TRIBUNMANADO.CO.ID - Nuansa budaya Tonsea begitu kental terasa di Convention Hall Sutan Raja Hotel Minut, jalan trans ruas Bitung Manado, Desa Watutumou II, Kecamatan Kalawat, Selasa (3/2/2026).
Puluhan pria dan wanita tampak mengenakan pakaian adat Minahasa lengkap dengan selempang warna merah bermotif rumbai kuning bertuliskan Paimpuluan Nuwu Ne Tonsea.
Mereka hadir menjadi bagian dari kegiatan Ilong Marendeman atau Festival Saling Menyayangi yang digelar oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Dalam kegiatan tersebut, diperlombakan Tarian Maengket dan Tarian Tumatenden tingkat pelajar. Para peserta yang terdiri dari kelompok laki-laki dan perempuan ini tampil memukau dengan balutan pakaian adat Minahasa.
Secara geografis, lokasi pelaksanaan Ilong Marendeman di Convention Hall Sutan Raja Hotel ini berjarak:
8,6 Kilometer (KM) dari Kantor Bupati Minut di Kelurahan Airmadidi Atas, dengan waktu tempuh sekitar 17 menit.
6,1 Kilometer (KM) dari Interchange Ring Road Manado, yang hanya memakan waktu 11 menit menggunakan kendaraan motor.
Festival ini dibuka secara resmi oleh Bupati Minut Joune Ganda yang diwakili oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Minut, Novly G. Wowiling.
Menariknya, di tengah kemeriahan festival, Pemkab Minut melakukan sebuah hal baru sebagai bentuk apresiasi kepada pejabat yang memasuki purna bakti.
Di atas panggung dengan latar layar LED besar, dilangsungkan prosesi pemberian Wuyang atau kain adat.
Kain adat tersebut diserahkan oleh tokoh adat Minahasa Utara kepada Sekda Novly Wowiling, yang kemudian memakaikannya kepada Kepala Dinas Pariwisata Minut, Femmy Pangkerego, sebagai tanda penghormatan menjelang masa purna bakti sebagai abdi negara.
Selain prosesi adat, acara juga dirangkaikan dengan seremoni Hari Ulang Tahun (HUT) ke-60 Femmy Pangkerego, yang diketahui juga menjabat sebagai Ketua Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) Kabupaten Minut.
"Prosesi melepas pejabat yang purna bakti di lingkungan Pemkab Minut ini adalah yang pertama kali dilakukan, dan diawali kepada Ibu Kadis Pariwisata Femmy Pangkerego," ujar Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Umbase Mayuntu, di depan pintu masuk gedung di tengah cuaca panas terik.
Menurut Umbase, prosesi ini merupakan bentuk ucapan terima kasih pemerintah daerah atas pengabdian sebagai ASN selama puluhan tahun.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, komunitas seni, serta pelaku pariwisata.
Dalam sambutan Bupati Joune Ganda yang dibacakan Sekda Novly Wowiling, pemerintah memberikan apresiasi tinggi kepada panitia. Festival ini dinilai bukan sekadar seremoni, melainkan momentum memperkuat identitas masyarakat.
"Ilong Marendeman mengajarkan kita untuk saling menghargai, saling menolong, dan saling menguatkan. Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri, tetapi dalam kebersamaan dan persaudaraan," tegas Novly di atas panggung.
Ia menambahkan bahwa nilai kasih dan solidaritas harus menjadi fondasi sosial di tengah zaman yang individualistis.
Pemkab Minut memandang pelestarian budaya adalah bagian dari pembangunan manusia seutuhnya, bukan sekadar infrastruktur fisik.
"Budaya adalah kekuatan sosial sekaligus potensi ekonomi. Karena itu, pemerintah akan terus mendukung kegiatan adat dan budaya sebagai bagian dari pariwisata berkelanjutan," tandasnya. (crz)