TRIBUNTRENDS.COM - Suasana duka menyelimuti keluarga besar UPTD SDN Rutojawa, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Seorang siswa kelas IV berinisial YBR (10), asal Desa Nenuwea, ditemukan meninggal dunia secara tidak wajar.
YBR yang dikenal sebagai anak ramah dan berperilaku baik itu ditemukan tak bernyawa di area kebun dekat pondok bambu yang menjadi tempat tinggalnya bersama sang nenek, WN (80).
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, YBR hidup bersama neneknya dalam keterbatasan, namun tetap dikenal tidak pernah memiliki masalah di lingkungan sekolah.
Baca juga: Gubernur NTT Terpukul Ada Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup Imbas Tak Mampu Beli Buku: Jujur Saya Malu
Sepulang sekolah, ia kerap membantu sang nenek berjualan sayur demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.
Kepala UPTD SDN Rutojawa, Maria Ngene, mengenang YBR sebagai anak yang baik, ramah, dan tidak pernah bermasalah di lingkungan sekolah.
“Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, tidak biasa bikin onar,” ujar Maria, Rabu (4/2/2026).
Maria mengungkapkan, pihak sekolah tidak mengetahui secara detail jika YBR mengalami keterbatasan perlengkapan sekolah seperti buku dan pulpen.
Menurutnya, kondisi personal siswa lebih banyak dipantau oleh wali kelas masing-masing.
“Saya belum mendapatkan informasi itu. Soal kebutuhan siswa, yang paling tahu itu wali kelas. Apalagi ini awal semester, mungkin dia butuh buku dan pulpen tetapi belum sempat dibelikan,” jelasnya.
Selama ini, lanjut Maria, YBR tidak pernah mengeluh dan tidak mengalami kendala berarti dalam proses belajar mengajar.
“Tidak ada pantauan khusus karena memang tidak ada keluhan. Kami tidak bisa memantau siswa satu per satu secara pribadi,” katanya.
Meski hidup dalam keterbatasan, YBR tercatat tetap membayar uang sekolah, meskipun kerap terlambat.
Pembayaran dilakukan oleh ibu atau neneknya dan diterima oleh bendahara komite sekolah.
“Uang sekolah lancar, walaupun agak terlambat. Entah ibunya atau omanya yang membayar, kami tetap terima,”ungkap Maria.
Baca juga: Polisi Selidiki Kasus Siswa SD Akhiri Hidup, Periksa Pihak Sekolah: Jadi Korban Bullying atau Tidak
Maria juga menyebutkan, sejak kelas I hingga kelas III SD, YBR belum pernah menerima bantuan pendidikan seperti Program Indonesia Pintar (PIP).
Kendala utamanya adalah persoalan administrasi kependudukan.
“Dari kelas satu sampai kelas tiga dia tidak dapat bantuan apa-apa karena belum punya NIK,” jelasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pihak sekolah kemudian menyarankan agar YBR dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga (KK) sang nenek, karena ibu korban masih tercatat dalam KK di Kabupaten Nagekeo.
“Baru saat kelas tiga dia masuk KK omanya, karena mamanya masih KK di Nagekeo,” tambah Maria.
Tahun ini, pihak sekolah telah mengusulkan YBR sebagai penerima PIP.
Bahkan, saldo bantuan sebesar Rp450 ribu sudah tercatat di rekening. Namun, pencairan kembali terkendala karena identitas orang tua.
“Waktu mau cair, pihak bank tidak bisa karena mamanya ber-KTP luar daerah. Mamanya KTP Nagekeo, jadi pihak bank tidak bisa mencairkan. Saya juga kaget,” ungkapnya.
Atas peristiwa tragis ini, pihak sekolah menyatakan duka mendalam dan berkomitmen untuk meningkatkan pendekatan dan perhatian terhadap kondisi sosial para siswa ke depan.
“Ini menjadi pelajaran penting bagi kami. Ke depan akan dilakukan pendekatan yang lebih intens kepada siswa agar kejadian serupa tidak terulang,” tutup Maria.
(TribunTrends.com/TribunNgada.com)