Jalan Perbaiki Diri
February 04, 2026 10:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menempuh pendidikan harus ada keyakinan penuh terhadap proses jangka panjang yang harus dijalani dengan kesungguhan dan komitmen.
Ya, keyakinan penuh terhadap proses jangka panjang yang harus dijalani dengan kesungguhan dan komitmen. 

Apippudin Adnan menyadari hal itu, sehingga meski sudah berkeluarga dan punya anak, ia tetap konsisten menempuh pendidikan.

Kini, Apippudin menularkan tekad itu kepada para mahasiswanya. Lantas, apa dan bagaimana sosok dosen ini,  berikut petikan wawancaranya.

Bisa diceritakan secara singkat latar belakang kehidupan dan perjalanan awal pendidikan?
    Saya berasal dari keluarga yang sangat sederhana yang menanamkan nilai kerja keras dan pentingnya pendidikan sejak dini. Keterbatasan ekonomi orang tua pada saat itu membuat saya harus menunda rencana melanjutkan kuliah setelah lulus dari Madrasah Aliyah (MA).

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan merasa mampu membiayai pendidikan secara mandiri, saya akhirnya melanjutkan studi ke jenjang S1, kemudian S2. Pada masa itu, saya sudah berkeluarga, memiliki istri dan satu putra yang saat itu berusia 5 tahun.

Pendidikan saya jalani secara bertahap dan disiplin dengan penuh kesadaran, ilmu pengetahuan merupakan jalan untuk memperbaiki diri, memperluas cara berpikir serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi orang lain dan masyarakat.

Apa motivasi utama menempuh pendidikan ke jenjang S3?
    Motivasi utama saya adalah keinginan untuk mendalami bidang ekonomi dan bisnis, khususnya pemasaran (marketing), serta terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih luas. Kontribusi tersebut tidak hanya saya arahkan untuk dunia pendidikan dan keilmuan, tetapi juga bagi keluarga dan pengembangan diri.

Bagi saya, pendidikan S3 bukan sekadar pencapaian gelar akademik, melainkan sarana untuk memperdalam cara berpikir kritis dan ilmiah, sehingga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Tantangan terbesar apa yang pernah dihadapi baik pendidikan maupun karier?
    Tantangan terbesar adalah membagi waktu antara studi, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga. 
Saya mengatasinya dengan manajemen waktu yang disiplin, menetapkan prioritas, serta menjaga komitmen dan konsistensi dalam setiap peran yang saya jalani.

Mengapa memilih profesi sebagai dosen dan apa makna profesi tersebut bagi Anda?
    Saya memilih profesi dosen karena saya meyakini, pendidikan adalah jalan perubahan, sekaligus menjadi cita-cita orang tua saya dan juga cita-cita pribadi saya. 
Menjadi dosen bagi saya bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga mendidik dan membimbing mahasiswa dalam proses pengembangan ilmu dan karakter. 

Profesi ini memiliki makna pengabdian serta tanggung jawab moral yang besar dalam mempersiapkan dan membentuk generasi masa depan yang berilmu dan berintegritas.

Sejak menjadi dosen di STIE Pancasetia Banjarmasin, pencapaian apa yang paling dibanggakan?
    Pencapaian yang paling saya banggakan adalah ketika mampu menjalankan amanah kampus dengan disiplin serta melihat mahasiswa berkembang, baik secara akademik maupun dalam pembentukan karakter. 

Selain itu, saya bersyukur dapat berkontribusi dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi melalui kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Nilai atau prinsip apa yang dipegang dalam menjalani peran sebagai pendidik?
    Nilai yang selalu saya pegang adalah integritas, kejujuran akademik, dan tanggung jawab. Saya meyakini, ilmu pengetahuan harus disampaikan dengan hati serta dijalani dengan etika, sejalan dengan arahan senior dan pimpinan di lingkungan akademik.

Bagaimana peran keluarga dalam mendukung kesuksesan dan perjalanan akademik Anda?
    Keluarga merupakan sumber kekuatan utama dalam perjalanan akademik saya. Dukungan moral, doa, serta pengertian dari keluarga membuat saya tetap kuat dan fokus menjalani seluruh proses hingga saat ini. 

