Bisakah Amerika Mengalahkan Iran Tanpa Harus Kerahkan Pasukan? Ini Skenario Serangan AS
TRIBUNNEWS.COM - Skeptisme membayangi rencana negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan berlangsung Jumat (6/2/2026) di Istambul, Turki.
Baik AS dan Iran memiliki pandangan berbeda yang sangat mencolok di tengah ketegangan seusai ancaman Presiden AS, Donald Trump menyerang negara Persia tersebut yang dibarengi pengerahan kekuatan besar militernya di kawasan perairan Teluk.
Baca juga: Skenario Amerika Serikat Berlakukan Blokade Laut ke Iran: Satu Dunia Bisa Gonjang-ganjing
Trump awalnya berdalil kalau serangan AS akan terjadi lantaran aksi represif pemerintah Iran dalam menangani demonstrasi massal di negara tersebut yang disulut krisis multidimensi mulai dari sektor energi hingga sektor ekonomi.
Rencana eksekusi bagi mereka yang dianggap sebagai perusuh membuat niat Trump makin menjadi menyerang Teheran.
Di sisi lain, Iran beranggapan, AS dan sekutu utamanya, Israel, menjadi dalang dari penggerakan demonstrasi yang berujung kerusuhan tersebut hingga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar.
Alasan AS untuk menyerang Iran kemudian bergeser saat Iran membatalkan eksekusi.
"Saatnya mengganti rezim," ujar Trump, mengindikasikan kalau dia menginginkan Iran berganti pemimpin.
Dalil kemudian berkembang menjadi isu pengembangan nuklir Iran, di mana Israel menjadi pihak yang lantang menyuarakan kekhawatirannya atas hal ini.
Negosiasi di Istambul Turki diyakini bisa dengan cepat runtuh dan berubah menjadi perang terbuka saat sejumlah indikasi menunjukkan kalau sekelumit perbedaan pandangannya ini sulit untuk disatukan.
Jika AS kemudian memutuskan menyerang Iran, negara tersebut memiliki sejumlah opsi ofensif bahkan tanpa harus mengerahkan pasukan secara fisik ke negara tersebut.
Sejumlah analis militer, dari sisi teknis, menilai kalau AS kemungkinan mempertimbangkan sejumlah manuver non-invansif ke Iran seperti:
"Ketiga cara ini menjadi opsi lain bagi AS untuk menetralisir Iran tanpa harus melakukan invasi darat yang mahal dan meminimalkan risiko pengerahan pasukan," tulis ulasan WN, Rabu (4/2/2026).
Pada opsi serangan udara, AS kemungkinan akan memprioritaskan penghancuran sistem pertahanan udara Iran terlebih dahulu untuk memastikan keamanan jet-jet tempurnya.
Pesawat tempur siluman seperti F-35 dan F-22 akan memimpin gelombang awal untuk membersihkan langit dari ancaman musuh.
Di sisi lain, Kapal perusak Angkatan Laut AS dapat meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari jarak ratusan kilometer di Teluk Persia.
Strategi ini menjaga keselamatan para pelaut Amerika sekaligus menyerang target strategis jauh di dalam wilayah Iran.
Manuver ini dikombinasikan dengan penggunaan bom penghancur bunker berukuran besar seperti GBU-57 dirancang untuk menembus fasilitas bawah tanah yang dalam.
Bom ini secara khusus akan menargetkan lokasi yang dibentengi seperti Fordow untuk menghentikan program pengembangan nuklir apa pun dengan segera.
Hal lain adalah penggunaan kawanan drone canggih yang dapat digunakan untuk membingungkan dan melumpuhkan sistem radar Iran selama serangan.
Hal ini memungkinkan pesawat pembom AS yang lebih besar untuk mencapai target mereka tanpa terdeteksi atau ditembak jatuh oleh rudal permukaan-ke-udara.
Serangan non-invansif yang kemungkinan dilakukan adalah pengerahan kekuatan angkatan laut untuk melakukan blokade ketat di pelabuhan-pelabuhan utama.
Blokade laut ini bertujuan memutus pendapatan minyak vital Iran.
Menghentikan ekspor ini akan berdampak buruk pada ekonomi Iran dan membatasi pendanaan untuk operasi militer mereka.
Selain itu, serangan presisi akan menargetkan markas militer dan pusat komunikasi untuk memutuskan rantai komando.
Memutus hubungan kepemimpinan dengan unit lapangan membuat pasukan lawan tidak terkoordinasi dan tidak efektif di medan perang.
Selain bahan peledak, AS kemungkinan akan mengerahkan senjata siber canggih untuk melumpuhkan jaringan militer Iran.
Serangan-serangan ini mengganggu jaringan komando dan pembangkit listrik, mirip dengan dampak virus Stuxnet.