SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) resmi menyentuh angka satu digit sebesar 9,85 persen pada September 2025.
Angka ini merupakan level terendah dalam satu dekade terakhir sejak Maret 2014.
Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyatakan bahwa capaian ini merupakan buah dari komitmen panjang pemerintah provinsi bersama 17 kabupaten/kota.
"Ini impian saya, mimpi saya Sumsel kemiskinan satu digit. Dulu terasa mustahil, tapi hari ini alhamdulillah terwujud bersama Wakil Gubernur Cik Ujang," ujar Herman Deru di Griya Agung, Kamis (5/2/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan agar seluruh pihak tidak terlena dengan capaian tersebut.
Menurutnya, posisi satu digit masih sangat rentan, mengingat selisihnya hanya 0,15 persen dari ambang dua digit.
"Kita boleh bangga, tapi tidak boleh kufur. Karena kalau lengah, bisa kembali dua digit. Sumsel ini bingkai dari 17 kabupaten dan kota. Kalau satu lemah, semuanya terdampak,” tegasnya.
Deru menekankan pentingnya data yang akurat sebagai dasar kebijakan, terutama menjelang pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026.
Ia meminta keterlibatan aktif pemerintah kabupaten/kota hingga tingkat RT agar masyarakat terbuka dalam memberikan informasi kepada petugas sensus.
“Petugas ada sekitar 7.000 orang. Diharapkan keterbukaan informasi, jangan ditutupi. Data yang benar hanya bisa diperoleh dari keterbukaan masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto menjelaskan bahwa capaian ini ditopang oleh sejumlah indikator makro yang menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan tercatat sebesar 5,35 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang berada di angka 5,11 persen.
“Penurunan kemiskinan Sumsel ke level 9,85 persen ini merupakan pencapaian terendah sepanjang sejarah. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga berada di bawah nasional, yaitu 3,59 persen,” kata Wahyu.
Menurutnya, BPS berperan memotret hasil kebijakan yang telah dijalankan pemerintah daerah, sementara keberhasilan ini merupakan buah dari komitmen bersama antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan seluruh jajarannya.
Secara data, terjadi penurunan signifikan dalam enam bulan terakhir. Angka kemiskinan turun 0,30 persen dibandingkan Maret 2025 yang masih berada di level 10,15 persen. Secara absolut, jumlah penduduk miskin berkurang sebanyak 21,4 ribu orang, dari 919,60 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 898,24 ribu orang pada September 2025.
Jika ditarik ke belakang, fluktuasi angka kemiskinan sempat terjadi terutama pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020–2021, di mana persentase kemiskinan sempat melonjak hingga 12,98 persen.
Namun pascapandemi, Sumatera Selatan menunjukkan resiliensi ekonomi yang kuat, dengan penurunan bertahap sejak Maret 2022 di angka 11,90 persen hingga akhirnya menembus satu digit pada 2025. Keberhasilan ini dinilai sebagai sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Bumi Sriwijaya.