WARTAKOTALIVE.COM, BENER MERIAH - SMAN 2 Timang Gajah dan SDN Karang Jadi, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, merasakan sekali manfaat dari Papan Interaktif Digital (PID)/Interactive Flat Panel (IFP) sebagai sarana pembelajaran di sekolah pascabencana banjir di Aceh beberapa waktu lalu.
Kepala SMAN 2 Timang Gajah, Ikhsan Purnama, menyampaikan bahwa kehadiran IFP memberikan dampak positif terhadap kualitas pembelajaran di sekolah.
“Alhamdulillah, dengan adanya IFP sangat membantu pembelajaran guru, perangkat ini langsung kami aktifkan untuk mendukung pembelajaran mendalam sehingga proses belajar menjadi lebih terarah,” ujar Ikhsan.
Ikhsan menambahkan SMAN 2 Timang Gajah mewajibkan para guru untuk menggunakan IFP, walaupun harus digunakan secara bergantian. Kehadiran IFP sendiri juga meningkatkan semangat dan antusiasme siswa untuk belajar.
“IFP memudahkan siswa saat presentasi karena bisa langsung disentuh seperti menggunakan gawai, jadi membuat siswa lebih nyaman dan aktif dalam pembelajaran, berbeda saat presentasi menggunakan proyektor,” tambahnya.
Terkait dampak bencana banjir yang melanda beberapa wilayah di Aceh, Ikhsan menjelaskan bahwa aktivitas pembelajaran sempat terhenti akibat akses jalan yang terputus di beberapa titik.
Ada 15 siswa yang terdampak, bahkan beberapa di antaranya kehilangan tempat tinggal akibat rumahnya hanyut oleh banjir.
“Untuk siswa-siswa tersebut kami memberikan bantuan, selain dari pemerintah dan juga swasta, kami dari internal sekolah sendiri juga patungan dari para guru untuk sedikit membantu para siswa yang terkena bencana," jelas Ikhsan.
Sementara itu, Kepala SDN Karang Jadi, M. Ghazali, menceritakan bahwa IFP sebelumnya telah diterima dengan baik oleh sekolah, namun saat akan digunakan terhambat oleh bencana banjir.
“Jadi saat ingin di pasangan pas terjadi bencana, sekarang sudah dua minggu IFP sudah dipakai, kami pasang di tenda belajar, Alhamdulillah ini bantuan bapak Presiden Prabowo," ujar Ghazali.
Dari total 12 kelas, 6 kelas di SDN Karang Jadi bergantian menggunakan IFP, menurut Ghazali disebabkan oleh kondisi kontur antar kelas yang menyulitkan pemindahan perangkat IFP ke ruang kelas yang berbeda.
Namun di balik itu Ghazali menyebutkan antusiasme siswa untuk belajar menggunakan IFP sangat tinggi.
“Para siswa sangat antusias mereka semua ingin maju ke depan untuk belajar menggunakan IFP,” ujar Ghazali.
Kisah serupa datang dari SMP Muhammadiyah 11, Teritit Kabupaten Bener Meriah, wilayah sekolah sempat terisolasi akibat terputusnya akses jalan selama hampir tiga pekan.
Kepala sekolah, Habsah, menuturkan pihaknya bersyukur bahwa Papan Interaktif Digital (IFP) sudah tersedia sebelum bencana.
"Alat ini sangat membantu proses belajar di tengah keterbatasan akses,” jelasnya.