Lelucon “Tinggal di Kubur” Muncul Lagi Saat Wacana Gentengisasi Menguat
February 05, 2026 12:47 AM

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rencana nasional program “gentengisasi” yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto memantik beragam respons di daerah, termasuk di Gorontalo.

Selain menimbulkan berbagai pertimbangan teknis dan ekonomi, wacana tersebut juga memunculkan kembali cerita-cerita lama di tengah masyarakat.

Salah satunya lelucon yang menyebut tinggal di bawah atap genteng seperti berada di dalam kubur.

Tokoh Adat Bate Lo Hulontalo, Ishak Bumulo, menuturkan bahwa masyarakat Gorontalo memiliki sejarah panjang dalam penggunaan material atap rumah.

Baca juga: Ternyata Ada Jejak Historis! Pantas Ismet Mile jadi Ketua PPP Gorontalo Meski Tak Masuk Rekomendasi

Dalam wawancara pada Selasa (4/2/2026), Ishak menjelaskan bahwa pada masa lalu masyarakat Gorontalo tidak menggunakan atap seng, apalagi genteng.

Material yang lazim digunakan justru berasal dari alam, yakni rumbia yang diambil dari pohon enau atau aren.

Menurutnya, pemilihan rumbia bukan tanpa alasan. Selain mudah didapat, rumbia mampu menciptakan suasana rumah yang lebih sejuk dan nyaman.

“Mengapa mereka memakai itu, karena di dalam rumah dingin, tidak panas,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada masa itu rumbia mudah diperoleh dan dijual dengan harga terjangkau.

Jika daun rumbia sulit ditemukan, masyarakat memanfaatkan daun kelapa yang dianyam sebagai alternatif penutup atap.

Perubahan mulai terlihat sekitar tahun 1957. Saat itu sebagian kecil masyarakat mulai beralih menggunakan atap seng karena dinilai lebih rapi dan modern.

Namun, penggunaan seng hanya dapat dijangkau oleh kelompok masyarakat tertentu yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik.

Ishak menegaskan, pada masa tersebut belum ada masyarakat Gorontalo yang menggunakan genteng sebagai atap rumah.

“Saat itu ekonomi Gorontalo masih di bawah. Orang mengambil sesuatu yang mudah dan murah harganya,” katanya.

Seiring berkembangnya zaman dan munculnya rumah-rumah modern, masyarakat mulai mengenal genteng.

Bersamaan dengan itu, muncul pula lelucon yang berkembang secara turun-temurun.

Sebagian masyarakat berseloroh bahwa tinggal di bawah genteng seperti berada di dalam kubur karena materialnya berasal dari tanah.

Namun, Ishak menegaskan ungkapan tersebut hanyalah candaan dan tidak berkaitan dengan kepercayaan atau keyakinan tertentu.

“Cuma lucu-lucan saja, karena genteng ini dibuat dari tanah, jadi kita diatapi tanah dan dinding oleh tanah dari batu bata,” jelasnya.

Ia menegaskan tidak pernah ada pandangan spiritual yang mengaitkan penggunaan genteng dengan hal tersebut.

“Tidak ada keyakinan atau pemikiran orang masih hidup sudah tinggal di bawah tanah,” katanya.

Sebagai contoh, Ishak menirukan ungkapan yang dulu sering muncul di masyarakat.

“Dipo yilate wa'u bo ma dingi-dingingo po huta ma wato-watopo lo huta (Belum mati aku tapi sudah dikelilingi tanah dan diatapi tanah),” ujarnya.

Menanggapi wacana program gentengisasi, Ishak menilai kebijakan tersebut tetap harus mempertimbangkan kondisi masyarakat, khususnya terkait kemampuan ekonomi dan kesiapan konstruksi rumah.

“Kita kembali ke masyarakat, apakah mereka mampu membeli. Karena kalau rumah dari genteng, kayu yang dipakai banyak,” ujarnya.

Menurutnya, genteng memiliki bobot yang lebih berat dibanding seng sehingga membutuhkan struktur bangunan yang lebih kuat dan bahan konstruksi berkualitas.

Hal tersebut tentu berdampak pada peningkatan biaya pembangunan rumah.

Ia juga mengungkapkan bahwa Gorontalo pernah memiliki produksi genteng lokal, namun tidak bertahan lama.

Meski begitu, Ishak mengakui rumah dengan atap genteng memiliki nilai estetika yang baik dan memberikan kenyamanan suhu bagi penghuni.

Ia juga meyakini program pemerintah memiliki tujuan positif bagi masyarakat.

“Program dari pemerintah juga baik. Barangkali kalau ada subsidi dari pemerintah, masyarakat akan mendukung program tersebut,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan gagasan gentengisasi sebagai gerakan nasional untuk mengganti atap bangunan dari seng menjadi genteng.

Presiden menyebut kebijakan tersebut sebagai upaya meningkatkan kualitas hunian, memperindah lingkungan permukiman, serta memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan.

Hal itu disampaikan Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

“Salah satu dalam rangka memperindah. Saya lihat Surabaya, semua kota, semua kecamatan, hampir semua desa kita sekarang terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo.

Ia menilai dominasi atap seng membuat kawasan permukiman kehilangan nilai estetika. Presiden bahkan menegaskan bahwa wajah Indonesia sulit terlihat indah jika atap rumah masih didominasi seng.

“Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” katanya.

Dalam konsep gentengisasi, Prabowo mendorong penggunaan genteng sebagai material utama atap bangunan di seluruh Indonesia.

Program tersebut dirancang sebagai gerakan masif yang melibatkan pemerintah daerah, koperasi, serta berbagai pihak terkait.

Presiden menilai industri genteng relatif mudah dikembangkan karena tidak memerlukan investasi peralatan yang mahal.

“Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujarnya.

Selain itu, genteng berbasis tanah dinilai dapat dikombinasikan dengan material limbah agar lebih ringan dan kuat.

Prabowo menyebut limbah batu bara sebagai salah satu bahan tambahan potensial.

Di sisi lain, gentengisasi juga dikaitkan dengan nilai tradisi serta kenyamanan hunian.

Presiden menilai rumah-rumah tradisional Indonesia menggunakan material alami yang lebih sejuk dibanding seng.

“Kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, dulu pakai rumbia, ijuk, sirap, atau bahan dari alam, jadi sejuk,” kata Prabowo.

Ia juga mencontohkan kampung halaman ibunya di Minahasa yang dahulu menggunakan atap rumbia sebagai penutup rumah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.