Ada ODGJ Berkeliaran Bebas Bawa Bawa Parang Hingga Linggis, Anggota Pol PP Tewas Ditikam
February 05, 2026 07:27 PM

 

SRIPOKU.COM - Mochamad Faik tewas ditikam seorang penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) saat berada di Desa Krakal, Kecamatan Alian, Kebumen.

Peristiwa yang terjadi pada 2 Februari 2026 siang itu menyisakan duka bagi personil Sat Pol PP Kebumen.

Pemakaman Faik pun haru biru yang dihadiri rekan-rekannya yang datang dengan seragam dinas ala Pol PP.

Kejadian nahas ini bermula saat korban dilibatkan melakukan evakuasi terhadap seorang penderita ODGJ bernama Ruwadi.

Baca juga: Ayah di Lubuklinggau Dibacok Anak Kandung Diduga ODGJ Karena Putus Obat

Tim evakuasi juga melibatkan anggota Polsek Alian, dua anggota Koramil Alian, lima personel Satpol PP, perangkat pemerintah desa, tenaga kesehatan dari Puskesmas Alian, serta pihak keluarga ODGJ. 

Proses penanganan awalnya direncanakan berjalan dengan pendekatan persuasif. 

Namun, situasi mendadak berubah ketika Ruwadi hendak diamankan dan dimasukkan ke dalam ambulans. 

Secara tiba-tiba, yang bersangkutan mengamuk dan melakukan penyerangan terhadap petugas di lokasi. 

Pelaku diketahui membawa sejumlah senjata tajam dan benda tumpul, di antaranya sabit, pisau daging, dan linggis. 

Dalam kejadian tersebut, Mochamad Faik terkena sabetan senjata tajam.

Korban sempat mendapatkan pertolongan pertama di Puskesmas Alian sebelum kemudian dirujuk ke RS Jenderal Soedirman. 

Namun, sekitar 30 menit setelah tiba di rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia. 

Baca juga: Akui Bukan ODGJ, Pemuda Perusak CCTV Jembatan Ampera Diamankan ke Polsek IB I Palembang

Mursiyah, ibu Ruwadi, mengungkapkan bahwa anaknya telah lama mengalami gangguan kejiwaan. 

Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung hampir 10 tahun dan memengaruhi perilaku sang anak dalam kehidupan sehari-hari. 
“Seringnya ya di luar, di Pasar Jadi, duduk-duduk begitu,” ujar Mursiyah, Kamis (5/2/2026).

Mursiyah menuturkan, selama berada di rumah, perilaku anaknya kerap tidak terkendali. 

Emosi mudah meledak dan ucapan yang keluar sering kali tidak beraturan, sehingga membuat keluarga hidup dalam rasa cemas. 

Ia mengaku terpukul dengan peristiwa yang menewaskan petugas Satpol PP Kebumen tersebut. 

Mursiyah menegaskan bahwa keluarga tidak pernah menginginkan kejadian tragis itu terjadi dan menyadari kondisi kejiwaan anaknya membuat yang bersangkutan tidak mampu berpikir secara normal. 

“Kami juga nggak mau sampai terjadi seperti ini. Namanya orang sakit, kadang nggak bisa mikir normal,” ucapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.