TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tidak semua perjalanan karier dimulai dari ruang kantor berpendingin udara. Sebagian justru ditempa dari kerasnya lapangan, lika-liku hidup, dan ujian kesehatan yang nyaris mematahkan harapan. Itulah potret perjalanan Lutfi Wahyudi, sosok muda asal Jambi yang kini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Subbagian Umum Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMT) Provinsi Jambi.
Sebelum duduk di kursi struktural pemerintahan, Lutfi pernah merasakan kerja kasar di sektor pertambangan, aktif berorganisasi, hingga menjadi dosen teknik kebumian.
Jalan hidupnya sempat terhenti ketika Lutfi mendapat vonis menderita kanker lidah stadium dua. Penyakit itu membuatnya harus menjalani serangkaian operasi dan pengobatan panjang.
Delapan bulan masa pemulihan menjadi titik balik. Di ruang perawatan, Lutfi tak hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga merumuskan ulang makna hidup dan pengabdian.
Dari sanalah lahir tekad untuk memberi dampak lebih luas, terutama di bidang pendidikan.
Keputusan beralih dari dunia akademik ke birokrasi pendidikan bukan tanpa alasan.
Lutfi melihat pendidikan sebagai fondasi utama perubahan daerah. Bergabung dengan BPMT, dia terlibat langsung mengawal mutu satuan pendidikan, perencanaan anggaran, hingga transformasi digital sekolah-sekolah di Jambi.
Kini, di usia relatif muda, Lutfi dipercaya memimpin sebagai pejabat struktural termuda di jajarannya. Baginya, semua orang berhak pendidikan yang layak, setara, dan bermutu.
Berikut perbincangan Host Tribun Jambi, M Ferry Fadly bersama Lutfi Wahyudi.
Tribun Jambi:
Bang Lutfi, sekarang menjabat sebagai Kasubbag Umum BPMT Provinsi Jambi. Bisa diceritakan perjalanan karier Bang Lutfi sampai di posisi ini?
Lutfi Wahyudi:
Saya mulai bekerja tahun 2014 di sektor tambang, tepatnya di Kalimantan Selatan. Tidak sampai setahun, saya memutuskan melanjutkan studi S2 di UPN Veteran Yogyakarta. Selama kuliah S2, saya aktif berorganisasi. Tahun 2017, saya mendapat kesempatan mengikuti program kepemudaan nasional yang diprakarsai Pak Prabowo Subianto dan setelah itu direkrut menjadi staf ahli anggota DPR RI asal Jambi.
Tribun Jambi:
Setelah itu Bang Lutfi sempat menjadi dosen, ya?
Lutfi Wahyudi:
Betul. Tahun 2018 saya lulus CPNS sebagai dosen teknik kebumian di bidang pertambangan dan mengajar selama kurang lebih tiga tahun. Namun di tengah perjalanan, saya mengalami kanker lidah stadium dua yang membuat saya harus menjalani operasi, kemoterapi, dan radioterapi cukup panjang.
Tribun Jambi:
Kondisi itu tentu berat. Apa yang membuat Bang Lutfi tetap bertahan dan bangkit?
Lutfi Wahyudi:
Delapan bulan pengobatan adalah masa paling berat dalam hidup saya. Bahkan sempat diprediksi akan sulit berbicara normal. Tapi saya percaya, kalau kita yakin, berusaha, dan berdoa, selalu ada jalan. Alhamdulillah, saya pulih dan bisa kembali beraktivitas hingga dipercaya bertugas di dunia pendidikan.
Tribun Jambi:
Kapan Bang Lutfi mulai bergabung dengan BPMT?
Lutfi Wahyudi:
Saya pindah ke BPMT pada 2021, saat lembaga ini bertransformasi dari LPMP menjadi Balai Penjaminan Mutu Pendidikan. Selama hampir empat tahun saya bertugas sebagai staf dan dipercaya menjadi PIC Rapor Pendidikan Provinsi Jambi.
Tribun Jambi:
Prestasi apa yang paling membanggakan selama bertugas di BPMT?
Lutfi Wahyudi:
Pada 2024, Provinsi Jambi berhasil meraih peringkat dua nasional dalam perencanaan anggaran pendidikan berbasis Rapor Pendidikan. Itu hasil kerja kolaboratif antara BPMT, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan.
Tribun Jambi:
Bang Lutfi dilantik sebagai Kasubbag Umum pada Oktober 2025. Apa tantangan terbesarnya?
Lutfi Wahyudi:
Tantangan terbesar adalah memimpin di tengah keberagaman senioritas dan menghadapi pergantian kepala daerah. Selain itu, kami harus mengawal delapan program prioritas kementerian, termasuk digitalisasi pembelajaran dan revitalisasi sekolah.
Tribun Jambi:
Program digitalisasi “Satu Sekolah Satu Layar” jadi perhatian nasional. Bagaimana kondisi Jambi?
Lutfi Wahyudi:
Saat ini sekitar 600 sekolah di Jambi sudah terdigitalisasi dari target 3.600 sekolah. Tantangannya meliputi kesiapan listrik, keamanan perangkat, dan kesiapan SDM guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran.
Tribun Jambi:
Bagaimana kondisi capaian pendidikan Jambi saat ini?
Lutfi Wahyudi:
Berdasarkan Asesmen Kompetensi Akademik, Jambi berada di peringkat 10 nasional dan peringkat 5 di Sumatera. Namun capaian literasi dan numerasi masih perlu ditingkatkan karena rata-rata nilainya masih di bawah standar ideal.
Tribun Jambi:
Apa formula yang Bang Lutfi tawarkan untuk meningkatkan kualitas sekolah, termasuk di daerah terpencil?
Lutfi Wahyudi:
Kuncinya ada di perencanaan dan anggaran. Kami mengawal Dana BOS agar tepat sasaran berdasarkan kelemahan sekolah yang teridentifikasi di Rapor Pendidikan. Fokusnya bukan sekadar belanja, tapi dampak nyata pada literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran.
Tribun Jambi:
Apa pesan Bang Lutfi untuk pendidik dan generasi muda?
Lutfi Wahyudi:
Untuk mahasiswa, kuliah bukan sekadar mencari pekerjaan, tapi membentuk karakter, soft skill, dan jejaring. Untuk para pendidik dan kepala sekolah, kami siap mendampingi dan berkolaborasi. Pendidikan berkualitas hanya bisa dicapai jika kita bergerak bersama.
Tribun Jambi:
Terakhir, apa mimpi Bang Lutfi untuk pendidikan Jambi?
Lutfi Wahyudi:
Saya bermimpi kualitas pendidikan Jambi merata, dari kota hingga pelosok. Bukan untuk mengejar peringkat semata, tapi agar setiap anak Jambi mendapat hak pendidikan yang adil dan bermutu. (Tribunjambi.com/Asto)
Baca juga: Saksi Kata Ibu Korban Kekerasan Seksual di Kota Jambi: Saya Ingin Anak Saya Dipulihkan
Baca juga: Kerja Sampingan Guru Honorer SMP di Kerinci Reki Eka, Jatah 6 Proyek Lampu Jalan Miliaran Rupiah