TRIBUNNEWS.COM - Perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat (AS) di Abu Dhabi, dinodai dengan serangan udara.
Seperti diketahui, utusan Rusia dan Ukraina bertemu di Abu Dhabi sejak Rabu (4/2/2026) kemarin.
Perundingan ini dilakukan untuk menghentikan perang yang sudah berlangsung selama empat tahun.
Namun, perundingan tersebut telah ternodai oleh serangan udara dari Rusia maupun Ukraina.
Pasukan Rusia melancarkan serangan pesawat tak berawak di Kyiv pada Kamis (5/2/2026) pukul 02.00 pagi waktu setempat.
Kemudian, ledakan kedua terdengar lagi di Kyiv sekira pukul 04.15 waktu setempat.
Mengutip The Kyiv Independent, Layanan Darurat Negara Ukraina melaporkan bahwa kebakaran terjadi di sebuah gedung perkantoran berlantai empat di distrik Shevchenkivskyi.
Kerusakan juga dilaporkan di sebuah taman kanak-kanak di distrik Solomianskyi di kota tersebut.
Akibat serangan tersebut, sebanyak dua orang dilaporkan terluka.
Sebelumnya, Ukraina melakukan serangan udara di wilayah Belgorod pada Selasa (3/2/2026).
Dalam serangan tersebut, pasukan Ukraina berhasil merusak infrastruktur energi.
Baca juga: Klaim Trump: Rusia Sepakat Stop Sementara Serangan ke Ukraina
Gubernur wilayah Belgorod, Vyacheslav Gladkov, mengatakan 12 rudal dan tiga drone telah menghantam kota Belgorod selama 24 jam.
Serangan tersebut telah merusak fasilitas yang penting bagi berfungsinya jaringan listrik wilayah tersebut.
Menurut laporan The Moscow Times, sebanyak 19 rudal dan 104 drone lainnya telah menghantam wilayah yang lebih luas sejak Selasa.
"Tim teknisi listrik kami sedang berupaya mengatasi situasi ini secepat mungkin di tengah periode yang sangat sulit ini dengan suhu di bawah nol dan embun beku yang parah," kata Gladkov.
Penyedia layanan air di wilayah Belgorod, Vodokanal, mengatakan bahwa serangan rudal Ukraina telah melumpuhkan aliran listrik ke seluruh fasilitas pengambilan air, stasiun pompa, dan beberapa fasilitas pengolahan air limbah miliknya.
Vodokanal melaporkan serangkaian pemadaman air darurat dan memperingatkan bahwa bagian utara wilayah tersebut mengalami kekurangan air hingga Rabu pagi.
Ini adalah serangan Ukraina kedua terhadap infrastruktur energi wilayah Belgorod dalam sebulan terakhir.
Serangan sebelumnya pada 9 Januari 2026 lalu menyebabkan sekitar setengah juta penduduk Kota Belgorod tanpa listrik dan pemanas, dan sekitar 200.000 penduduk tanpa air selama beberapa hari.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa ia telah menerima laporan dari delegasi di Abu Dhabi terkait perundingan hari kedua.
Zelenskyy mengatakan bahwa Kyiv mengharapkan pertukaran tawanan perang baru dengan Rusia "dalam waktu dekat".
Baca juga: Trump: Putin Tepati Janji Gencatan Senjata Energi di Ukraina
Utusan AS, Steve Witkoff merinci tentang pertukaran yang direncanakan, yang menurutnya akan melibatkan 314 tahanan.
Menurut Witkoff, ini akan menjadi pertukaran pertama dalam lima bulan terakhir.
"Hasil ini dicapai dari perundingan perdamaian yang rinci dan produktif," kata Witkoff, mengutip ABC News.
"Meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, langkah-langkah seperti ini menunjukkan bahwa keterlibatan diplomatik yang berkelanjutan memberikan hasil nyata dan memajukan upaya untuk mengakhiri perang di Ukraina," lanjutnya.
Delegasi Ukraina, Rustem Umerov mengatakan bahwa "pekerjaan pada hari Rabu bersifat substantif dan produktif, dengan fokus pada langkah-langkah spesifik dan solusi praktis".
Pada Kamis pagi, Umerov memposting pesan yang menyatakan bahwa pertemuan telah dilanjutkan.
"Kami bekerja dengan format yang sama seperti kemarin: konsultasi trilateral, kerja kelompok, dan sinkronisasi posisi lebih lanjut," tulisnya.
Sementara itu, delegasi dari Rusia, Kiril Dmitriev mengatakan kepada wartawan setelah pembicaraan hari Rabu bahwa "tentu ada kemajuan, dan pergerakan maju yang baik dan positif".
Dmitriev juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai "para penghasut perang dari Eropa, dari Inggris", yang menurutnya "terus-menerus berusaha menghambat proses ini".
Baik Moskow maupun Kyiv menggambarkan putaran pertama pembicaraan trilateral bulan lalu sebagai konstruktif.
Di antara area perbedaan utama adalah nasib wilayah Donbas timur Ukraina, yang sebagian diduduki Rusia dan dari mana Moskow menuntut penarikan penuh militer Ukraina.
Yang juga sedang dibahas adalah kendali atas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Zaporizhzhia di Ukraina selatan, yang diduduki oleh pasukan Moskow sejak Maret 2022.
Begitu pula dengan jaminan keamanan Barat pasca-perang untuk Ukraina, yang menurut Kyiv tanpanya Moskow akan dapat melancarkan babak agresi baru di masa depan.
(Tribunnews.com/Whiesa)