Kisah di Balik Menara Pisa: Kenapa Bisa Miring Tapi Tak Roboh?
February 04, 2026 11:00 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Menara Pisa di Italia merupakan salah satu keajaiban arsitektur yang paling dikenal di dunia, bukan karena kemegahannya, melainkan karena kegagalan konstruksinya.

Terletak di alun-alun Piazza dei Miracoli, menara lonceng ini mulai miring sesaat setelah pembangunannya dimulai pada abad ke-12.

Namun, ada teka-teki besar yang membingungkan para ahli selama berabad-abad: bagaimana mungkin sebuah bangunan yang miring secara ekstrem dapat bertahan dari berbagai gempa bumi besar dan peperangan tanpa pernah roboh? Jawabannya terletak pada kombinasi antara kegagalan geologi dan rekayasa teknik yang tak terduga.

Baca juga: 5 Fakta Sejarah Croissant, Ternyata Bukan Berasal dari Perancis!

1. Kesalahan Fatal pada Fondasi dan Tanah

Masalah utama Menara Pisa bermula dari pemilihan lokasi. Nama "Pisa" sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti "tanah rawa".

Bangunan seberat 14.500 ton ini didirikan di atas fondasi yang hanya sedalam tiga meter, di atas lapisan tanah yang terdiri dari pasir, tanah liat, dan sisa-sisa air rawa yang sangat lunak.

Akibatnya, saat pembangunan baru mencapai lantai ketiga, struktur tersebut mulai tenggelam di satu sisi dan menciptakan kemiringan yang permanen.

2. Penundaan Pembangunan yang Menyelamatkan

Proses pembangunan Menara Pisa memakan waktu hampir 200 tahun karena sering terhenti akibat perang antarwilayah.

Namun, jeda panjang ini justru menjadi faktor kunci yang mencegah menara tersebut roboh lebih awal.

Selama masa penundaan yang berlangsung hingga puluhan tahun, tanah lunak di bawah fondasi memiliki waktu untuk memadat dan mengendap di bawah beban berat menara.

Tanpa jeda waktu tersebut, menara dipastikan akan langsung tumbang sebelum mencapai ketinggian maksimalnya.

3. Upaya Arsitek Memperbaiki Kemiringan

Ketika pembangunan dilanjutkan, para arsitek mencoba mengimbangi kemiringan dengan membangun lantai-lantai berikutnya lebih tinggi di sisi yang tenggelam.

Jika diperhatikan dengan saksama, Menara Pisa sebenarnya tidak lurus, melainkan sedikit melengkung seperti bentuk pisang.

Upaya ini dilakukan untuk menggeser titik pusat gravitasi kembali ke tengah, meskipun hasil akhirnya tetap tidak mampu meluruskan menara sepenuhnya.

4. Fenomena Interaksi Tanah-Struktur (DSSI)

Penelitian modern oleh para insinyur dari Universitas Roma Tre menemukan sebuah paradoks menarik.

Tanah lunak yang menyebabkan kemiringan menara ternyata adalah faktor yang sama yang melindunginya dari gempa bumi. Melalui fenomena yang disebut Dynamic Soil-Structure Interaction (DSSI), kekakuan menara yang dikombinasikan dengan kelembutan tanah membuat getaran gempa tidak beresonansi dengan bangunan.

Hal ini membuat Menara Pisa tetap stabil meski telah diguncang setidaknya empat gempa bumi besar sejak tahun 1280.

5. Penyelamatan Melalui Teknologi Modern

Pada akhir abad ke-20, Menara Pisa sempat ditutup untuk umum karena kemiringannya sudah mencapai titik kritis yang membahayakan.

Proyek restorasi besar-besaran dilakukan dengan cara mengambil sebagian tanah dari bawah sisi yang lebih tinggi untuk menarik menara kembali ke posisi yang lebih aman.

Proyek ini berhasil mengurangi kemiringan sekitar 40 sentimeter, yang menurut para ahli cukup untuk menjamin kestabilan menara selama 200 tahun ke depan.

Kestabilan menara pisa hingga hari ini bukan sekadar faktor keberuntungan, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara beban bangunan dan karakteristik unik tanah di bawahnya.

Meskipun tetap miring, struktur ini tetap berdiri sebagai monumen kecerdasan manusia dalam menghadapi tantangan alam dan sejarah yang tak terduga.

(MG ADZKIA HAFIDZA ELFADZ)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.