Guru Ungkap Gelagat Siswa SD di NTT Sebelum Akhiri Hidup, Fakta Buku & Pena, Dikenal Pintar & Ceria
February 04, 2026 02:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Gelagat seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBS (10), sebelum meninggal dunia, mendapat sorotan dari wali kelasnya.

Bonivasius Snae, guru YBS, menceritakan momen terakhirnya bersama sang siswa, yang terjadi sehari sebelum YBS ditemukan tak bernyawa.

YBS ditemukan meninggal di dekat pohon cengkeh, dengan dugaan mengakhiri hidupnya sendiri.

Sebelum tragedi itu terjadi, kabarnya YBS sempat meminta uang sebesar Rp10 ribu kepada ibunya untuk membeli buku dan pena.

Namun karena tak punya uang, sang ibu pun tak bisa memenuhi permintaan YBS.

Usai kejadian tersebut, YBS merasa putus asa hingga mengakhiri hidupnya pada Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Pagi Terakhir Siswa SD di Ngada NTT Sebelum Akhiri Hidup, Tak Mau Sekolah, Sering Bantu Nenek Jualan

Salah satu muridnya meninggal dunia dengan tragis, Pak Boni mengurai curhatan.

Boni bercerita bahwa satu hari sebelum kejadian yakni pada Rabu (28/1/2026) ia masih melihat keceriaan di wajah korban, YBS.

Diungkap Boni kala itu, YBS masih bersemangat sekolah bahkan mengerjakan tugas yang diberikannya.

Terkait dengan buku dan pena yang jadi permintaan terakhir YBS, Boni mengungkap fakta.

Kata Boni saat terakhir kali bertemu, ia melihat bahwa YBS sejatinya sudah memiiki buku dan pena yang lengkap.

"Kalau mengenai perlengkapan alat tulis, selama ini yang saya lihat ada, ada buku tulis, ada bolpoin lengkap. Bahkan pada hari Rabu sebelum kejadian itu saya sebagai wali kelas, itu juga anak ini ada buku dan bolpoin bahkan mengerjakan tugas," ungkap Boni dilansir TribunnewsBogor.com dari tayangan youtube tv one news, Rabu (4/2/2026).

Lebih lanjut, Boni mengungkap sosok YBS selama ini di sekolah.

Cuma punya delapan murid di sekolah, Boni hafal betul karakter satu persatu siswanya, termasuk YBS.

Dilihat Boni, YBS adalah sosok anak yang ceria dan pintar.

"Kalau keseharian di sekolah, anak ini selalu ceria dan kalau di kelas juga itu anaknya termasuk pintar, jujur, dan selalu bermain bersama teman," ujar Boni.

Selama jadi wali kelas YBS, Boni mengaku bahwa muridnya itu tidak pernah curhat soal masalah di rumah.

"Kalau tentang bercerita masalah yang terjadi di rumah itu tidak pernah. Hanya anak ini selalu ceria di dalam kelas," kata Boni.

Perihal pergaulan korban di sekolah, Boni menyebut tidak ada masalah apapun.

Terlebih YBS dikenal sebagai anak yang periang.

"Tentang bullyan bersama teman-teman di kelas itu tidak ada," pungkas Boni.

Baca juga: Ironi Siswa SD di Ngada NTT Akhiri Hidup, Tulis Surat, Rocky Gerung: Dia Paham Jalan Hidup Ibunya

BOCAH AKHIRI HIDUP - Bocah SD yang akhiri hidup karena buku dan pena sikenal pendiam dan penurut
BOCAH AKHIRI HIDUP - Bocah SD yang akhiri hidup karena buku dan pena sikenal pendiam dan penurut (Tribun Trends/Tribun Trends/Freepik dan TRIBUNFLORES. COM/ARNOLDUS WELIANTO)

Ibunda korban syok

Sementara itu perihal kematian YBS, sang ibu kandung, Maria Goreti Te'a diliputi perasaan pilu.

Ibu lima anak itu tak menyangka anak bungsunya pergi dengan cara tragis.

Diungkap Maria, YBS sempat mengeluh sakit kepala kepadanya di hari kejadian.

Saat itu Maria menyewa ojek untuk YBS agar putranya itu tetap masuk sekolah.

Namun ternyata, ojek tersebut tak benar-benar membawa YBS ke sekolah.

YBS memilih mengakhiri hidupnya di pohon depan pondok tempat tinggalnya bersama sang nenek.

"Saya kaget ada kabar dari tetangga, saya pikir ada (YBS) pergi sekolah," kata Maria, dilansir dari Tribun Flores.

Sebelum mengakhiri hidup, YBS sempat menuliskan sepucuk surat untuk sang mama.

Di surat tersebut, YBS meminta agar sang mama mengikhlaskan kepergiannya.

"Kertas tii mama Reti (surat buat mama Reti)

Mama galo zee (Mama, saya pergi dulu)

Mama molo ja'o (mama, relakan saya pergi)

Galo mata mae Rita ee mama (jangan menangis, mama)

Mama jao galo mata (mama, saya pergi)

Mama woe rita ne'e gae ngao ee (tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya)

Molo mama (selamat tinggal, mama)," tulis YBS.

Catatan redaksi:

Kendati demikian, depresi bukanlah persoalan sepele.

Kesehatan jiwa merupakan hal yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.

Jika semakin parah, disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.

LSM Jangan Bunuh Diri adalah Lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.

Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bahwa bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa.

Jika kalian mempunyai tendesi untuk bunuh diri atau butuh teman curhat, kalian dapat menghubungi kontak di bawah ini:

LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293)

Atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.

(TribunTrends/TribunBogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.