TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI-Perjuangan, Ina Ammania, meminta negara bertanggung jawab atas peristiwa tewasnya anak SD berinisial YBS (10) anak SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Siswa kelas IV SD itu diduga mengakhiri hidupnya karena putus asa dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Saat meminta uang kurang dari Rp 10.000 untuk membeli buku dan pena, ibunya, MGT (47), menjawab bahwa mereka tidak memiliki uang.
Ina menegaskan, insiden memilukan ini tidak akan terjadi bila negara memberikan perlindungan terhadap anak, termasuk hak pendidikannya.
“Ini harus menjadi alarm serius bagi negara. Contoh potret yang buruk bagi dunia pendidikan, termasuk hak-haknya,” ujar Ina dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026).
Ina menekankan, apa yang dialami YBS semestinya tidak terjadi, mengingat negara telah menganggarkan ratusan triliun untuk pendidikan.
Lalu, dia juga menyoroti banyaknya bantuan sosial bagi keluarga tidak mampu melalui sejumlah kementerian.
Sebab, bila bantuan itu tepat sasaran, seharusnya masalah kekurangan pena dan buku terselesaikan.
“Apakah buku dan pena itu terlalu mahal, sehingga negara tidak bisa hadir? Ini adalah kelalaian negara yang tidak mampu memberikan perlindungan dan pencegahan,” tuturnya.
Ia mengkritik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dalam kaitan dengan tewasnya anak SD tersebut.
“Artinya KemenPPPA gagal menjamin perlindungan terhadap anak," kata Ina.
Ina juga menyoroti peran KemenPPPA yang gagal memberikan perlindungan terhadap anak-anak rentan.
Padahal, jika berkaca pada tahun lalu, kasus menghebohkan kekerasan terhadap anak juga terjadi di wilayah Ngada, yang menjerat Kapolres Ngada.
“Artinya KemenPPPA gagal menjamin perlindungan terhadap anak. Mereka tidak berkaca dari tahun lalu saat sejumlah anak di Ngada menjadi korban pornografi dan human trafficking,” kata Ina.
“Di sinilah peran Kementerian PPPA dituntut, bagaimana melakukan perlindungan anak sejak dini, baik dari lingkungan keluarga maupun masyarakat,” imbuhnya.
Ia seorang janda yang harus menafkahi lima anak.
Bahkan, untuk mengurangi beban sang ibu, korban sempat diminta tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok.
Tak jauh dari pondok itulah korban ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026).
Baca juga: Siswa SD di Ngada Ditemukan Tewas usai Keluhkan Tak Mampu Beli Buku & Pena, Tinggalkan Surat
Saat ditemukan, korban tampak mengenakan baju olahraga berwarna merah.
Informasi yang diperoleh, saat mengevakuasi korban, warga menemukan sebuah pesan tertulis yang ditujukan kepada sang ibunda.
Pesan itu ditulis pada sebuah kertas berwarna putih.
Dalam selembar surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah (bahasa Bajawa).
Kertas Ti'i Mama Reti"
Mama galo Ze'e
Mama Molo, Galo Ja'o Mata, Mama Ma'e Rita ee Mama
Mamo Galo Ja'o Mata, Ma'e Woe Rita Ne Gae Nga'o ee
MOLO MAMA
Menurut sumber warga asli Bajawa, isi surat itu adalah:
Kertas untuk mama Reti
Mama terlalu kikir,
Mama baik sudah, saya kalau mati jangan sampai menangis ee mama.
Mama, saya kalau mati jangan menangis dan cari saya ee.
Baik sudah mama.
Dilansir dari KompasTV, Menteri Sosial atau Mensos Saifullah Yusuf menanggapi terkait insiden tragis seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga mengakhiri hidupnya karena tak mampu beli buku dan pena.
Saifullah merasa prihatin dan menyampaikan duka cita. Ia mengatakan kejadian tersebut harus menjadi atensi bersama, termasuk pemerintah pusat maupun daerah.
"Tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka. Yang kedua, tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, ya tentu bersama pemerintah daerah," katanya, Selasa (3/2/2026).
Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Gus Ipul itu menekankan pentingnya pendampingan dan penguatan data terhadap keluarga yang terbilang tidak mampu.
"Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, ya kita harapkan tidak ada yang tidak terdata," ucapnya, seperti dilaporkan Jurnalis KompasTV, Alfa.
Menurut Gus Ipul, penguatan data penting untuk menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem dan kategori miskin.
Ia pun kembali menyampaikan peristiwa meninggalnya anak SD diduga bunuh diri di NTT tersebut harus menjadi perhatian bersama.
"Ini hal yang sangat penting saya kira kembali kepada data, bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi dan memerlukan pemberdayaan," ujarnya.
"Ya, jadi itu sampai disitu dulu dan ini sungguh-sungguh menjadi perhatian bersama."
Jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup.
Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
Sebagian rtikel ini tayang di Kompas.com