Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Lhokseumawe
SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE — Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Al-Banna meluncurkan Program 100 Beasiswa bagi anak-anak korban banjir di Aceh sebagai upaya pemulihan pascabencana yang berkelanjutan.
Program ini tidak hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga dirancang untuk membentuk mahasiswa yang tangguh, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial terhadap masyarakat.
Ketua STIH Al-Banna Lhokseumawe, Muksalmina, SHI MH kepada Serambinews.com, Rabu (4/2/2026), menyampaikan bahwa program beasiswa tersebut lahir dari kesadaran moral dan konstitusional atas pentingnya menjaga hak atas pendidikan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak korban bencana alam.
“Program ini merupakan wujud nyata pengamalan nilai Pancasila, khususnya Sila Kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Sila Kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam situasi kebencanaan, keadilan tidak cukup dimaknai secara formal, tetapi harus diwujudkan melalui keberpihakan nyata kepada mereka yang paling terdampak,” ujar Muksalmina.
Ia menegaskan, pendidikan pascabencana tidak boleh berhenti pada penyelamatan individu semata, melainkan harus diarahkan untuk memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Oleh karena itu, STIH Al-Banna menyiapkan program lanjutan berupa pendampingan akademik, pembinaan karakter, serta pelibatan aktif mahasiswa penerima beasiswa dalam kegiatan edukasi hukum dan pemulihan sosial di wilayah terdampak banjir.
“Ke depan, mahasiswa penerima beasiswa tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga agen pemulihan dan keadilan sosial di tengah masyarakat Aceh,” tambahnya.
Selain berpijak pada nilai-nilai Pancasila, program ini juga berangkat dari ajaran agama yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi kemuliaan manusia.
Baca juga: Kolaborasi Pemko Lhokseumawe dan PIM, Salurkan 10 Ribu Liter Air Bersih Bagi Pengungsi
Dalam perspektif Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban yang tidak gugur dalam kondisi apa pun, termasuk saat menghadapi musibah.
Kepedulian terhadap pendidikan korban bencana dipandang sebagai bentuk nyata dari nilai ta’awun (saling menolong) dan rahmah (kasih sayang).
“Dalam kondisi sulit sekalipun, agama mengajarkan agar manusia tidak meninggalkan ilmu. Pendidikan adalah jalan memuliakan manusia dan sarana membangun kembali harapan pascabencana,” kata Muksalmina.
Lebih lanjut, program beasiswa ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), yang menegaskan kewenangan dan tanggung jawab Aceh dalam menyelenggarakan pendidikan yang bermutu, berkeadilan, serta berlandaskan nilai keislaman dan kearifan lokal.
Dalam konteks Aceh sebagai daerah dengan kekhususan dan keistimewaan, pemenuhan hak pendidikan bagi korban bencana merupakan bagian dari amanat pembangunan manusia Aceh yang bermartabat.
Melalui Program 100 Beasiswa ini, STIH Al-Banna berharap dapat berkontribusi nyata dalam upaya pemulihan Aceh pascabanjir, khususnya di sektor pendidikan, sekaligus meneguhkan peran perguruan tinggi sebagai institusi yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menghadirkan keadilan dan kemanusiaan di tengah masyarakat.(*)