TRIBUNJOGJA.COM - Kalau diminta membayangkan Santorini, pikiran kita pasti langsung tertuju pada deretan bangunan putih bersih dengan kubah biru yang kontras dengan langit.
Pemandangan ini seolah sudah menjadi "seragam resmi" pariwisata Yunani. Namun, percayalah bahwa ribuan tahun lalu, Santorini tidak terlihat seperti ini.
Bukan karena permintaan agen travel atau biar terlihat bagus di kamera, pilihan warna ikonik ini lahir dari kombinasi wabah penyakit, kebijakan diktator, hingga cara unik warga bertahan dari panas yang menyengat.
Jauh sebelum ada cat tembok modern, warga Santorini menggunakan kapur (lime) untuk melapisi rumah mereka. Pada tahun 1938, Yunani dilanda wabah kolera yang mengerikan.
Pemerintah saat itu memerintahkan warga untuk memutihkan rumah mereka dengan kapur karena kapur mengandung bahan desinfektan alami.
Jadi, warna putih yang kita puja sekarang sebenarnya adalah sisa-sisa dari upaya sanitasi massal untuk menghentikan kuman.
Kepulauan Cyclades punya satu musuh utama: matahari yang luar biasa terik.
Karena kayu dan bahan bangunan lainnya sulit didapat, warga membangun rumah dari batu vulkanik yang gelap.
Masalahnya, batu gelap menyerap panas. Dengan mengecat dinding menjadi putih, sinar matahari pun terpantul.
Hasilnya? Interior rumah tetap sejuk meskipun di luar sedang "membara". Ini adalah teknologi ramah lingkungan jauh sebelum istilah itu populer.
Banyak yang mengira warna biru dipilih untuk menyamai warna laut. Padahal, alasan aslinya jauh lebih ekonomis.
Warga kelas pekerja di Santorini menggunakan bubuk pembersih bernama Loulaki (semacam nila untuk mencuci baju agar putihnya cemerlang).
Bubuk ini murah dan mudah ditemukan di setiap rumah. Ketika dicampur dengan kapur, Loulaki menghasilkan warna biru cerah yang kini kita lihat di kubah-kubah gereja.
Sejarah warna ini juga punya sisi politis. Pada masa kediktatoran Loannis Metaxas tahun 1930-an, keseragaman warna putih dan biru diwajibkan untuk menciptakan kesan ketertiban dan harmoni di seluruh kepulauan Yunani.
Mexatas ingin menghilangkan kesan kumuh dan memberikan citra bangsa yang bersih dan terorganisir kepada dunia luar.
Pada tahun 1967, rezim militer Yunani meresmikan aturan warna ini menjadi undang-undang.
Tujuannya adalah untuk memperkuat identitas nasional karena putih dan biru adalah warna bendera Yunani.
Sejak saat itu, setiap bangunan baru di Santorini (khususnya di area bersejarah) wajib mengikuti standar warna ini.
Apa yang bermula dari paksaan, kini justru menjadi magnet devisa terbesar bagi negara tersebut.
(MG ADZKIA HAFIDZA ELFADZ)