Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, Komnas PA Bandar Lampung: Negara Harusnya Hadir
February 04, 2026 01:19 PM

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Kota Bandar Lampung, Ahmad Aprilindi Passa turut menyoroti kasus bocah SD akhiri hidup di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Komnas PA Bandar Lampung, insiden tersebut menjadi peringatan agar pemenuhan hak anak wajib jadi prioritas.

Kejadian itu tragis lantaran merenggut nyawa seorang bocah SD berinisial YBR (10), ditemukan meninggal dunia dengan cara tidak wajar.

Kematian siswa kelas IV SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut menyisakan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat.

Sebab YBR, yang berasal dari keluarga kurang mampu dan tinggal bersama ibu tunggal dengan lima anak, nekat mengakhiri hidup. Itu setelah permintaannya untuk dibelikan buku dan pulpen tidak dapat dipenuhi orang tua.

Baca juga: Fakta Mengejutkan Eks Kapolres Ngada Pakai Nama Samaran saat Asusila Anak

Mengingat orang tuanya kesulitan ekonomi meskipun permintaan si anak untuk menunjang pendidikannya.

Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Kota Bandar Lampung, Ahmad Aprilindi Passa, menegaskan pentingnya pemenuhan hak pendidikan anak. Terutama bagi mereka yang hidup dalam kondisi ekonomi sulit.

Ahmad menuntut pemerintah untuk lebih hadir dan proaktif dalam menangani isu-isu kemiskinan yang berimbas pada hak anak, seperti yang terjadi dalam kasus YBR.

"Kami sangat miris dan prihatin atas kejadian ini. Pemenuhan hak-hak dasar anak, terutama dalam pendidikan, seharusnya menjadi prioritas pemerintah. Negara harusnya hadir memastikan anak-anak dari keluarga miskin tidak terlantar dan mendapatkan hak pendidikan yang layak," ujar Ahmad Rabu (4/2/2026).

Lebih lanjut, Ahmad menekankan bahwa pemerintah perlu melakukan pendataan yang lebih akurat dan menyeluruh terkait anak-anak dan keluarga miskin di seluruh wilayah Indonesia, termasuk daerah pelosok.

Tujuannya supaya bantuan dan intervensi dapat tepat sasaran dan mencegah peristiwa tragis seperti yang dialami YBR.

"Penjangkauan terhadap keluarga miskin di pelosok negeri harus dilakukan secara menyeluruh. Database anak dan keluarga miskin perlu diperbarui dan dikelola dengan baik agar bantuan bisa langsung diberikan kepada mereka yang membutuhkan," tambahnya.

Selain masalah ekonomi, Ahmad juga mencatat adanya tekanan psikologis yang dialami anak-anak dalam keluarga miskin.

Dalam kasus YBR, selain beban keluarga yang berat, tekanan dari teman-teman sebayanya di sekolah, dan mungkin juga dari pihak pengajar, dapat menjadi faktor tambahan yang memperburuk keadaan mental anak.

"Anak-anak yang hidup dalam kondisi sulit sering kali merasa terisolasi dan tidak mendapatkan dukungan yang cukup. Tekanan di rumah dan sekolah bisa menjadi beban berat. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus lebih peka terhadap kondisi emosional anak-anak," jelas Ahmad.

Ahmad juga mengingatkan pentingnya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Dalam kasus YBR, sang ibu berperan ganda sebagai ibu dan pencari nafkah. Dia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, meskipun menghadapi banyak tantangan, perhatian dan kasih sayang orang tua sangat penting bagi perkembangan psikologis anak.

Meskipun kejadian serupa belum pernah terjadi di Bandar Lampung, Ahmad menyebutkan bahwa sejumlah masalah kenakalan remaja mulai marak.

Kenakalan tersebut meliputi hubungan seks di usia muda, penggunaan narkoba, hingga keterlibatan dalam dunia prostitusi.

Ahmad menilai hal ini berakar dari kurangnya perhatian orang tua terhadap anak-anak mereka, baik dalam pengasuhan langsung maupun pengasuhan alternatif yang melibatkan kakek-nenek atau keluarga lainnya.

"Di Bandar Lampung, kami memang belum menghadapi kasus serupa, tetapi kenakalan remaja semakin sering ditemui. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua rentan terjerumus dalam perilaku negatif. Kami mengingatkan agar setiap orang tua lebih peduli terhadap perkembangan anak-anak mereka," ungkapnya.

Selain kenakalan remaja, Ahmad juga mencatat bahwa gangguan mental pada anak-anak, seperti trauma akibat kekerasan fisik dan seksual, semakin banyak terjadi di Bandar Lampung.

Kasus-kasus tersebut sering kali tidak terdeteksi karena kurangnya perhatian dari masyarakat dan pihak terkait terhadap kondisi anak-anak yang mengalami kekerasan.

"Trauma yang dialami anak-anak akibat kekerasan seksual dan fisik mempengaruhi perkembangan mental mereka. Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah dan masyarakat untuk lebih aktif dalam memberikan perlindungan kepada anak-anak agar kejadian-kejadian serupa tidak terulang lagi," tegas Ahmad.

Komnas PA Kota Bandar Lampung mengimbau agar seluruh pihak baik pemerintah, masyarakat, sekolah, maupun orang tua lebih peka terhadap kondisi anak-anak, khususnya yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Pemenuhan hak pendidikan, perhatian psikologis, dan perlindungan dari kekerasan harus menjadi prioritas utama untuk memastikan masa depan anak-anak bangsa yang lebih baik.

Kasus tragis yang menimpa YBR di NTT menjadi pengingat bahwa tidak ada anak yang seharusnya merasa sendirian dalam menghadapi permasalahan hidup. Semua pihak, termasuk negara, memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan hak-hak anak terlindungi dengan baik.

( Tribunlampung.co.id / Dominius Desmantri Barus )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.