Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Pihak sekolah di Kecamatan Peringgabaya, Lombok Timur memberikan tanggapan terkait isu perundungan (Bulyying) terhadap HASF siswa kelas 1 yang saat ini di rawat di RSUD dr Sudjono Selong.
Kepala sekolah, Zaenul, menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu hasil skrining dari psikolog Puskesmas Labuhan Lombok guna memastikan penyebab pasti kondisi siswa tersebut. Hingga kini, pihak sekolah belum dapat menyimpulkan adanya tindakan perundungan.
“Dari keterangan dua saksi di sekolah, anak itu disebut jatuh dari kursi. Karena itu kami minta semua pihak menunggu hasil pemeriksaan. Kalau sudah menyimpulkan di media sosial tanpa dasar yang jelas, khawatirnya bisa menimbulkan fitnah,” jelas Zaenul, pada Rabu (4/2/2026), usai menjalani klarifikasi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur.
Ia mengaku pihaknya telah berupaya membangun komunikasi yang baik dengan keluarga siswa. Ia menyebut, pihak sekolah telah dua kali menjenguk korban, yakni saat dirawat di Klinik Candra dan saat menjalani perawatan lanjutan di RSUD dr. R. Soedjono Selong.
"Kami datang untuk memastikan kondisi anak sekaligus berkomunikasi dengan orang tuanya. Saya sampaikan bahwa yang terpenting saat ini anak sehat dulu, soal biaya nanti bisa kita komunikasikan dengan dinas, termasuk mengecek status BPJS," kata Zaenal.
Zaenul menyinggung, soal orang tua HASF dikeluarkannya dari grup WhatsApp kelas. Ia mengaku baru mengetahui peristiwa tersebut pada malam sebelumnya setelah mendapat laporan dari wali kelas.
“Saya sendiri baru tahu semalam. Kemungkinan itu terjadi karena emosi sesaat. Tidak ada maksud apa pun. Saya sudah minta agar wali murid yang bersangkutan dimasukkan kembali ke grup,” katanya.
Baca juga: Siswa di Lombok Timur Diduga Jadi Korban Perundungan hingga Dirawat di Rumah Sakit
Zaenul juga membantah keras adanya intimidasi dari pihak sekolah terhadap keluarga korban.
"Kami tidak pernah melakukan intimidasi. Bahkan soal grup WhatsApp itu saya baru dengar tadi malam," tegasnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Dikbud Kecamatan Pringgabaya, Nasir, menyampaikan pihaknya mendorong adanya pertemuan antara keluarga siswa dan pihak sekolah untuk meluruskan informasi yang berkembang.
"Kami ingin semua duduk bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman. Harapan kami, keluarga bisa langsung berkomunikasi dengan sekolah jika ada persoalan," ujarnya.
Ia menambahkan, ke depan sekolah diminta memperketat pengawasan terhadap peserta didik demi mencegah kejadian serupa. Nasir juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyampaikan persoalan ke media sosial sebelum informasi dipastikan lengkap.
“Lebih baik diselesaikan lewat komunikasi terlebih dahulu supaya tidak menimbulkan salah paham,” pungkasnya.
(*)