Sopir Truk di Tarakan Sulit Dapat Solar, Terpaksa Bermalam di APMS, Begini Penjelasan Pertamina
February 04, 2026 01:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Beberapa pekan terakhir terlihat truk antre panjang di salah satu Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Jalan Aki Balak Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Kalimantan Utara.

Pantauan TribunKaltara hari ini, Rabu (4/2/2026) truk yang antre sudah tidak sepanjang seperti yang terlihat kemarin. Tampak sejumlah truk besar parkir rapat, di pinggir Jalan Aki Balak. 

Bahkan ada truk yang bermalam di lokasi demi mendapatkan solar. Menurut Aleks salah satu satu  sopir, akhir-akhir ini solar semakin sulit diperoleh.  Tentunya ini sangat berdampak pada aktivitas kerja dan penghasilan sopir.

“Yang ngantri ini ada yang dari subuh, ada juga yang dari kemarin. Kemarin itu batas pengisian sampai jam setengah tiga, ada yang dapat, ada juga yang tidak,” ujar sopir yang kerjanya sehari-hari angkut material bangunan.

Baca juga: Stok Pertalite dan Solar di Malinau Kini Kembali Normal, Cukup hingga Natal dan Tahun Baru

Diakui Aleks antrean panjang truk di APMS, karena stok solar di agen penyalur sering kali habis lebih cepat dari biasanya. Jika sebelumnya kuota solar bisa mencukupi hingga satu bulan penuh, kini hanya bertahan sekitar 20 hari.

“Dulu satu bulan full, sekarang paling cuma 20 hari. Dari tanggal 2 sampai 20 sudah habis. Sisanya itu kosong,” katanya.

Ia mengatakan, 10 hari tanpa pengisian solar menjadi masa paling berat bagi para sopir. “Selama 10 hari kosong itu kami mau kerja, mau bikin kegiatan apa pun nggak bisa. Karena nggak ada solar,” ucapnya.

Akibat keterbatasan stok solar, para sopir terpaksa berebut antrean sejak pagi hari. Bahkan, ada yang sudah datang sejak dini hari demi memastikan mendapatkan solar “Ini sudah kayak rebutan. Dari tanggal 2 Februari 2026 itu semua sudah muncul di sini,” katanya.

Aleks mengaku sudah mencoba mencari informasi dan menyampaikan keluhan, namun belum menemukan tempat pengaduan yang benar-benar bisa membantu. “Kalau ada tempat mengadu ya pasti kami mengadu. Kita ini kerja kok susah sekali dapat BBM,” keluhnya.

Ia menjelaskan, setiap kendaraan dibatasi kuota 48 liter per hari, yang sebenarnya cukup untuk satu hari kerja. “48 liter itu per hari. Untuk mobil sebesar ini sebenarnya cukup, asal dapat,” jelasnya.

Baca juga: Atasi Antrean Kendaraan di SPBU, Satpol PP Bulungan Tunggu Regulasi: Penertiban Langkah Terakhir

Namun masalahnya, sering kali solar sudah habis sebelum antreannya sampai. “Kalau 48 liter itu habis, ya parkir. Nggak bisa kerja,” tambahnya.

Aleks menyebut kondisi sulitnya mendapatkan solar ini bukan hal baru. Ia mengaku sudah merasakannya sejak beberapa tahun lalu.

“Bukan baru, dari awal berdirinya pabrik kertas itu sudah seperti ini. Sejak kendaraan-kendaraan besar diarahkan ke sini semua,” ungkapnya.

Menurutnya, SPBU atau APMS lain di Tarakan sudah tidak lagi melayani kendaraan besar, sehingga seluruh antrean menumpuk di satu titik.

“Dulu ada di tempat lain, tapi karena macet dan lain-lain, akhirnya diarahkan ke sini semua,” katanya.

Tak jarang, para sopir harus meninggalkan truk semalaman di lokasi antrean karena solar keburu habis.

“Kalau nggak dapat, mobil ditinggal saja di situ. Besok lanjut lagi,” ujarnya.

Namun, kondisi ini juga memunculkan risiko baru, yakni pencurian.

“Sering. Solar dicuri, ban serep diambil, bahkan setir juga pernah diambil,” katanya.

Ia mengaku tidak mungkin terus berjaga. “Sudah capek kerja siang, mau nungguin lagi. Kadang ketiduran, pas bangun sudah ada yang diambil,” tuturnya lirih.

Di tengah kelangkaan, Aleks juga mengaku sering melihat praktik penjualan solar ilegal di luar jalur resmi. “Ada yang datang ngantarkan solar, kita butuh ya terpaksa beli,” ujarnya.

Harga solar ilegal tersebut jauh di atas harga resmi. “Harga resmi kan Rp6.800 per liter. Kalau yang jualan itu bisa sampai Rp10 ribu, bahkan lebih, tergantung mereka,” ungkapnya.

Menurut Aleks, praktik ini seharusnya tidak dibiarkan. “Itu kan sebenarnya nggak boleh. Tapi karena orang butuh, ya terpaksa,” katanya.

Aleks berharap Pertamina dan pihak terkait dapat mendistribusikan solar secara merata ke seluruh SPBU atau APMS di Tarakan agar antrean tidak menumpuk di satu titik. “Kalau bisa setiap pom bensin itu ada solar. Jadi nggak numpuk begini,” harapnya.

Alexk sopir truk antre solar 04022026.jpg
SOPIR TRUK-Aleks salah satu sopir truk yang rela antre panjang di depan APMS Jalan Aki Balak Kelurahan Karang Harapan Tarakan, Kalimantan Utara untuk mendapatkan solar.

Ia juga menyoroti perlunya pengawasan distribusi agar solar subsidi benar-benar tepat sasaran.

“Kita ini pakai untuk kerja, betul-betul untuk mesin. Jangan sampai yang butuh malah susah,” pungkasnya.

Para sopir berharap keluhan ini bisa sampai ke pihak berwenang dan mendapat perhatian serius, agar roda ekonomi mereka tidak terus tersendat hanya karena sulit mendapatkan solar.

Sementara itu, Sales Branch Manager (SBM) Kaltimut V Fuel - Muhammad Naufal yang dikonfirmasi dalam keterangannya menyampaikan saat ini londisi antrean di SPBU Mini (Aghelia Putri - 65771004) dalam kondisi normal.

"Karena SPBU Reguler di Tarakan tidak melayani Penjualan Bio Solar, sehingga konsumen diarahkan ke SPBU Mini," lanjutnya.

Di awal bulan yang juga bertepatan dengan hari libur, tidak ada penyaluran Bio Solar sehingga akumulasi antrean terjadi di SPBU tersebut.

"Untuk diketahui bahwa pembelian atau melayani Bio Solar di Kota Tarakan hanya melalui APMS," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.