Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Setelah puluhan tahun menjadi aspirasi masyarakat, pembangunan Jembatan Merah Putih di Lampung Timur akhirnya dipastikan mulai dilaksanakan pada Februari 2026. Proyek strategis ini sebelumnya sempat tertahan lantaran kondisi fondasi jembatan dinilai membahayakan keselamatan jika dipaksakan dilanjutkan.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan, percepatan pembangunan jembatan tersebut menjadi salah satu fokus pemerintah provinsi sejak dirinya dilantik pada Februari 2025.
“Banyak usulan lama yang tertahan. Salah satunya jembatan ini, yang aspirasi masyarakatnya sudah puluhan tahun. Kami dorong agar segera mendapat perhatian pemerintah pusat dan kabupaten,” kata Mirza, Kamis (5/2/2025).
Menurut Mirza, hasil survei Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) pada Agustus–September 2025 menunjukkan kondisi fondasi jembatan tidak lagi layak dilanjutkan. Sejumlah bagian fondasi mengalami kerusakan serius, mulai dari longsor hingga roboh.
“Fondasinya ada yang sudah rusak dan kekuatannya tidak maksimal. Kalau dipaksakan dilanjutkan, justru membahayakan keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah memutuskan menunda pembangunan sembari melakukan perencanaan ulang agar jembatan yang dibangun benar-benar aman dan berfungsi jangka panjang.
Mirza menjelaskan, total kebutuhan anggaran pembangunan Jembatan Merah Putih mencapai sekitar Rp 70 miliar. Sebelumnya, sekitar Rp 20 miliar telah digunakan untuk pembangunan fondasi dan struktur beton.
“Masih kurang sekitar Rp 50 miliar. Daripada dibangun tapi berisiko, lebih baik ditata ulang dari awal,” jelasnya.
Ia menegaskan, proyek tersebut tidak memungkinkan dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, mengingat keterbatasan APBD.
“APBD Lampung Timur sekitar Rp 200 miliar dan harus dibagi untuk banyak kebutuhan. Karena itu, dukungan pemerintah pusat menjadi kunci,” kata Mirza.
Gubernur Lampung pun menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI atas dukungan pemerintah pusat melalui program Jembatan Merah Putih, yang dinilai mulai menjawab kebutuhan infrastruktur masyarakat di daerah.
“Program ini berjalan sesuai harapan masyarakat. Kami berharap pelaksanaannya nanti benar-benar memberi manfaat besar bagi konektivitas dan ekonomi Lampung Timur,” pungkasnya.
( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama )