TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Fakfak, Papua Barat, menargetkan pengembangan persawahan seluas 450 hektare sebagai bagian dari program menuju swasembada pangan.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak, Zulkifly Laode Hilu, kepada Tribunpapuabarat.com di Fakfak, Rabu (4/2/2026).
“Persawahan di Kabupaten Fakfak terus dilakukan secara bertahap sebagai bagian dari upaya menuju swasembada pangan,” ujarnya.
Zulkifly menjelaskan, pengembangan persawahan tidak dilakukan sekaligus.
Pada tahap awal, pemerintah daerah menyiapkan 150 hektare lahan yang ditargetkan mulai digarap tahun 2026.
“Dari total 450 hektare, kita mulai dengan 150 hektare dulu. Target keseluruhan akan tercapai pada 2029, dan di tahun 2030 diharapkan sudah bisa panen,” katanya.
Baca juga: Dukung Ketahanan Pangan, Polsek Bomberai Fakfak Intens Monitoring Perkebunan Jagung
Program ini disebut sebagai strategi jangka panjang Pemkab Fakfak dalam mewujudkan kemandirian pangan.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Fakfak melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI, untuk mendukung pengembangan lahan.
“Intinya kita ingin membuktikan bahwa padi bisa diusahakan di Fakfak. Tidak sekadar menyemai, tapi benar-benar menghasilkan,” jelas Zulkifly.
Selain padi, pemerintah daerah juga memperhatikan pengembangan komoditas jagung.
Secara nasional, alokasi jagung mencapai satu juta hektare, sementara Papua Barat mendapat jatah sekitar 330 hektare yang disesuaikan dengan kondisi lahan di Fakfak.
Zulkifly memastikan kesiapan lahan untuk padi sudah memadai. Penanaman akan memanfaatkan bendungan di Distrik Bomberai yang mampu mengairi hingga 1.200 hektare.
“Targetnya pada Maret 2026 kita mulai menanam. Semoga semua berjalan lancar sesuai rencana,” pungkasnya.