TRIBUNJABAR.ID, KUNINGAN - Fenomena kematian massal ikan dewa di Balong Keramat, kawasan wisata Kecamatan Cigugur, memicu reaksi cepat Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, turun langsung ke lokasi untuk memastikan langkah penanganan serius terhadap ikon wisata religi tersebut, Rabu (4/2/2026).
Hingga hari ketujuh sejak pertama kali terpantau pada 29 Januari 2026, tercatat sebanyak 305 ekor ikan dewa ditemukan mati.
Bupati Dian, yang didampingi Sekda U Kusmana, menegaskan bahwa fenomena ini tidak bisa dianggap remeh.
Ia meminta seluruh perangkat daerah bekerja berdasarkan data teknis untuk menyelamatkan ekosistem kolam keramat tersebut.
Baca juga: Ikan Dewa di Kolam Keramat Cigugur Mati Massal, Tubuh Luka-luka Akibat Disiksa Parasit
“Fenomena ini harus ditangani secara serius dan komprehensif. Kita bertindak berdasarkan data yang akurat, bukan asumsi. Pertemuan hari ini harus menghasilkan tindakan nyata,” tegas Bupati Dian.
Salah satu instruksi utamanya adalah penyediaan kolam karantina khusus untuk memisahkan ikan yang sakit serta normalisasi sirkulasi air masuk dan keluar.
Bupati juga mempertimbangkan opsi pengurasan total kolam untuk pemulihan ekosistem.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Dr. A. Taufik Rohman, memaparkan kondisi memprihatinkan dari ikan-ikan yang mati. Berdasarkan pengamatan lapangan, ditemukan gejala klinis yang mengarah pada serangan parasit.
“Ikan tampak lemas, ada luka kemerahan di tubuh, insang pucat memutih, hingga sisik yang mudah terlepas. Kami juga menemukan adanya infeksi cacing jangkar pada kulit, insang, dan rongga mulut ikan,” ungkap Taufik.
Sebagai langkah awal, tim teknis telah memusnahkan bangkai ikan secara aman dan melakukan stabilisasi kualitas air menggunakan garam krosok serta tumbuhan daun kipahit untuk menekan laju infeksi.
Perwakilan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Barat, Hari, menyebutkan bahwa situasi di Cigugur sudah masuk kategori gawat darurat.
Menurutnya, pengobatan di kolam utama yang sangat luas akan berjalan tidak efektif.
“Diperlukan kolam instalasi darurat untuk isolasi. Saat ini, sampel ikan sudah kami ambil untuk pemeriksaan laboratorium. Hasilnya akan keluar maksimal dalam tiga hari, kami berharap negatif dari penyakit karantina,” ujar Hari.
Pemerintah daerah kini tengah menyiapkan rekomendasi teknis untuk pengurasan dan pengeringan kolam guna memperbaiki kualitas air yang diduga telah tercemar berat. (*)