Kisah Pilu Bocah SD di Ngada Akhiri Hidup, YBR Tak Pernah Mencicipi Bantuan PIP Sejak Kelas 1
February 05, 2026 01:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Kabar duka yang menyelimuti Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyisakan tanya dan kesedihan mendalam. 

YBR, seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, ditemukan tewas secara tragis pada Kamis (29/1/2026). 

Di balik kepergiannya yang mendadak, sebuah surat tulisan tangan dalam bahasa Ngada menjadi saksi bisu beban yang dipikul bahu mungilnya.

Dalam surat tersebut, YBR menyampaikan pesan terakhir agar ibundanya merelakan kepergiannya. 

Yang menyayat hati, sebuah gambar emoji wajah menangis terlukis di akhir baris kalimatnya, seolah mewakili perasaan yang tak sempat ia utarakan secara lisan.

Sosok Murid yang Tak Pernah Mengeluh

Di mata guru-gurunya, YBR adalah definisi anak baik. Maria Ngene, Kepala UPTD SD Negeri Rj, mengenangnya sebagai sosok yang ramah dan jauh dari masalah. 

"Dia anak baik, ramah dengan teman-temannya, dan tidak pernah membuat keributan," kenang Maria saat ditemui pada Rabu (4/1/2026).

Senada dengan sang kepala sekolah, Bonivasius Snae, sang wali kelas, mengaku terkejut karena selama ini YBR selalu tampak ceria di kelas. 

Bahkan di hari kejadian, bocah pintar ini masih mengerjakan tugas dengan buku dan bolpoin yang lengkap. 

"Anak ini selalu ceria di dalam kelas," ujar Boni. 

Tak ada jejak perundungan atau keluhan soal masalah di rumah yang pernah ia ceritakan.

Baca juga: Gubernur NTT Terpukul Ada Siswa SD di Ngada Akhiri Hidup Imbas Tak Mampu Beli Buku: Jujur Saya Malu

Gubuk Bambu dan Perjuangan Melawan Keterbatasan

Realita kehidupan YBR jauh dari kata mewah. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, ia telah tinggal bersama neneknya yang berusia 80 tahun di sebuah gubuk bambu berukuran 2 x 3 meter di area perkebunan sejak usia balita. 

Ayahnya telah merantau ke Kalimantan selama 12 tahun, sementara sang ibu tinggal di rumah terpisah.

Setiap hari, selain bersekolah, YBR adalah tumpuan sang nenek. 

Ia membantu menjual sayur, ubi, hingga kayu bakar demi menyambung hidup. Untuk makan, hasil kebun seperti pisang dan ubi menjadi menu utama mereka. 

"Kami selalu berusaha penuhi semampu kami," bisik sang nenek lirih saat mengenang permintaan sederhana cucunya yang hanya menginginkan buku tulis dan pulpen.

Baca juga: Teka-teki Kematian Siswa SD di Ngada, Dugaan Bullying Masih Diselidiki, Kapolres: Murni Niatan Anak

Ironi Dana PIP yang Terkunci Administrasi

Tragedi ini juga mengungkap sisi kelam birokrasi. 

Meskipun hidup serba kekurangan, YBR tak pernah mencicipi bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) sejak kelas 1 SD. 

Masalahnya klise, kendala administrasi kependudukan (Adminduk).

Dana bantuan sebesar Rp450 ribu sebenarnya sudah masuk ke rekening atas namanya tahun ini. Namun, uang itu tak bisa disentuh. 

"Saat hendak dicairkan, pihak bank tidak bisa memproses karena KTP ibunya berasal dari luar daerah. Ibunya ber-KTP Nagekeo," jelas Maria Ngene.

Baca juga: Dugaan Motif Lain di Balik Siswa SD di NTT Akhiri Hidup, Bupati Ngada Ragu: Masalah Cukup Kompleks

Pelajaran Berharga bagi Semua

Kematian YBR menjadi tamparan keras bagi banyak pihak. 

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, yang meninjau langsung gubuk bambu tempat tinggal YBR, menyatakan keprihatinannya. 

Ia memastikan bahwa proses perpindahan penduduk keluarga korban langsung ditangani agar kejadian serupa tidak terulang pada warga lain yang membutuhkan bantuan.

Pihak sekolah pun berkomitmen untuk lebih peka terhadap kondisi sosial siswa di luar kegiatan belajar mengajar. 

Disclaimer:

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.