Terlebih lagi, selain menjalankan peran sebagai dosen, saya juga sedang menempuh studi S3 yang menuntut pemenuhan kewajiban akademik dan keaktifan mengikuti perkuliahan di Surabaya.

Bagaimana membagi waktu antara studi S3, pekerjaan, dan kehidupan keluarga?
    Saya berusaha menyeimbangkan semuanya melalui perencanaan yang matang, disiplin dalam pengelolaan waktu, serta komunikasi yang baik dengan keluarga. 

Di sela kesibukan, saya juga berupaya meluangkan waktu untuk kebersamaan, seperti mengajak keluarga berjalan-jalan jam buk m atau melakukan refreshing ringan. 

Tidak mudah, namun dengan komitmen dan saling pengertian, seluruh peran tersebut dapat dijalani dengan baik.

Momen apa yang paling menentukan dalam perjalanan hidup Anda hingga berada di titik sekarang?
    Momen paling menentukan dalam hidup saya terjadi dalam dua fase. Pertama, ketika saya memutuskan melanjutkan studi S1 pada saat saya telah berumah tangga dan memiliki seorang putra. 

Keputusan tersebut bukan hal yang mudah, namun dengan tekad yang kuat, Alhamdulillah proses itu dapat saya jalani dengan baik hingga akhirnya meraih predikat lulusan terbaik ke-1 saat itu.

Momen berikutnya adalah keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. Keputusan ini menuntut keberanian, pengorbanan, serta keyakinan penuh terhadap proses jangka panjang yang harus dijalani dengan kesungguhan dan komitmen.

Pengalaman apa yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter dan cara berpikir Anda? 
    Pengalaman hidup ketika saya masih bergantung pada orangtua dengan kondisi ekonomi yang sangat sederhana menumbuhkan tekad kuat dalam diri saya untuk mengubah jalan hidup menjadi lebih baik. 

Berbagai kegagalan dan keterbatasan yang saya hadapi justru menjadi proses paling berharga dalam membentuk karakter saya.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar untuk tetap rendah hati, berpikir terbuka, serta memandang setiap masalah bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai peluang untuk terus bertumbuh dan memperbaiki diri.

Pernahkah Anda merasa ingin menyerah? Bagaimana cara bangkit kembali?
    Pernah. Namun saya selalu kembali pada niat awal, mengingat keluarga, serta tujuan besar yang ingin dicapai. Doa, refleksi diri dan dukungan orang-orang terdekat menjadi kekuatan untuk bangkit.

Apa harapan dan rencana setelah menyelesaikan studi S3?
    Setelah menyelesaikan studi S3, saya berharap dapat berkontribusi secara lebih optimal dalam pengembangan keilmuan, penelitian, serta peningkatan kualitas pendidikan, khususnya di institusi tempat saya mengabdi. 

Saya juga memohon agar Allah Subhannahu Wa Ta’ala senantiasa memberikan jalan yang lapang, kemudahan, dan keberkahan dalam ikhtiar akademik saya nanti menuju jenjang Guru Besar. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)


---------------------
Jangan Pernah Takut Bermimpi Besar 
    PENDIDIKAN adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan arah dan kualitas masa depan.
Dalam hal pendidikan, motivasi yang ingin disampaikan Apippudin kepada generasi muda dan mahasiswa adalah tetap semangat dan berusaha walaupun dalam kondisi sulit.
"Jangan pernah takut bermimpi besar dan jangan mudah menyerah, meskipun berada dalam kondisi yang sangat sulit, karena saya pun pernah mengalaminya," katanya.
Memang diakui Apippudin, perjalanan menempuh pendidikan perlu pengorbanan dan tekad yang kuat.
"Proses memang tidak selalu mudah, namun dengan integritas, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar, jalan akan selalu terbuka," katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Biodata
Nama: Apippudin Adnan SE MM
Lahir: Bunati, 5 Maret 1978
Usia: 48 tahun 
Alamat: Banjarbaru, Kalsel
Jenis Kelamin: Laki-laki 
Status: Menikah

Pendidikan:
S1 STIE Pancasetia Banjarmasin 2016
S2 STIE Pancasetia Banjarmasin 2018
S3 Sedang berjalan semester 5 (lulus) akan masuk semester 6 di Untag Surabaya

Pekerjaan: Dosen Stiepan Banjarmasin (2019-sekarang)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.