Sudah 10 Tahun Jembatan di Aceh Singkil Hancur Diterjang Banjir, Anak-anak tak Bisa Pergi Sekolah 
February 04, 2026 05:19 PM

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Dede Rosadi I Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Banjir bandang yang menerjang Kecamatan Singkohor, Kabupaten Aceh Singkil 31 Desember 2015 lalu masih menyisakan kesengsaraan bagi warga Desa Lae Sipola. 

Lantaran sudah satu dekade jembatan yang hancur akibat banjir bandang, tak kunjung diperbaiki. 

Jembatan itu merupakan akses warga Lae Sipola menuju Kota Subulussalam.

Walau masuk dalam Kecamatan Singkohor, Kabupaten Aceh Singkil, akses untuk memenuhi kebutuhan pokok lebih dekat ke Subulussalam. 

Lebih-lebih akses dari Lae Sipola menuju ibu kota Kecamatan Singkohor, juga sulit dilintasi lantar jalan hancur lebur. 

Akibatnya warga kesulitan ke luar masuk kampung.

Kondisi itu membuat warga Lae Sipola terisolasi, terutama ketika air sungai naik. 

Mengingat akibat tidak ada jembatan warga menerobos sungai agar bisa melintas.

Nahasnya, saat air naik, sungai tidak bisa diterobos. 

Pilunya lagi kalau air sungai naik anak-anak Lae Sipola, tak bisa berangkat sekolah. 

"Paling sedih anak-anak tidak bisa sekolah saat air sungai besar," kata Mardiah warga Lae Sipola, Rabu (4/1/2026).

Baca juga: Petani Tambak Aceh Timur yang Mengalami Kerugian Akibat Banjir Mulai Didata

Anak-anak Lae Sipola, untuk meneruskan pendidikan setingkat SMP ke atas harus ke Subulussalam.

Sebab di Lae Sipola, hanya ada sekolah dasar. 

Selain acap membuat anak-anak tak bisa sekolah, warga juga sering terjebak tak bisa ke luar dan masuk kampung ketika air sungai besar. 

"Kami pernah menginap di pinggir sungai karena banjir tak bisa lewat mau pulang kampung," ujar Mardiah. 

Warga Lae Sipola berharap, jembatan ke kampungnya dapat segera dibangun, sehingga hidupnya tak terus terisolasi.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.