Akademisi Unsrat Dorong Hilirisasi Kelapa, Sulut Berpeluang Jadi Pusat Bioekonomi Nasional
February 04, 2026 10:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID – Hilirisasi kelapa dinilai menjadi kunci arah baru pembangunan pertanian Indonesia berbasis bioekonomi dan teknologi maju.

Komoditas kelapa tidak lagi cukup diposisikan sebagai bahan mentah, tetapi harus didorong menjadi sumber nilai tambah, penggerak agroindustri, serta penguat ekonomi desa.

Hal tersebut disampaikan Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Ir Dedie Tooy, saat diwawancarai di Kantor Fakultas Pertanian (Faperta) Unsrat Manado, Rabu (4/2/2026).

Dedie Tooy juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Pertanian Unsrat.

Menurut Dedie, kelapa memiliki posisi strategis dalam pembangunan pertanian nasional, khususnya di Sulawesi Utara yang secara historis dan sosial sangat bergantung pada komoditas tersebut.

“Kelapa bagi masyarakat Sulawesi Utara bukan sekadar tanaman perkebunan, tetapi bagian dari sejarah ekonomi dan sosial. Tantangan ke depan bukan lagi meningkatkan produksi, melainkan mentransformasi kelapa menjadi sumber nilai tambah yang berkelanjutan dan kompetitif,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kebijakan nasional yang menekankan hilirisasi, penguatan agroindustri, UMKM pangan, dan modernisasi pertanian rakyat membuka peluang besar bagi kebangkitan sektor kelapa.

Hilirisasi dinilai mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, serta menumbuhkan ekonomi desa berbasis sumber daya hayati lokal.

Dalam paparannya bersama Teltje Koapaha dan Herry Pinatik, dosen Fakultas Pertanian Unsrat, Dedie menguraikan bahwa hilirisasi kelapa telah terbukti melalui pengembangan produk seperti Virgin Coconut Oil (VCO) dan nata de coco. 

Kedua produk ini menunjukkan bahwa nilai tambah dapat dihasilkan melalui teknologi sederhana dan skala UMKM.

VCO diketahui kaya asam lemak rantai sedang, khususnya asam laurat, yang bermanfaat bagi kesehatan metabolik dan sistem imun.

Sementara nata de coco sebagai produk fermentasi air kelapa mengandung serat tinggi dan rendah lemak, sejalan dengan tren pangan sehat global.

Namun, potensi terbesar kelapa justru terletak pada pemanfaatan seluruh biomassa secara terintegrasi.

Ampas kelapa atau blondo yang selama ini dianggap limbah dapat diolah menjadi tepung dan konsentrat protein nabati.

Dengan kandungan serat sekitar 35–45 persen dan protein 15–20 persen, ampas kelapa berpotensi menjadi bahan pangan fungsional, produk gluten-free, serta sumber protein nabati alternatif.

Selain itu, sabut kelapa juga memiliki nilai ekonomi tinggi jika diolah lebih lanjut. 

Tidak hanya menjadi cocofiber dan cocopeat, sabut kelapa dapat dikembangkan menjadi coco bed dan matras berbasis serat kelapa untuk pertanian modern, peternakan, hortikultura intensif, hingga kebutuhan industri hotel dan kesehatan.

“Nilai tambah produk-produk ini jauh melampaui penjualan sabut mentah dan sangat sesuai dengan tren global produk ramah lingkungan dan berkelanjutan,” kata Dedie.

Sementara itu, tempurung kelapa membuka peluang hilirisasi berbasis teknologi maju. Selain diolah menjadi arang dan karbon aktif, tempurung kelapa berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku material karbon lanjut.

Termasuk graphene berbasis biomassa yang memiliki aplikasi luas pada baterai, superkapasitor, sensor, hingga teknologi energi masa depan.

Ia juga menyoroti pemanfaatan kelapa non-standar, seperti kelapa rusak, pecah, atau berukuran kecil, yang selama ini terbuang. 

Fraksi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioavtur atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan, tanpa mengganggu pasokan pangan nasional.

“Sekitar 10–30 persen produksi kelapa masuk kategori non-standar dan sangat potensial untuk dialihkan ke energi terbarukan,” jelasnya.

Dedie menyebut, Sulawesi Utara memiliki posisi strategis untuk mengambil peran dalam rantai pasok bioenergi nasional, seiring meningkatnya kebutuhan bioavtur dan komitmen penurunan emisi sektor transportasi udara. 

Bahkan, Jepang disebut telah memulai sejumlah studi terkait bioenergi kelapa di Sulawesi Utara dan Riau, termasuk kajian yang dilakukan tim Fakultas Pertanian Unsrat.

Secara ekonomi, pengolahan terintegrasi 100 ton kelapa segar dinilai mampu menghasilkan nilai miliaran rupiah. 

Nilai tersebut akan meningkat signifikan jika diarahkan pada produk teknologi maju seperti karbon aktif, bioavtur, coco bed, matras sabut kelapa, hingga graphene, yang berpotensi bernilai puluhan hingga ratusan miliar rupiah.

Meski membutuhkan investasi besar, Dedie menekankan pentingnya grand design yang terukur, kolaborasi hulu–hilir, serta kerja sama dengan negara maju agar pengembangan teknologi tersebut dapat direalisasikan.

“Hilirisasi kelapa harus berbasis ekonomi sirkular dan zero waste. Semua bagian kelapa dimanfaatkan, nilai tambah diciptakan di daerah, petani sejahtera, dan ketergantungan ekspor bahan mentah berkurang,” ujarnya.

Ke depan, keberhasilan hilirisasi kelapa sangat ditentukan oleh sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. 

Selain fokus pada produk hilir bernilai tinggi, Dedie menilai teknologi hulu seperti perbanyakan benih massal melalui kultur jaringan juga harus dimaksimalkan agar keseimbangan antara pasar dan input produksi tetap terjaga.

“Hilirisasi kelapa adalah investasi teknologi dan modal masa depan. Dengan strategi yang tepat, kelapa bukan lagi komoditas tradisional, tetapi pilar bioekonomi dan teknologi Indonesia,” pungkasnya.

(TribunManado.co.id/Pet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.