TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Berkat dukungan tetangga, seorang guru perempuan sebuah sekolah dasar (SD) negeri di Lubuk Ruso, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batang Hari, yang menjadi korban penyekapan dan perampokan dalam mobil travel gelap (ilegal), akhirnya berani melapor polisi.
Peristiwa penyekapan dan perempokan yang dialami guru perempuan berinisial RS (39) itu terjadi pada Selasa (3/2/2026). Sang guru kemudian melaporkannya ke Polres Batang hari pada Rabu (4/2/2026).
Berawal tatkala RS dan seorang temannya hendak melakukan perjalanan pulang mengajar dari Lubuk Ruso menuju Muara Bulian. Dua daerah itu berjarak sekira 86 kilometer dan membutuhkan waktu perjalanan sekira 2 jam.
Informasi yang dihimpun Tribun Jambi, saat itu, mereka berdua sedang mencari mobil travel untuk ditumpangi.
Lalu, sebuah mobil pribadi berhenti di depan mereka. Diduga ada tiga orang di dalam mobil tersebut, termasuk sopir.
Mereka hanya mengizinkan guru tersebut yang naik, sementara temannya tidak dibolehkan dengan alasan sudah penuh.
Setelah berada di dalam kendaraan, RS diduga langsung disekap oleh pelaku yang ada di dalam mobil.
Setelah itu, barang berharga milik korban, seperti telepon genggam iPhone dan uang tunai, dirampas pelaku.
Tindakan para pelaku tak sampai itu saja. Mereja beberapa kali berupaya mencari mesin mesin anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menguras rekening korban.
Masih dari informasi yang dihimpun Tribun Jambi, pelaku sempat mengendarai mobil berputar-putar hingga tiga kali, dari kawasan Jembatan Mas menuju Muaro Bulian. Setelah itu, guru RS diturunkan di depan Masjid Asaadah, Jembatan Mas, Kabupaten Batang Hari.
Video guru SD pascapenyekapan dan perampokan beredar di media sosial. Guru tersebut mengenakan seragam pegawai negeri sipil (PNS), tampak menangis histeris, hingga menyita perhatian publik.
Pascakejadian, guru RS berada di rumah orangtuanya di Muara Bulian.
Tribun Jambi mendatangi rumah tersebut sekira pukul 11.00 WIB. Rumah tersebut terlihat sepi.
Di sana, orang tuanya menyampaikan bahwa RS sedang mengalami trauma. Pihak keluarga pun belum bersedia menerima kunjungan awak media.
Guru RS masih mengalami syok berat akibat peristiwa yang dialami. Ibu korban mengungkapkan kondisi anaknya hingga saat ini masih membutuhkan waktu untuk pemulihan.
"Anak saya ada di dalam, sedang tidur dan istirahat. Tadi juga sudah minum obat," ujarnya dengan lirih suara bergetar sambil menangis.
Ia mengatakan keluarga belum dapat memberikan keterangan karena masih trauma mendalam atas kejadian tersebut.
Tribun Jambi mendatangi kembali rumah guru ke lokasi, pada Rabu (4/2) sekira pukul 16.00 WIB.
Pantauan Tribun Jambi, kondisi rumah tampak sepi. Pintu rumah tertutup rapat. Terlihat beberapa awak media berada di sekitar lokasi untuk meminta keterangan.
Namun, awak media belum mendapatkan respons dari pihak keluarga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga setempat yang enggan disebutkan namanya, RS merupakan seorang guru yang lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Sebelumnya, dia mengajar sebuah SMP negeri di Muara Bulian, hingga kemudian mengajar sebuah sekolah di sebuah SD negeri di Lubuk Ruso.
"Sudah sekira dua tahun beliau mengajar di Pemayung. Sehari-hari memang pulang pergi menggunakan travel," ujar seorang warga sekitar.
Menurut penuturan warga, korban sempat enggan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.
Namun setelah mendapat masukan dari sejumlah tetangga, laporan akhirnya dibuat.
"Awalnya keluarga tidak mau melapor. Setelah ada saran dari tetangga, baru akhirnya dilaporkan ke polisi," katanya.
Terkait alasan keluarga sempat tidak ingin ada pelaporan, warga tersebut mengaku tidak mengetahui secara pasti.
Namun, ia menduga hal itu berkaitan dengan rasa takut dan kemungkinan adanya ancaman.
"Kalau alasan pastinya saya kurang tahu. Mungkin karena takut atau ada ancaman, tapi itu saya tidak tahu persis," ujarnya.
Warga menyebutkan hingga kini korban dan keluarga masih mengalami trauma berat akibat peristiwa tersebut.
Kondisi itu diduga menjadi alasan utama pihak keluarga belum bersedia memberikan keterangan kepada media. "Keluarga dan korban masih benar-benar trauma. Itu kemungkinan kenapa sampai sekarang belum mau memberikan keterangan," tuturnya.
Kasus tersebut sedang ditangani Kepolisian Resor Batang Hari.
Kasi Humas Polres Batang Hari, Iptu Simbang Tetap, menuturkan laporan terkait peristiwa tersebut telah diterima pihak kepolisian.
"Laporan sudah masuk dan saat ini sedang ditangani oleh Polres Batang Hari," katanya.
Meski demikian, pihak kepolisian belum merinci secara detail kronologi kejadian maupun perkembangan penyelidikan lebih lanjut. (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimh)
Baca juga: Varial Adhi Bolak-balik ke Toilet, Eks Kadisdik Provinsi Jambi Diperiksa Polda Jambi Sejak Pagi
Baca juga: Selain 4 Tersangka, Disinyalir Ada 3 Orang Oknum Polisi di Lokasi Pemerkosaan