Oleh: Yanuarius Y.Tolan *
POS-KUPANG.COM - Tak ada sesuatu apapun yang lebih abadi selain waktu yang selamanya menimang musim untuk dikenang.
Waktu tak mampu meniadakan sejarah sebab segala yang diwariskan adalah petuah yang tetap membekas dalam benak bagi mereka yang mengamininya sungguh.
Segala sesuatu berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tak satupun agama yang sanggup menghindari kebenaran itu.
Tanah atau ibu bumi ibarat rahim tempat segala yang bernapas berasal dan berpulang pada waktunya tiba.
Baca juga: Cerpen: Dua Garis Hidup
Pada tanah semua yang bernapas akan menemukan keberadaannya dari setiap titipan waktu penuh misteri.
Segala yang datang dan tiba di penghujung jalan pulang adalah penanda bahwa pada tanah kita menyoal kehidupan, sesuatu yang terlampau sakral diartikan.
Tanah adalah ruah dari panjang tapak kehidupan. Tanah adalah tempat awal dan akhir kita menemukan makna dari sebuah tawa dan tangis yang berkelindan pada setiap garis waktu yang mampu menorehkan ziarah panjang.
Sesuatu yang tumbuh subur dan lapuk dari gelimang musim yang murka pun berdiam pada tanah.
Darinya kita mampu menemukan harapan yang mengawan begitupun dukacita yang mendahului segala bentuk kehilangan paling tulus dari sebuah doa dan ritual adat.
Segala yang kita risaukan dan puja sejatinya fana. Sesuatu yang sementara berdiam dan hidup dari roh tanah. Tanah mengisyaratkan makna yang sanggup menembus batas ruang dan waktu.
Kekuatan supranatural sekalipun tak bisa mengasingkan makna tanah dari setiap ruang kepala dan nurani yang selamanya berdiam dan bermukim dengan adab budaya yang tak lekang oleh waktu.
Pada tanah, kita bisa menyeruput hangatnya aroma kopi hitam yang tumbuh dari lereng-lereng bukit hijau.
Pertanda ada berkah yang melimpah pada tangan-tangan tulus yang mengolah dari milik leluhurnya.
Kita sanggup meneguk tuak putih sepanjang musim hasil jejak dahaga mereka yang setia menantang tajamnya duri pada dinding lontar dan menyulam jemari pada nawing perantara yang tak ingin kehilangan setetespun tuak jatuh ke tanah.
Padanya, kita menampung dahaga dari setiap hasil panen yang memenuhi seluruh tanah milik kita yang diwarisi.
Segalanya yang datang dari hasil bumi adalah dahaga jiwa yang menuntun kita merawat hidup.
Hidup yang bertahan lebih lama dari kekuatan doa yang sanggup mengubah segala sesuatu.
Hidup yang menyisahkan banyak rasa kehilangan bagi mereka yang baru menjumpainya dan rasa memiliki bagi mereka yang terkadang meragukannya.
Itulah makna kehidupan sesungguhnya. Bahwa yang kekal itu waktu bukan cara kita menjalani setiap mimpi pada harapan yang kadang melahirkan pengalaman kehilangan.
Dari hasil tanah kita hidup dan bertanya tentang kemana akan pergi memaknai rejeki.
Jika kelak hidupmu tak sejalan harapan dan jauh dari kekuatan doa, maka kembalilah pada tanah leluhurmu.
Tempat koda sakral bergema memenuhi relung setiap jiwa yang kalut menemukan jalan pulang menemui rumah, tempat segala suka dan duka bermukim.
Pada tanah leluhur, kita akan mengerti dan mengamini bahwa petuah itu lebih berdaya dari apapun.
Petuah ibarat doa yang menemukan makna pada waktu dan musim yang tak bisa ditafsir dengan akal.
Tanah leluhur adalah tempat dan ruang kita menemukan sebuah kebenaran tentang tutur sejarah.
Sejarah yang tumbuh dari sebuah musim yang sakral dan syarat makna. Alur waktu dan masa yang menitipkan seribusatu ajakan moral pun larangan yang lahir dari ruah alam yang mengikat jejak langkah kita yang mengalaminya.
Pada tanah leluhur kita lebih kokoh menantang badai dan akan selamanya teguh mengamini petuah.
Bahwa tutur hanyalah simbol dari peradaban yang menyisahkan setiap potongan waktu yang menandai sejarah.
Makna tutur akan abadi dikenang jika tak hilang dari peradaban sejarah. Sejarah lahir karena ada waktu yang menandainya dan itulah peristiwa.
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah leluhur. Karena padanya kita datang dan kembali pada masanya. Mengamini sejarah tak sama mengakui sejarah.
Sejatinya yang kita junjung bukan tentang siapa yang pertama dan terdahulu mendiami tanah, melainkan kebenaran awal sejarah yang menemukan keberadaannya.
Berjuanglah untuk hidup dari tanah leluhurmu tanpa harus mengambil milik orang yang bukan milik dan hakmu.
Jagalah tanah leluhurmu, agar tak ada orang yang berani mengambil alih berdasarkan kata orang dan mengadainya karena jarang menemukan tutur dari kebenaran sejarah.
Jika kelak ada yang berusaha meniadakan petuah leluhurmu dari kebisingan kota, maka tegurlah dengan santun tapi tetap menjunjung tinggi adab budaya leluhurmu.
Sakral doa adat adalah jalan pertama menyadarkan mereka agar waktunya tiba kebenaran sejarah menemukan maknanya dan semuanya tunduk merendah dan tak lagi berpaling muka.
Jadikan petuah leluhurmu ibarat senjata yang berdentum pada waktu yang tak bisa terkira sebelumnya.
Karena hanya dengannya, kita percaya bahwa roh tanah adat lebih berdaya dari apapun rancangan dan strategi yang tumbuh dari ruang kepala yang sekadar didoktrin pesan musiman.
Teguh percaya pada setiap alur petuah leluhur yang diwarisi. Bahwa kebenaran sejarah menemukan maknanya hanya pada tanah yang sedari awal ada dan bukan karena diadakan untuk disejarahkan dalam setiap lembaran kertas usang yang bergelimang rupiah dan daya tawar jabatan.
Kalapun petuah leluhurmu yang disanjung laiknya doa namun tak sanggup memampukanmu berbagi tutur sejarah, saat tepat bagimu untuk kembali pulang pada pojok rumah tua yang disakralkan untuk meminta petunjuk dari doa leluhur yang selamanya melihat nasib kita dari singgasana keabadian.
Agar pada waktunya tiba, sumpah bisa jadi jalan paling bersejarah untuk membuktikan semua kebenaran yang masih terselubung di balik harapan. (*)
* Yanuarius Y.Tolan adalah Kepala Desa Narasaosina, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur. Pecinta sastra dan pegiat literasi desa.
Catatan
Tuak : minuman berakohol tradisional hasil fermentasi nira (cairan manis dari mayang atau bunga) pohon aren maupun lontar.
Nawing : bambu yang didesain khusus untuk menadah atau menampung tuak. Umumnya digunakan oleh petani yang ada dalam budaya Lamaholot.
Koda : petuah atau sabda yang disanjung dan dianggap sakral dalam adab budaya Lamaholot pada umumnya. Koda selalu disampaikan dalam hajatan dan nuansa adat apapun karena diyakini memiliki daya dan kekuatan tersendiri.