Siswa berusia 10 tahun tersebut ditemukan tak bernyawa pada Kamis (29/1/2026) setelah diduga putus asa akibat keterbatasan ekonomi yang membuatnya tak mampu memiliki buku dan pena.
Sungguh ironis memang, di tengah pesatnya kemajuan teknologi, kenyataan pahit di lapangan menunjukkan masih ada anak Indonesia yang kehilangan harapannya.
Negara tentu ditantang untuk membuktikan bahwa janji pemerataan pendidikan bukan sekadar jargon di atas kertas.
Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena langsung menegur keras Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ngada menyusul meninggalnya YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar yang ditemukan tak bernyawa di kebun warga di Kecamatan Jerebuu.
Teguran tersebut disampaikan Melki Laka Lena dalam acara peluncuran dan peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) yang berlangsung di Aula Lantai 5 Gedung Rektorat UCB, Rabu (4/2/2026).
Melki mengaku sangat terpukul dengan peristiwa itu. Menurut dia, kasus meninggalnya seorang anak akibat kemiskinan merupakan alarm keras atas kegagalan berbagai pranata sosial dan pemerintahan di NTT.
“Sejak dua hari lalu, banyak menteri dan pimpinan nasional menghubungi saya lewat WhatsApp. Mereka bertanya, masih ada warga NTT yang mati karena miskin. Jujur, saya sangat terganggu dan malu,” kata Melki.
Ia mengungkapkan, dirinya sempat kesulitan menghubungi pemerintah daerah setempat untuk mendapatkan penjelasan.
Respons yang lambat membuatnya akhirnya mengutus tim dari provinsi untuk turun langsung ke lapangan.
“Saya WA kepala daerahnya, lama sekali respons. Akhirnya saya minta orang saya turun sendiri untuk cek. Jangan-jangan karena sudah biasa ada yang mati di sana, ini dianggap biasa. Padahal ini alarm besar bagi kita semua,” tegasnya.
Melki menyebut, peristiwa tersebut menunjukkan kegagalan kolektif, mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, hingga pranata sosial lainnya.
Baca juga: Gelagat Terakhir Siswa SD di NTT yang Akhiri Hidup Imbas Tak Mampu Beli Buku, Mengeluh Pusing
“Pranata sosial kita gagal, pranata agama gagal, pranata budaya gagal. Pemerintah provinsi gagal, kabupaten juga gagal. Ini orang mati karena miskin, bukan karena bencana,” ujarnya dengan nada keras.
Ia meminta agar perangkat sosial, mulai dari tingkat RT dan RW, kembali diaktifkan dan benar-benar berfungsi mendeteksi warga yang hidup dalam kondisi rentan.
“Kalau ada yang miskin dan susah, urus. Uang memang terbatas, tapi ada. Kita semua mesti malu dengan kejadian ini. Ini harus jadi pertobatan bersama dan harus menjadi yang terakhir,” pungkas Melki.
Diketahui, seorang anak berusia 10 tahun dengan inisial YBS tewas dan diduga mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri pada Kamis (29/1/2026) siang.
Sebelum kejadian, siswa yang baru duduk di bangku kelas IV tersebut sempat meminta uang kepada sang ibu untuk membeli buku dan pulpen, sebagaimana dilaporkan Kompas.id pada Senin (2/2/2026).
Tapi, permintaan itu tak bisa dikabulkan karena keterbatasan ekonomi keluarga. Kasus ini menyedot perhatian publik secara meluas, bahkan ada anggota DPR yang mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk usut tuntas.
Baca juga: Siswa SD Akhiri Hidup di NTT Belum Sempat Rasakan Bantuan PIP, Terkendala KTP Ibu dari Luar Daerah
Kontak bantuan
Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri.
Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
(TribunTrends.com)(Kompas.com)