Jakarta (ANTARA) - Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan pesan Meriyati Roeslani Hoegeng (Eyang Meri), istri dari mantan Kapolri, Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, untuk keluarga besar Polri.
"Beliau selalu berpesan di setiap acara kami, jadilah polisi yang baik, memiliki integritas, dan polisi yang bisa melindungi dan mengayomi,” katanya usai mengikuti prosesi pemakaman, dilansir dari keterangan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Bahkan, pada saat melayat ke rumah duka Eyang Meri, Sigit mengungkapkan bahwa pihak keluarga memutarkan rekaman berisikan pesan dari Eyang Meri untuk keluarga besar Polri.
"Bahkan tadi malam kami dengarkan langsung suara beliau yang direkam oleh Mas Rama bagaimana beliau selalu sampaikan pesan jadilah contoh, teladan dan mulai lah dari dirimu sendiri. Saya kira hal-hal tersebut tentunya menjadi spirit bagi kami keluarga besar Polri," ucapnya.
Menurutnya, pesan itu merupakan suatu amanah ataupun wasiat yang harus terus dikumandangkan serta menjadi semangat bersama untuk seluruh keluarga besar Polri.
"Karena setiap beliau menyampaikan Eyang Meri saat terakhir dan pesannya tolong jaga titip institusi Polri, tolong jaga dan titip Polri," ucapnya.
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan keteladanan almarhumah, Sigit menyebut Polri mengajukan kepada Presiden Republik Indonesia agar Meriyati Hoegeng dianugerahi Bintang Bhayangkara Pratama sebagai penghargaan negara atas kontribusi moral dan keteladanan yang diwariskan kepada institusi Polri.
Sebagai informasi, Meriyati Hoegeng meninggal dunia di umur 100 tahun pada Selasa pukul 13.24 WIB karena sakit.
Meriyati Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925 di Yogyakarta, Hindia Belanda. Meri merupakan anak dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe.
Almarhumah menikah dengan Jenderal Polisi Hoegeng pada 1946 dan dikaruniai tiga orang anak.







