HMI 79 Tahun: Sampai di Mana Perjuangan?
February 05, 2026 03:22 PM

Oleh:
Arhanuddin Salim
Alumni HMI, Dekan FTIK IAIN Manado

HARI ini, Tanggal 5 Februari 2026, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) genap berusia 79 tahun. Di banyak tempat, usia ini dirayakan dengan seremoni dan nostalgia sejarah. 

Namun di Manado, di ruang sosial yang plural, tempat umat Islam hidup sebagai minoritas, usia HMI seharusnya dirayakan dengan pertanyaan yang lebih jujur dan lebih mendasar: masihkah HMI hadir sebagai gerakan moral dan intelektual, atau sekadar bertahan sebagai simbol sejarah?

HMI lahir dari kegelisahan. Lafran Pane mendirikannya bukan untuk mencetak kader yang nyaman, melainkan kader yang resah melihat ketertinggalan umat dan arah republik. 

Dari kegelisahan itulah dua tujuan besar HMI dirumuskan: mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat umat Islam. 

Pertanyaannya hari ini, terutama di Manado: apakah kegelisahan itu masih hidup, atau telah digantikan oleh rasa aman struktural?

Konteks Manado dan Sulawesi Utara menempatkan HMI pada posisi yang unik sekaligus strategis. Masyarakat hidup dalam keberagaman agama dan budaya. 

Relasi lintas iman bukan sekadar wacana, melainkan pengalaman sehari-hari. 

Dalam konteks seperti ini, HMI seharusnya tampil sebagai wajah Islam yang dewasa, tenang, dialogis, dan berkeadaban, bukan Islam yang defensif apalagi eksklusif.

Namun refleksi kritis perlu diajukan. Sejauh mana HMI di Manado benar-benar hadir di ruang publik? 

Apakah ia aktif membangun dialog, menyuarakan keadilan sosial, dan terlibat dalam isu-isu nyata masyarakat? 

Ataukah justru lebih sibuk dengan dinamika internal organisasi dan agenda-agenda seremonial?

Tidak dapat dipungkiri, aktivitas HMI hari ini cukup padat. Struktur berjalan, rapat rutin digelar, kaderisasi terus berlangsung. 

Tetapi keramaian organisasi tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman gerakan. 

Di mana diskursus intelektual yang kritis? Di mana keberanian menyampaikan pandangan berbeda ketika berhadapan dengan isu ketimpangan sosial, pendidikan, atau relasi mayoritas-minoritas yang tidak selalu setara?

Kekhawatiran lain yang patut dicermati adalah kecenderungan sebagian kader memandang HMI lebih sebagai jalur mobilitas sosial dan politik, bukan sebagai ruang penggemblengan nilai. 

Diskusi ide sering kalah oleh kalkulasi posisi. Jika kecenderungan ini dibiarkan, HMI berisiko kehilangan identitasnya sebagai organisasi gerakan dan tereduksi menjadi sekadar organisasi administratif.

Dalam konteks masyarakat Manado yang plural, krisis orientasi semacam ini terasa lebih nyata. Ketika HMI kehilangan daya kritis, ia kehilangan relevansi sosial. 

Ketika keislamannya berhenti pada simbol dan jargon, ia kehilangan legitimasi moral. Islam yang dibutuhkan di ruang publik Manado bukan Islam yang keras dalam klaim, tetapi kuat dalam etika sosial, adil, jujur, terbuka, dan berpihak pada kemanusiaan, tanpa melihat latar agama.

Begitu pula dengan keindonesiaan. Sejarah mencatat peran HMI dalam merawat republik. Tetapi mencintai Indonesia tidak identik dengan membenarkan semua kebijakan negara. 

Justru cinta pada Indonesia menuntut keberanian bersikap kritis, termasuk di tingkat lokal, ketika kebijakan publik menjauh dari nilai keadilan dan kemanusiaan.

Pada usia 79 tahun, HMI sesungguhnya tidak sedang menghadapi krisis eksistensi. Ia masih memiliki kader, jaringan, dan ruang gerak. 

Tetapi yang patut diwaspadai adalah krisis orientasi dan keberanian moral. Organisasi bisa bertahan tanpa kejayaan, tetapi tidak bisa hidup tanpa nilai. 

Karena itu, Milad HMI seharusnya tidak berhenti pada perayaan simbolik. Ia perlu menjadi momen muhasabah kolektif: sejauh mana HMI, khususnya di Manado, masih setia pada cita-cita awalnya sebagai gerakan intelektual, keislaman, dan kebangsaan. 

Sebab organisasi tidak runtuh karena usia. Ia runtuh ketika berhenti bertanya dan mengoreksi diri.

Dan di usia ke-79 ini, pertanyaan paling jujur yang layak diajukan adalah: keberpihakan apa yang masih dijaga HMI, dan nilai apa yang masih diperjuangkannya di tengah masyarakat Manado yang majemuk ini? Wallahu’ a’lam.. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.