Curhat Petani Desa Uevolo Parigi Moutong, Lahannya Terbakar Saat Tanaman Sedang Berbuah
February 05, 2026 11:05 AM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas hingga Desa Uevolo, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menyisakan duka mendalam bagi para petani setempat.

Api yang merambat ke wilayah Desa Uevolo sejak Rabu (4/2/2026) sore bergerak cepat mengikuti arah angin dan kondisi lahan yang kering.

Kobaran api tidak hanya membakar semak belukar, tetapi juga masuk ke area kebun warga yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama.

Baca juga: Gubernur Sulteng Dorong Pemkot Palu Gunakan Bank Sulteng untuk Simpan Anggaran Daerah

Puluhan hektare kebun produktif dilaporkan hangus terbakar dalam peristiwa tersebut.

Api melahap tanaman keras seperti duarian, pala, cengkeh dan mangga, maupun tanaman palawija milik warga.

Salah satu petani Desa Uevolo, Aiman, menjadi saksi bagaimana kerja keras bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam.

Saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu malam, Aiman menceritakan dengan nada berat kondisi kebun miliknya yang terbakar.

Kebakaran Hutan dan Lahan di Parigi Moutong Meluas, Ratusan Hektare Tanaman Terbakar
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas hingga Desa Uevolo, Kecamatan Siniu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, menyisakan duka mendalam bagi para petani setempat. (TribunPalu/Faaiz/Abdul Humul Faaiz)

“Di kebun saya ada durian, alpukat, pala, kakao, dan cengkeh. Semua itu sedang berbuah,” ujar Aiman kepada TribunPalu.com.

Ia mengaku naik ke kebun untuk melihat langsung kondisi lahannya saat api masih terus menyala.

Namun sesampainya di lokasi, sebagian besar tanaman yang dirawatnya telah hangus dilalap api.

“Sebagiannya sudah terbakar. Luasannya sekitar dua hektare lebih,” tuturnya yang berdiri didampingi istri saat berbincang dengan jurnalis.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini Kamis 5 Februari 2026, Emas Antam Turun Rp 17.000, Cek Harga Emas Terbaru

Menurut Aiman, kebun tersebut merupakan tumpuan ekonomi keluarganya.

Hasil panen dari kebun itulah yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kondisi itu membuat dirinya dan petani lain di Desa Uevolo terpukul, terlebih sebagian tanaman tengah memasuki masa panen.

Selain tanaman keras seperti durian dan cengkeh, api juga menghanguskan tanaman palawija, di antaranya cabai dan berbagai jenis sayuran.

Berdasarkan laporan warga setempat, total luasan lahan terbakar di Desa Uevolo diperkirakan mencapai 20 hektare dan masih akan berubah setelah hasil pendataan dari BPBD Parigi Moutong.

Baca juga: TERJAWAB, Sosok J yang Menjabat Ketua Dewan Pembina PSI Dipastikan Jokowi

Api terus menyebar juga menimbulkan kekhawatiran warga karena pergerakannya yang berangsur menuju area permukiman.

Warga bersama petugas gabungan berjibaku melakukan pemadaman secara manual menggunakan peralatan seadanya, seperti ember, jerigen, dan tangki semprot.

Upaya pemadaman terkendala oleh medan yang sulit, keterbatasan air, serta tiupan angin kencang membuat api mudah menyala kembali.

Hingga Rabu malam, kobaran api di wilayah Desa Uevolo masih menyala.

Bara api memerah masih tampak dari kejauahan. 

Baca juga: Baru 8 Bulan Menjabat, Ini Sosok Mulyono Purwo Wijoyo Kepala KPP Madya Banjarmasin yang Kena OTT

Peristiwa ini menjadi pengingat betapa besar dampak karhutla bagi kehidupan petani, tidak hanya merusak lahan, tetapi juga memutus sumber penghidupan mereka. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.