut tidak bisa dibiarkan.

"Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali," tuturnya.

Dalam hal ini, dia menuntut Kemendikdasmen untuk melakukan investigasi untuk memastikan kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan di wilayah tersebut.

 "Karena sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, harusnya kebutuhan dasar pendidikan dasar seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” ucapnya.

 “Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” tegasnya.

Bagi Anda yang merasa kesepian dan memiliki permasalahan mental, jangan menunda untuk meminta pertolongan profesional.

Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu.

Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup.

Anda tidak sendiri.

Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.