TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Meski kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai terjadi di sejumlah daerah di Provinsi Riau, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau hingga kini belum berencana menetapkan status siaga darurat Karhutla.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto mengatakan, sampai saat ini belum ada pembahasan khusus terkait penetapan status tersebut.
Hal ini karena kondisi cuaca di Riau masih bervariasi dan belum seluruh wilayah terdampak kemarau.
“Belum kita tetapkan, karena di beberapa daerah masih ada hujan,” kata SF Hariyanto singkat usai menghadiri rapat di Gedung Daerah, Pekanbaru, Kamis (5/2/2026).
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edi Afrizal, menjelaskan bahwa penetapan status siaga darurat Karhutla di tingkat provinsi memiliki syarat tertentu. Salah satunya, minimal harus ada tiga kabupaten atau kota yang lebih dulu menetapkan status siaga darurat.
“Hingga hari ini belum ada satu pun kabupaten atau kota yang menetapkan status siaga darurat Karhutla,” ujarnya.
Menurut Edi, Kabupaten Bengkalis memang telah menggelar rapat koordinasi terkait rencana penetapan status siaga. Namun, hingga kini Surat Keputusan (SK) resminya belum diterima BPBD Provinsi Riau.
“Mungkin masih diproses di bagian hukum. Dumai juga belum. Jadi sampai hari ini kami belum menerima SK penetapan status siaga dari kabupaten dan kota,” jelasnya.
Baca juga: Karhutla di Riau Capai 126 Hektare Hingga Awal Februari, Bengkalis Terluas
Baca juga: Angin Kencang dan Akses Jalan Jadi Kendala, 120 Personil Berjibaku Padamkan Karhutla di Pelalawan
Edi menambahkan, saat ini Riau mulai memasuki musim kemarau, meskipun belum merata di seluruh wilayah. Bahkan, pada tahun 2026 ini, musim kemarau di Riau diperkirakan akan terjadi dua kali.
“Sekarang ini kemarau tahap pertama. Nanti akan masuk musim hujan lagi, kemudian di pertengahan tahun masuk kemarau kedua yang durasinya lebih panjang,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Riau berencana mengundang pemerintah kabupaten dan kota untuk rapat koordinasi guna membahas langkah-langkah mitigasi dan pencegahan Karhutla.
Memasuki pekan pertama Februari 2026, total luasan Karhutla di Riau tercatat mencapai 126,22 hektare yang tersebar di sejumlah daerah. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 37,51 hektare.
Disusul Kabupaten Indragiri Hilir seluas 22 hektare, Kabupaten Pelalawan 21 hektare, serta Kota Dumai sekitar 12,50 hektare.
“Terbanyak memang terjadi di Bengkalis,” kata Edi Afrizal.
Selain itu, Karhutla juga dilaporkan terjadi di Kota Pekanbaru dengan luasan sekitar 8 hektare. Kabupaten Kepulauan Meranti, Siak, dan Kampar masing-masing sekitar 7 hektare. Sementara di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi, luasan kebakaran tercatat lebih dari 1 hektare.
“Untuk Kabupaten Rokan Hulu dan Rokan Hilir, sampai saat ini masih nihil Karhutla,” jelasnya.
Seiring masih terjadinya kebakaran di berbagai daerah, BPBD Riau kembali mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta lebih waspada dalam beraktivitas di lapangan.
Ia mengingatkan, kelalaian kecil seperti puntung rokok atau api yang tidak dipadamkan sempurna bisa memicu kebakaran hutan dan lahan yang lebih luas.
“Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Termasuk saat memancing atau berkegiatan di kebun, jika membuat api unggun atau bakar-bakar ikan, pastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan,” tegas Edi.
( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgiono)